Selasa, 02 Juni 2020

Janji Allah SWT Itu Pasti

Photo by: Pinterest


Aku merasa Allah sangat baik padaku. DIA benar-benar menolongku, janji Allah SWT itu pasti seperti pada salah satu ayat yang ada di surah Al-Insyirah “Inna ma’al usri yusra” “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dan aku benar-benar merasakannya.

Sebenarnya aku adalah orang yang sangat pemalu dengan orang baru atau orang yang jarang kutemui. Aku juga penakut. Saat di kampus aku pernah menjadi sekretaris di salah satu himpunan dan biasanya jika ada keperluan dengan himpunan lain aku akan mengajak salah satu temanku dan membiarkan temanku yang berbicara dengan orang itu.

Namun, entah kenapa aku merasa Allah SWT membantu dan menuntunku untuk melakukan berbagai cara agar bisa bertemu dengan narasumberku. Kaki ini terus berjalan tanpa rasa takut. Berkat perkataan ayah juga aku yang tadinya sudah merasa pupus harapan menjadi kembali semangat.

Aku banyak belajar dari pengalaman yang kulalui itu, aku belajar untuk menjadi orang yang lebih percaya diri, mempercayakan semua pada Allah SWT, dan menjadi orang yang tidak mudah mengeluh. Aku percaya jika Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya yang meminta.

Aku merasa selama proses PI itu aku berubah menjadi orang yang mulai belajar untuk bisa bertindak sendiri di depan orang lain. Aku juga mulai mengurangi sifat pemaluku yang terlalu berlebihan itu.

Ini adalah salah satu ceritaku selama perjalanan PI yang tidak terlupakan. Mungkin di lain waktu aku akan bercerita pengalaman lainnya selama melaksanakan PI. Terima kasih sudah membaca ceritaku. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kalian dan jangan lupa untuk selalu bersyukur. :)

Link cerita pertama Klik di sini
Link cerita kedua Klik di sini
Link cerita ketiga Klik di sini

Share:

Perkataan Ayah dan Kebaikan Allah SWT Padaku

Photo by: Pinterest


Selesai sholat aku teringat pada perkataan ayahku, “Jadilah orang yang sedikit bicara, tetapi banyak bertindak”.  Hal itu membuatku berpikir ulang, jika aku melapor pada redaktur bahwa aku tidak berhasil bertemu dengan narasumber, itu berarti aku terlalu banyak bicara dan hanya beralasan.

(Karena perkataan ayahku itu juga saat merasa kesulitan aku jarang bercerita pada teman atau sekadar berbagi kesulitan di media sosial. Menurutku ketika bercerita atau berbagi kesulitan di media sosial hanya akan membuang waktu yang kumiliki. Akan lebih baik jika aku gunakan waktu itu untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang kuhadapi. Jika ingin berbagi biasanya aku akan bercerita jika memang masalah yang kumiliki sudah selesai atau aku akan meminta bantuan saat merasa benar-benar tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri)

Akhirnya kuputuskan menuju gedung yang berlokasi di Jakarta Selatan tersebut. Aku masih ingat selama di perjalanan aku merasa sangat gelisah. Entah apakah aku bisa bertemu dengan narasumberku atau tidak, tetapi aku benar-benar menyerahkan semuanya pada yang di atas. Aku berharap DIA memberikan yang terbaik. 

Selama di perjalanan dalam hatiku hanya terucap kata “La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim” yang aku tahu artinya adalah “Tidak ada upaya dan kekuatan selain atas pertolongan Allah SWT” berulang kali. Saat sedang gelisah aku juga selalu membaca 3x surah Al-Ikhlas, 3x surah Al-Falaq, dan 3x An-Naas. Aku pernah membaca dan salah satu temanku (ia adalah salah satu teman yang sudah dekat denganku mulai pertama masuk kuliah) pernah berkata jika sedang gelisah bacalah surah-surah itu agar lebih tenang. Benar saja itu semua benar-benar membuat hatiku yang tadinya gelisah menjadi lebih tenang dan bisa berpikir rasional.

