![]() |
| Photo by : Pinterest |
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, tanpa
pikir panjang aku mulai bersiap dan menuju RS tersebut. Sebenarnya aku
bisa mengendarai motor,tetapi karena aku tidak mengetahui lokasi RS dengan baik
maka aku memutuskan menggunakan ojek online sehingga tidak perlu membuang
waktu mencari lokasinya.
Itu adalah kali pertama aku berkunjung ke RS tersebut.
Ketika tiba aku terkejut karena tenyata itu adalah RS yang sangat besar. Sebagai
mahasiswa yang baru melakukan magang selama 4 hari dan ini adalah tugas pertama
melakukan wawancara saat PI, aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara
agar bisa bertemu seorang narasumber yang sudah kuketahui namanya, tetapi
tidak pernah bertemu dan bicara dengannya.
Tanpa pikir panjang kakiku mulai melangkah menuju pintu
masuk RS. Aku melihat begitu banyak orang di sana dan tidak tahu harus bertanya
pada siapa. Akhirnya aku mulai bertanya
pada salah satu karyawan yang berada di pusat informasi, tetapi sayangnya ia tidak
mengenal dokter yang aku cari.
Lalu aku mencoba bertanya dengan karyawan lain yang
sedang duduk di belakang meja pusat informasi lain. Ternyata ia juga tidak
mengenal dokter yang kumaksud (menurutku mereka tidak mengetahui karena itu
adalah RS besar dan ada banyak dokter jadi mereka tidak hafal semua dokter di
sana). Namun, aku diarahkan untuk menuju ruangan yang biasa digunakan oleh
dokter spesialis seperti narasumberku.
Saat sampai di ruangan tersebut aku bertemu salah satu wanita
berkerudung. Aku bertanya apakah ada dokter dengan nama yang kuberikan. Lalu
wanita itu bilang jika dokter yang aku maksud hanya praktik di RS itu pada hari
tertentu dan di hari lainnya berada di salah satu gedung kesehatan milik
pemerintah. (Pastinya saat berbicara padaku beliau menyebutkan nama lokasi yang
sebenarnya, tetapi di sini aku akan menulisnya menjadi gedung kesehatan milik
pemerintah yaa hehe)
Aku sempat bercerita jika aku memiliki kontaknya,
tetapi tidak bisa kuhubungi dan memutuskan bertanya kontak narasumberku itu
(karena aku berpikir jika kontak yang ada sudah tidak aktif),tetapi wanita itu
menolak memberikan. Aku paham mungkin ia tidak ingin memberikan kontak
seseorang kepada orang asing.
Namun, aku sangat berterima kasih pada wanita yang
ternyata juga seorang dokter itu. Ia sangat ramah dan mau menjawab pertanyaanku
padahal saat itu kulihat ia sedang sibuk dengan pekerjaanya. Berkat beliau juga
setidaknya aku mendapatkan petunjuk keberadaan narasumberku. (Saat itu aku
berpikir ternyata masih ada orang sebaik dan seramah itu. Padahal aku datang tanpa
membawa surat tugas, karena memang belum jadi, dan aku tidak memiliki kartu
identitas dari media)
Akan tetapi, yang beliau tahu narasumberku sedang
melakukan pelatihan di luar kota, yang entah sudah selesai atau belum, sehingga
ada kemungkinan nomor tidak dapat kuhubungi karena ia matikan selama pelatihan.
Setelah mendengar itu sebenarnya aku mulai patah
semangat dan berpikir jika narasumberku mungkin memang masih mengikuti
pelatihan sehingga tidak dapat kuhubungi. Namun, ada kemungkinan juga jika ia
sebenarnya sudah menyelesaikan pelatihan dan berada di tempat ia bertugas saat ini.
Selain itu, aku berpikir
apakah lebih baik aku kembali ke rumah dan melaporkan pada reakturku bahwa
narasumber yang ia berikan tidak ada di tempat atau aku harus bagaimana. Aku merasa
sangat bimbang saat itu. Entahlah saat itu kepalaku benar-benar menjadi sangat pusing dan dipenuhi berbagai pertanyaan.
Akhirnya karena sudah tiba waktu Dzuhur maka kuputuskan mencari mushala untuk melaksanakan sholat.
Bersambung ke link berikut ini Klik di sini
Link cerita sebelumnya Klik di sini



0 komentar:
Posting Komentar