Sesampainya di sana aku sempat merasa bingung karena sama seperti tempat sebelumnya, ini adalah kali pertama aku berkunjung ke gedung itu. Di sana terdapat banyak gedung dan aku tidak mengetahui di gedung mana narasumberku berada. (Entah karena kurangnya informasi yang kucari atau memang tidak ada informasi tentang bagian yang dimiliki narasumberku di sana)

Allah benar-benar menolongku karena tiba-tiba aku teringat perkataan dokter yang kutemui di RS. Menurutnya narasumberku praktik di salah satu gedung kesehatan milik pemerintah. Akhirnya aku memutuskan bertanya pada satpam lokasi gedung yang biasa digunakan oleh dokter yang melakukan praktik. Ia menunjuk sebuah gedung dan aku segera menuju ke sana.

Setibanya di sana untuk masuk ke gedung aku harus melapor lalu petugas memberikan beberapa pertanyaan tentang ada keperluan apa aku ke sana dan baru memperbolehkanku masuk. Namun, masalah mulai timbul setelah aku masuk. Aku tidak mengetahui di mana ruangan narasumberku berada. Mereka yang kutanya saat melapor tadi mengatakan tidak mengenal narasumberku.

Sebenarnya aku mulai merasa bingung, tetapi aku tidak patah semangat. Aku berjalan selangkah demi selangkah dan melihat-lihat setiap ruangan yang kulewati. Setelah beberapa lama berjalan tiba-tiba seorang laki-laki berumur kira-kira 30 tahun-an menyapaku. Mungkin ia melihat aku yang sedang kebingungan. Akhirnya aku bertanya apakah ia mengenal narasumberku. Ahh lagi dan lagi Allah menolongku ternyata orang itu mengenal narasumberku. Ia memberikan kontak dan menunjukkan ruangan narasumberku berada.

Setelah berbagai kejadian kulalui hari itu, akhirnya aku bisa mewawancara narasumber yang kucari. Ia juga sangat ramah dan mau menerimaku dengan sangat baik. Setelah selesai aku kembali ke rumah dan bersiap untuk membuat naskah tugas hari itu.

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini

Link cerita pertama Klik di sini
Link cerita kedua Klik di sini
Share:

Pencarian Narasumber & Bertemu Dengan Orang Baik

Photo by : Pinterest

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, tanpa pikir panjang aku mulai bersiap dan menuju RS tersebut. Sebenarnya aku bisa mengendarai motor,tetapi karena aku tidak mengetahui lokasi RS dengan baik maka aku memutuskan menggunakan ojek online sehingga tidak perlu membuang waktu mencari lokasinya.

Itu adalah kali pertama aku berkunjung ke RS tersebut. Ketika tiba aku terkejut karena tenyata itu adalah RS yang sangat besar. Sebagai mahasiswa yang baru melakukan magang selama 4 hari dan ini adalah tugas pertama melakukan wawancara saat PI, aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara agar bisa bertemu seorang narasumber yang sudah kuketahui namanya, tetapi tidak pernah bertemu dan bicara dengannya.

Tanpa pikir panjang kakiku mulai melangkah menuju pintu masuk RS. Aku melihat begitu banyak orang di sana dan tidak tahu harus bertanya pada siapa.  Akhirnya aku mulai bertanya pada salah satu karyawan yang berada di pusat informasi, tetapi sayangnya ia tidak mengenal dokter yang aku cari.

Lalu aku mencoba bertanya dengan karyawan lain yang sedang duduk di belakang meja pusat informasi lain. Ternyata ia juga tidak mengenal dokter yang kumaksud (menurutku mereka tidak mengetahui karena itu adalah RS besar dan ada banyak dokter jadi mereka tidak hafal semua dokter di sana). Namun, aku diarahkan untuk menuju ruangan yang biasa digunakan oleh dokter spesialis seperti narasumberku.

Saat sampai di ruangan tersebut aku bertemu salah satu wanita berkerudung. Aku bertanya apakah ada dokter dengan nama yang kuberikan. Lalu wanita itu bilang jika dokter yang aku maksud hanya praktik di RS itu pada hari tertentu dan di hari lainnya berada di salah satu gedung kesehatan milik pemerintah. (Pastinya saat berbicara padaku beliau menyebutkan nama lokasi yang sebenarnya, tetapi di sini aku akan menulisnya menjadi gedung kesehatan milik pemerintah yaa hehe)

Aku sempat bercerita jika aku memiliki kontaknya, tetapi tidak bisa kuhubungi dan memutuskan bertanya kontak narasumberku itu (karena aku berpikir jika kontak yang ada sudah tidak aktif),tetapi wanita itu menolak memberikan. Aku paham mungkin ia tidak ingin memberikan kontak seseorang kepada orang asing.

Namun, aku sangat berterima kasih pada wanita yang ternyata juga seorang dokter itu. Ia sangat ramah dan mau menjawab pertanyaanku padahal saat itu kulihat ia sedang sibuk dengan pekerjaanya. Berkat beliau juga setidaknya aku mendapatkan petunjuk keberadaan narasumberku. (Saat itu aku berpikir ternyata masih ada orang sebaik dan seramah itu. Padahal aku datang tanpa membawa surat tugas, karena memang belum jadi, dan aku tidak memiliki kartu identitas dari media)

Akan tetapi, yang beliau tahu narasumberku sedang melakukan pelatihan di luar kota, yang entah sudah selesai atau belum, sehingga ada kemungkinan nomor tidak dapat kuhubungi karena ia matikan selama pelatihan.

Setelah mendengar itu sebenarnya aku mulai patah semangat dan berpikir jika narasumberku mungkin memang masih mengikuti pelatihan sehingga tidak dapat kuhubungi. Namun, ada kemungkinan juga jika ia sebenarnya sudah menyelesaikan pelatihan dan berada di tempat ia bertugas saat ini.

Selain itu, aku berpikir apakah lebih baik aku kembali ke rumah dan melaporkan pada reakturku bahwa narasumber yang ia berikan tidak ada di tempat atau aku harus bagaimana. Aku merasa sangat bimbang saat itu. Entahlah saat itu kepalaku benar-benar menjadi sangat pusing dan dipenuhi berbagai pertanyaan.

Akhirnya karena sudah tiba waktu Dzuhur maka kuputuskan mencari mushala untuk melaksanakan sholat. 

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini


Link cerita sebelumnya Klik di sini
Share:

Pengalaman Tak Terlupakan


Photo by : Pinterest
Praktik Industi atau biasa orang bilang magang merupakan salah satu proses perkuliahan yang tidak akan terlupakan selama hidupku. Itu karena aku merasa diriku banyak tertantang selama proses itu.

Salah satu hal yang kuingat adalah ketika aku harus mencari keberadaan salah satu narasumber untuk tugas PI yang diberikan oleh redaktur pembimbingku hari itu. Oh iya, sebagai informasi saat PI aku difokuskan pada bidang kesehatan (walapun kadang aku juga menulis di kanal lain) sehingga aku lebih sering memiliki tugas wawancara dokter atau psikolog.

Semua bermula pada suatu malam, di hari ketiga aku melaksanakan PI. Saat itu redakturku memberikan tugas agar aku membahas salah satu sistem pengobatan, yaitu "Naturopati". Ketika membaca pesan itu aku merasa sangat gelisah karena aku tidak menguasainya. Jangankan menguasai pembahasan, mendengar kata itu saja sepertinya aku tidak pernah :(

Sebenarnya redakturku sudah memberikan TOR atau hal yang harus kubahas dalam tulisanku tentang "Naturopati", tetapi aku harus bisa mengembangkan TOR agar tidak kekurangan bahan saat menulis naskah.

Oh iya fyi aku ini orangnya mudah panik apalagi harus melakukan hal yang tidak kurencanakan jauh hari. Tugas itu sangat mendadak menurutku (malam dikabari,besok harus sudah melakukan wawancara) dan aku tidak familiar dengan pembahasannya akhirnya pada malam itu juga aku mulai mempelajari apa itu "Naturopati" dan mulai membuat daftar pertanyaan.

Lalu pada tugas ini ia sudah menetapkan siapa narasumber yang harus kuwawancara dan memberikan kontak mereka. Narasumberku berjumlah dua orang, mereka adalah dokter spresialis yang sudah sering melakukan wawancara baik di media tempatku PI atau media lain.

Ketika hari esok tiba aku mulai menghubungi kedua dokter tersebut. Wawancara pertama berjalan dengan lancar. Aku memberikan pertanyaan yang sudah kusiapkan pada malam itu dengan baik.

Namun, masalah mulai muncul ketika nomor dokter lain ternyata tidak dapat kuhubungi. Ketika melaporkannya kepada redaktur, beliau mengarahkanku untuk menemuinya di salah satu rumah sakit di wilayah Jakarta Barat tempat beliau melakukan praktik.

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini
Share: