Sabtu, 30 Januari 2021

Ayah (Setelah Ia Kembali)


Setiap orang sudah memiliki waktu pulangnya masing-masing walaupun mungkin caranya berbeda-beda. Ayahku terlihat sehat bugar, tapi dengan sakitnya yang tak dirasa, Allah katakan sudah waktunya maka ayahku pergi disaat itu. Ada juga orang yg sudah sakit bahkan bertahun-tahun atau sakit sangat kritis, tapi Allah katakan belum waktunya maka jd sehatlah dia dan Allah jadikan sakitnya penggugur dosa. 

Meskipun mungkin bukan karena sakitnya yang semakin lama semakin membuatnya lemah, tetap saja hari itu pukul segitu ayah memang sudah harus, bahkan sudah pasti akan kembali pada zat yang ia cintai. Namun, Allah menetapkan sakitnya sebagai jalan bagi ayah untuk bertemu dengan Nya☺️

Selalu berusaha kuhilangkan kata, "Seandainya" dan selalu kutanam kata, "Takdir" dalam pikiranku agar tidak ada rasa kecewa dan selalu bisa mensyukuri semua ketetapan-Nya. Karena menurutku hidup ini bukan tentang menyesali, tetapi tentang memperbaiki. 

Aku merasa keadaan ini membuatku berada di titik "rendah". Namun, tak pernah kukatakan ini menjadi masa "terendahku" karena aku tak tau bagaimana kehidupanku selanjutnya akan berjalan. 

Banyak hikmah yang diberikan Allah dari kepergian ayahku. Yaa banyak sekali pelajaran yang Dia berikan. Bagaimana aku bisa mengenal diriku lebih dalam, memahami arti dunia yang sesunggunya, tau siapa siapa yang menyayangi kami tanpa sandiwara, dan banyak lagi. 

"Di balik kesulitan ada kemudahan" kalimat yang juga selalu membuatku merasa bersyukur pada setiap peristiwa yang kulalui. Aku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada semua pihak yang dengan ketulusan hati turut andil dalam perjalananku melepas ayah.

Kuucapkan pada ibuku, satu-satunya alasan untukku tetap kuat menjalankan kehidupan hingga akhir. Terima kasih sudah menjadi kawanku untuk melalui ini. Meskipun tubuh kami masih begitu ringkih pasca sakit yang juga belum sembuh benar, tetapi atas izin Allah aku dan wanita hebatku bisa melalui ini semua. Atas izin Allah juga aku yakin kami bisa bangkit, kuat, dan melalui sisa-sisa hidup kami dengan baik🤗 

Untuk kedua kakak laki-lakiku yang begitu hebat. Jarak yang memisahkan tak menghalangi kami untuk saling menguatkan dari jauh. Terima kasih 🤗
Selama hayatnya ayah selalu memberikan nasehat2 baik pada anak-anak dan istrinya. Pesan ayah, kami harus selalu saling me-support, kompak, saling menyayangi dan menjaga.

Ayah juga sering berkata, "Kalau nanti kamu jadi orang yang berlebih kamu harus membantu saudaramu yang kekurangan, tetapi kalau kamu berkekurangan jangan pernah mengharapkan apapun dari saudaramu yang berlebih," pesannya. InsyaAllah akan selalu kami ingat dan kami jalani. 

Kedua tanteku yang menunjukkan kasih sayangnya pada kami. Meskipun kami hanya mengharapkan mereka hadir ke pemakaman untuk mengetahui lokasi, tetapi tanteku memberikan lebih. Mereka tabur makam ayah dengan air mawar dan bunga-bunga. Ia dokumentasikan prosesi pemakaman ayah agar kami yang jauh dapat melihatnya juga.  "Alhamdulillah kemarin kita dimudahkan banget deh. Lokasi makam ayah juga deket banget dari jalan besar jd mudah ingetnya," katanya mengabarkan. 

Tanpa diminta mereka juga mengirim berbagai macam barang untuk meningkatkan kesehatan aku dan ibu. Aah tante, terima kasih. Sunggu tak ada hal terbaik yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan kalian selain doa pada sang pencipta. Semoga kalian dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Berkah selalu kehidupan kalian di dunia dan bahagia selalu di dunia dan akhirat-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal Allamiin.

Teman masa kecil ibu dan tante juga sangat berperan dalam prosesi ini. Semoga bantuan berupa benda dan tenaga yg kalian berikan menjadi berkah untukmu dan keluarga. Dan semoga Allah membalas lebih dari kebaikan yg kalian beri kepada keluarga kami.

Kudengar satu bulan setelah kembalinya ayah, Pemilik Semesta memanggil kawan ibu yang ikut mengantar ayah. Innalillahi wainnailaihi rojiun.. Semoga kebaikan yang selalu ia tunjukkan pada kawan2nya bisa membawanya ke tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin ya rabbal allamiin.

Aku juga mengucapkan terima kasih pada keluarga besar ayah. Adik, kakak, ibu, dan ponakan2 ayah. Menurutku mereka juga sosok-sosok yang sangat hebat. Allah SWT sedang menaikkan derajat keluarga besar kami dengan mengambil sosok ayah yg kami kasihi. Dia juga menguji dengan sakit yang datang ke tubuh kami. Meski begitu, melalui panggilan telpon kami semua masih saling menguatkan. Terima kasih sudah kuat bersama. Terima kasih juga karena mau saling memahami. InsyaAllah ayah sudah bahagia bertemu Kakung di sana. Ikhlas, kita harus ikhlas🤗

Terima kasih tak terhingga juga kusampaikan untuk semua pihak yang membantu hingga proses pemakaman ayah. Para tetangga yang selalu menguatkan dan membantu mengadakan tahlil hari ke 1-7 hingga 14, meskipun aku dan ibu tak bisa membantu secara langsung. Kawan-kawan dekatku dan semua yang mengucapkan bela sungkawa serta memberikan doa terbaik untuk ayah, yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Serta para tetangga dan sanak saudara yang setiap hari menawarkan bantuan untuk aku dan ibu. Bukan kami menolak, tapi kami sudah terlalu merepotkan dan alhamdulillah meski saling berjauhan kami bisa menghandle kebutuhan rumah dll. Terima kasih tak terhingga untuk kepedulian tulus kalian.

Terakhir kuucapkan terima kasih untuk diriku sendiri. Yaa, untukku. Terima kasih karena diri ini bisa menjalankan tanggung jawab yang diberikan kedua kakakku untuk menjaga & menguatkan ibu dengan baik. Terima kasih karena sudah bisa mengesampingkan kesedihan untuk menguatkan orang-orang yang disayang. Terima kasih karena bisa ikhlas menerima kepergian sosok penting dalam hidupmu. Terima kasih🤗

Kalau kau bertanya bagaimana keadaanku sekarang, jawabannya aku masih bermimpi. Kulalui hari demi hari bagaikan mimpi. Hidupku sangat hampa. Ketika tidur mata ini nggan untuk terpejam, "Sekarang kau sedang apa,Yah?" Pertanyaan yg selalu keluar dalam hati dan selalu dengan air mata. Terputar kenangan-kenanganku bersama ayah ketika mata ini hendak dipenjamkan. Ketika bangun pun tubuh ini rasanya tak juga ingin bangkit. Setiap malam ayah datang ke mimpiku dan aku bangun dengan air mata di wajah. Namun, sayang tak semua mimpi kuingat.

Ayah, ketika aku sedang membaca kitab suci, kuingat saat kau selalu tiba-tiba datang duduk di sebelahku sambil memperbaiki bacaanku. Sekarang setelah kau pergi, di tengah bacaan aku hanya bisa meneteskan air mata. Ketika sedang sibuk membuat masakan di dapur, aku selalu menunggumu datang dan bertanya, "Lagi masak apa,Neng?". Namun, sekarang hanya ada suaramu dalam ingatan. Ketika tengah malam datang selalu kutunggu kau membangunkanku untuk melaksanakan sholat malam, tapi sekarang hanya ada suara alarm yang memanggilku. Saat sedang olahraga di kamar, dari balik cermin selalu kutunggu kau datang dan berkomentar sambil bergurau, "Waduh anak ayah mau jadi atlet nih," katamu sambil tertawa. Sekarang ketika kulihat cermin tak ada dirimu, hanya ada kau di bayanganku,Ayah. Ketika aku sedang memainkan ponselku di kamar selalu kutunggu kau datang mengintip sambil menunjukkan wajah konyolmu, sekarang itu hanya sebuah angan-angan. Ah ayah setiap apa yang kukerjakan selalu hadir wajahmu dalam ingatan. 

Aku masih merasa kau ada di sini, Yah. Saat aku baru mengetahui tentang suatu informasi selalu terbesit dalam hati, "Ah nanti mau cerita ke ayah." Namun, buru-buru aku sadarkan diri bahwa sekarang kau sudah tak ada di sampingku lagi😔 Ayah, rasanya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan padamu. Tentang pengalamanku saat karantina, tentang berapa banyak juz Al-Quran yang berhasilku baca hari ini, tentang bagaimana kondisi badanku saat ini, dan banyak lagi.

Mungkin orang melihatku kuat, tapi sebenarnya aku merasa sangat lemah. Aku ikhlas menerima kepergian ayah, hanya tubuhku butuh pembiasaan. Awal kepergian ayah kesedihan selalu kupendam, tak pernah kutunjukkan meski saat sendiri. Itu karena kupikir kesedihanku tak ada artinya. "Yang harus kulakukan adalah menguatkan ibu," kataku dalam hati. Bahkan saat medengar berita kepergian ayah air mataku seperti nggan menetes. Hanya sesekali pipiku basah karenanya.

Hanya saja saat itu tubuhku tak menerima. Ketika kulihat kembali wajah ayah dalam album foto, perutku mual, seperti asam lambungku naik tak tertahankan, kepalaku pusing, badanku lemas. Mungkin itu lah arti kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang tak pernah kukeluarkan. 

Semakin hari aku mulai bisa mengendalikan diriku, aku mulai bisa menangis. Beberapa kali aku menangis di depan kakak dan ibuku. Namun, ibu dan kedua kakakku juga merasakan kesedihan yang sama, "Mana boleh aku menambah kesedihan mereka," kataku dalam hati. Maka aku lebih sering meluapkan kesedihanku pada zat yang maha tau. Yaa, ketika tak ada siapapun disampingku dan ketika aku sedang mengahadap Tuhanku maka itulah waktu terbaik untukku meluapkan kesedihan. 

Mungkin ada orang yang menilai suatu keikhlasan dari seberapa lama ia menunjukkan kesedihan, tetapi menurutku itu tidak tepat. Seikhlas apapun seseorang ketika orang yang ia sayang pergi, tetap akan ada masa ia akan terus menerus menangis. Kesedihan menghilang bukan sampai rasa ikhlas itu tiba karena ikhlas bisa dirasa bahkan ketika peristiwa masih di depan mata. Aku merasakannya. Namun, kurasa tangisan akan menghilang ketika tubuh sudah siap menerima. Yaa, ketika tubuh terbiasa kupikir tangis juga akan mereda.

Dulu aku selalu bertanya dalam hati, "Kenapa orang yang ditinggal sanak saudara bertemu Rabb nya harus merasa sedih? padahal ia tau orang yang ia sayang sudah bahagia karena tak akan merasakan akhir zaman yang kejam." Namun, setelah aku merasakan ternyata seikhlas apapun melepas sosok yang disayang, semua orang pasti akan meneteskan air mata. Bahkan dari buku yang kubaca, Nabi Muhammad SAW saja masih menangis ketika Khadijah ra, istri tercintanya wafat. Namun, yang dilarang adalah menangis hingga meratap.

Hal yang menurutku berat adalah ketika aku melalui fase pembiasaan. Yaa, sepertinya sepanjang hidupku tak ada sela tanpa sosok ayah di dalamnya. Karena hanya ia yang selamanya akan menjadikankku sebagai prioritas, menerimaku tak kenal waktu, membantuku saat sulit, menemaniku saat takut.

Ah ayah, aku sangat rindu. Sekarang kau sudah pergi. Sudah  tak ada lagi laki-laki penjagaku sepanjang masa, tak ada lagi ia yang menjadi tempatku mengadu, yang setia mendengarkan cerita tak pentingku. Ia yang selalu siap membantuku ketika dalam kesulitan dan ketakutan. Saat lemah tak ada lagi sandaranku yang kokoh, tak ada lagi ia yang menjadikan hidupku sebagai prioritasnya, yang memahamiku ketika marah, tetap meyayangiku meski aku sering menunjukkan wajah kesal, yang mendengar keluh kesahku tanpa ada perdebatan. Ayahku yang selalu menerima pendapatku, yang menjadi pembelaku saat keadaan apapun. Ia sudah meninggalkanku sendiri. Yaa sendirian😢

Namun, aku tau kau pergi bukan tanpa alasan,Ayah. Kau tinggalkan aku untuk kembali dan bertemu zat yang sangat kau cintai, Allah SWT. Kau meninggalkanku juga untuk bertemu ayahmu. Selesai sudah kerinduan yang selama ini kau simpan. InsyaAllah sekarang kau sudah bahagia bertemu Kakung yang juga sudah lama menunggumu di sana. 

Selama di dunia ayah selalu mengatakan pada anak-anak dan istrinya bahwa tujuan hidup kita di dunia hanya satu, yaitu kampung akhirat. Maka itu membuatku kuat kembali untuk menjalankan sisa-sisa hidupku di sini. Sekarang adalah waktu bagiku untuk menunggu. 

Aku akan selalu menunggu waktu itu tiba, Ayah. Yaa, saat-saat ketika ayah menyambutku dan berkata, "Assalamualaikum anak cantik," sambil memelukku dengan erat dan tersenyum dengan sangat gembira😊🤗 . 

The End.



Share:

Kamis, 28 Januari 2021

Ayah (Kembali) part 2

 


Hingga sekitar pukul 11 malam aku hanya berdua bersama ibu. Menunggu di kursi yang sama sampai ayah diletakkan di kamar jenazah. Yaa, dua wanita yang sedang dalam keadaan belum sembuh total dari sakitnya harus saling menguatkan. 

Keadaan membuatku tak pernah berharap seseorang datang untuk membantu atau menguatkan kami. Itu karena aku paham tak memungkinkan untuk sanak saudara datang ke rumah sakit. Mereka hanya bisa memberi semangat kepada kami melalui panggilan telpon. Aku juga merasa bisa melakukan semuanya sendiri dan alhamdulillah nya kami bisa melewatinya berdua. 

Namun, kebingungan mulai muncul saat lokasi pemakaman ayah dikabarkan oleh perawat. Ternyata ayah dimakamkan di daerah Jakarta Barat. Sangat jauh dari jangkauan kami. Awalnya aku ingin memaksakan diri ke sana menggunakan motor. Namun, setelah kupikir sepertinya tidak memungkinkan karena kondisi kami belum sehat benar dari sakit. 

Saat itu kami sangat membutuhkan seseorang untuk menghadiri pemakamkan ayah. Yaa, hanya untuk mengetahui lokasi secara pasti, tidak lebih.

Kuhubungi adik ibu, meminta bantuan agar suami tante bisa hadir ke pemakaman besok. Namun, ternyata suami kedua tanteku sedang dalam keadaan tidak sehat. "Udah, Mba tenang aja biar fokus aja sama yang di sana, masalah ini nanti tante atur insyaAllah pasti ada yang hadir besok," katanya melalui telpon. 

Akhirnya keesokan harinya kedua tanteku lah yang menghadiri pemakaman ayah. Meskipun dengan beberapa hambatan. Kebetulan sekali mobil tanteku sedang rusak karena ada kabel yang digigit tikus. Akhirnya ia mencari mobil yang bisa digunakan. MasyaAllah nya ada teman masa kecil mereka yang menawarkan mobil pribadinya. Salah satu temannya juga bersedia mengantar karena  pernah ke sana dan lebih paham lokasi di sana. Padahal ia bukanlah si pemilik mobil. 

MasyaAllah, dibalik takdir ini terus menerus kami bersyukur pada Nya. Terus menerus Allah tunjukan pada kami orang-orang tulus berhati baik. Janji Allah itu pasti, "Dibalik kesulitan ada kemudahan." Aku merasakannya.

Selama menunggu, beberapa kali kawan ibu datang mengucapkan turut berduka. Saat itu juga sempat kami berbincang singkat dengan perawat dan pekarya yang mengurus ayah. "Alhamdulillah bapak gampang banget,Bu. Tadi abis sholat, terus lg zikir tiba tiba lemes abis itu tiduran langsung ga ada," kata  perawat. "Bersih,Bu badan bapak," tambah pekarya di sana. 

Beberapa minggu setelah kepergian ayah, ibu bertemu dengan bapak yang memandikan ayah, "Bersih banget,Bu badannya. Ga ada kotoran sama sekali, kayanya bapak udah bersih bersih sendiri deh sebelumnya," ceritanya. MasyaAllah di akhir hayatnya pun ayah juga tak merepotkan banyak orang☺️

Meskipun kami tidak bisa melihat secara langsung, tetapi dengan senang hati ada yg mau membantu kami untuk memotret ayah terakhir kalinya. Ketika kulihat beberapa foto ayah setelah dimandikan dan sesudah dikafani benar saja, ayah sedang tidur, tidak tergambar rasa sakit pada wajahnya. Benar-benar seperti ayah saat sedang tidur. Wajahnya bersih. Aku yakin kau pergi begitu tenang ayah. Itu benar-benar membuat kami kuat🤗

Setelah ayah sudah berada di kamar jenazah, aku dan ibu diajak berbincang dengan bapak yang memandikan ayah. Seorang marinir dan ternyata mengenal ayah dengan baik. Ternyata ia adalah seorang ustad. Ia menguatkan kami, meyakinkan semua insyaAllah sesuai syariat Islam. Meskipun mungkin tidak 100% karena keadaan, tapi mendekati. MasyaAllah, lagi dan lagi Allah menunjuk orang baik untuk kami😭

Ketika kami pamit pulang ia bertanya, "Bapak ga ada yang nungguin,Bu?" 

"Ga ada,Pak gimana ya?" Kataku. 

"Yaudah gapaapa, ibu sama adek nya pulang aja. Ada saya sama Pak.....ko jaga malam ini," katanya.

Akhirnya kami pulang. Aku mengendarai motor menembus dinginnya angin malam, di tengah jalanan yang sepi. Kembali kerumah untuk pertama kalinya tanpa ada sosok ayah yang menunggu kepulangan kami. 

Yaa, biasanya ketika aku dan ibu sedang bepergian, selalu ada ayah di rumah yang menunggu kami. Ntah sambil menonton televisi dan duduk di kursi biru nya, atau menunggu sampai tertidur di kamarnya.

Sampai di rumah kukatakan pada ibu, "Malam ini harus tidur yaa. Ga boleh ngga. Biar besok sehat," kataku. "Iya," jawab ibu.

Tak banyak kata keluar dari mulut kami malam itu. Setelah membersihkan badan kami tidur. Namun, malam itu terasa sangat sunyi, tiba-tiba dadaku berdetak dengan kencang. Aku nelangsa seketika. Terputar semua kenangan-kenanganku bersama ayah dalam otak. Aku tak bisa memejamkan mata. Air mata saat itu juga seperti tak bisa keluar, hanya dada yang terasa sesak.

Ibu dan aku tidur di kasur yang sama. Kudengar ibu sudah berdengkur, beberapa menit kemudian kulihat dia sedang termenung. Yaa, kami sama sama tak sanggup memejamkan mata.

Keesokan harinya kami berangkat menuju rumah sakit sekitar pukul 6 pagi. Kukeluarkan motor dan siap berangkat. Ketika melihat ke belakang kulihat para tetangga sebelah rumah keluar melihat kami. Mereka berdiri di depan rumahnya masing masing. Hanya sebagian badannya yang terlihat seperti saling berbaris. Sepertinya suara gerbang memanggil mereka keluar. 

Mereka tak mengatakan apa-apa. Hanya wajah memerah dan air mata yang kulihat di sana. "Minta doa nya aja ya untuk ayah," kataku sambil menyatuhan dua tangan. Mereka membalas dengan anggukan, dua tangan yang disatukan seperti yg kulakukan, dan juga masih dengan air mata di sana.

Setibanya di kamar jenazah, bersama ibu kami kirimkan surah Yasin & tahlil untuk ayah. Saat itu banyak juga kawan ayah dan ibu datang dan mengucapkan bela sungkawa. Sekitar pukul 8 aku keluar kamar jenazah untuk mengurus berkas-berkas ayah. Lalu kami duduk di depan kamar jenazah ditemani kakakku melalui panggilan video. 

Cukup lama kami berada di sana. Banyak juga orang datang mengucap bela sungkawa. Saling bergantian agar tidak berkerumun. Tetap juga dengan menjaga jarak dan protokol kesehatan. 

Mulai dari kawan ibu, kawan ayah di rumah sakit, letnan, kapten, mayor, letkol, kolonel, sampai Danrumkit yang merupakan kepala rumah sakit datang mengucapkan bela sungkawa. 

Ada juga kawan kawan seperjuangan ayah yang sudah mengenalnya sejak masa muda. Meski tidak melihat secara langsung, mereka datang untuk bertemu ayah terakhir kalinya. Juga menguatkan kami yang ditinggalkan.

Aah ayah dulu kau bilang, "Kayanya di sini yang paling ga punya temen ayah doang deh. Kayanya orang ga ada yg mau beteman sama ayah. Gara gara cuek kali ya." 

Padahal setelah kau pergi banyak yang datang ke rumah sakit ingin bertemu denganmu terakhir kalinya. Mereka juga datang untuk menguatkan kami yang kau tinggal. Katanya banyak juga kawan-kawanmu yang datang ke rumah meski pintu tertutup rapat dan tak ada siapapun saat itu. 

Ketika kuumumkan kepergianmu di sosial mediamu banyak kawan lama, mantan anak buah, bahkan seseorang yang satu kali pernah berhubungan denganmu hanya sebatas pembeli dan penjual mengucapkan bela sungkawa. Mereka juga mendoakanmu.

Setelah kau pergi banyak juga yang menghubungi ibu. Mereka menangis. Banyak yang mengatakan rindu dengan suara adzanmu, suara langkah kakimu di pagi hari yang menandakannya untuk segera mengambil air wudhu, candaanmu, nasehatmu, dan semua yang ada pada dirimu. 

Ternyata anggapanmu selama ini salah ayah. Bukan tidak ada teman, tetapi terlalu banyak teman. Hingga banyak orang yang merasa kehilangan sosokmu. 

Sekitar pukul 13.00 aku dan ibu melepasmu. Ambulan yang membawa ragamu berjalan ke luar pelataran kamar jenazah, melewati beliau-beliau yang tadi datang mengucapkan belasungkawa dan juga ikut melepasmu. 

Ayah, kereta kami belum tiba. Tunggu kami di sana yaa. InsyaAllah kita , (Ayah, Ibu, Mas Io, Adek Idhar, Dd Hanna) bersatu dan menjadi keluarga yg utuh lg di syurganya Allah. Alhamdulillah ayah sudah membawa bekal utk di kereta. Kami di sini InsyaAllah akan mengikuti semua kebaikan-kebaikan yg ayah lakukan utk bekal kami di kereta nanti.

Terima kasih ayahku sayang utk semua petuah2 yg selalu kau berikan utk kami anak2 dan istrimu❤️❤️❤️

Ayah pahlawan ibu

Ayah pahlawan Mas Satrio

Ayah pahlawan Adek Idhar

Ayah pahlawan Dd Hanna..

Selamat jalan pahlawan kami🤗🤗🤗

InsyaAllah kita berkumpul lagi di syurganya Allah ya,Yah..Aamiin Ya Rabbal Allamiin🤗

Sampai jumpa kembali,Yah😊

Al-Fatihah🤲🤲🤲

Share:

Selasa, 26 Januari 2021

Ayah (Kembali) part 1


Minggu, 27 Desember 2020 aku tak ingat tepat waktunya. Sepertinya saat siang, ayah melakukan panggilan video denganku. Saat itu aku sedang keluar membeli keperluan acara kakakku. 

"Lagi di mana,De?" Tanya ayah dengan suara lemah. "Lagi cari sepatu nih biar cepet selesai lah,Yah," kataku. "Udah enak badannya?" Tanyanya khawatir. "Udah,Yah. Ayah gimana?" Kataku. Tak ada jawaban. Lalu ia hanya bilang, "Yaudah hati hati," katanya lemah. "Assalamualaikum wr.wb," tutup ayah. Yaa, itu lah terakhir kalinya mata ini melihat wajah ayah. Yang kuingat wajahnya terlihat begitu berseri. Sangat bersih, wajah ayahku yang tampan. Aah ayah😭

Saat sedang perjalanan pulang ternyata ayah menelponku berkali-kali. Ketika aku sedang mandi ibu bilang ayah mencariku, "Mana Dd?" Tanyanya. Itu benar2 manjadi salah satu penyesalanku. Aku terlalu memikirkan banyak hal. Kenapa aku harus memaksakan diri pergi saat itu😭 Ingin rasanya aku bertanya langsung pada ayah, Marahkah kau padaku,Yah? Maaf ayah😭 Namun, kutau semua percuma. Tak akan ada jawaban...

Penyesalanku terbawa hingga ke alam mimpi. Suatu hari ayah datang ke pimpiku. Yang kuingat aku menangis sejadi-jadinya. Di ruang makan rumah kami kupeluk ayah yg hendak pergi,"Maaf,Yah maafiin klo dd belum ucapin maaf ke ayah," kataku di mimpi itu sambil menangis. "Iya gapaapa, gapaapa,De udah yaa, gapaapa," katanya sambil memelukku dan terburu-buru untuk pergi. Ahh mimpi yang membuatku sedikit tenang. Terima kasih,Ayah😭

Sore hari ayah kembali menghubungi ibu. Ia melakukan panggilan video. Ibu memberi semangat pada ayah. Begitu pula ayah, "Ibu kuat, Hanna sama ibu sehat," katanya. "Ayah berangkat dulu ya,Bu. Assalamualaikum wr.wb," tutupnya.

Tak lama ayah menelpon ibu minta diantarkan kartu penduduk dan kesehatannya. Beberapa kali ia hubungi ibu, tetapi hanya ada percakapan singkat di sana. Lebih singkat dari percakapan singkat kami biasanya. 

Waktu itu sudah mendekati magrib, saat langit hampir gelap, kuantar itu seorang diri ke rumah sakit. Di tengah lorong yang sepi aku berjalan seorang diri. Aku si penakut merasa seperti sesuatu menemaniku. "Malaikat kah di sampingku," kataku dalam hati saat itu. Ntah lah aku tak tau mengapa bisa tiba-tiba berpikir seperti itu. Aku juga tak tau siapa sebenarnya yg menemaniku berjalan. Namun, aku benar-benar merasakan kehadiran sesuatu saat itu. Saat menuju ruangan dan juga meninggalkan ruangan. Dua-duanya sama2 kurasakan. Saat itu aku tidak merasa takut, hanya pikiranku seperti sedang terbang ntah kemana. Aku sedang bingung saat itu.

Sesampainya di rumah, ibu mendapat telpon dari pihak rumah sakit. Mereka minta agar kami datang ke rumah sakit, "Ada yang mau disampaikan dokter tentang kondisi bapak," kata orang dibalik telpon. Segera setelah ibu melaksanakan sholat kami menuju rumah sakit. 

Persis di depan pintu kaca khas rumah sakit kami bertemu dengan dokter yang menangani ayah. Menurutnya, kondisi ayah sedang sangat tidak baik, "Kami akan terus berusaha. Minta doanya saja dari keluarga,"katanya. 

Aku tidak terpikir apapun. Kosong. Yaa pikiranku kosong. Yang kulakukan hanya menguatkan ibu yang menagis, "InsyaAllah gapaapa," kataku pada ibu. Setelah itu kami pulang.

Beberapa jam kemudian telpon ibu kembali berdering. Dimintanya kami kembali ke rumah sakit. Buru-buru kami berangkat. Ibu panik, aku berusaha tenang dan menenangkannya. "Gapaapa, gapaapa ya,Bu," kataku. Hanya kata itu yg bisa keluar dari mulutku.

Aku sudah berfirasat. Begitu pula ibu. Saat mengeluarkan motor kakiku tiba-tiba lemas seperti ingin jatuh. Buru-buru kusadarkan diri, "GA..mana boleh lemah di saat seperti ini,Han. Sadar sadar," kataku dalam hati. Saat itu juga ada telpon masuk dari nomor yang sama, langsung kuambil telpon dari tangan ibu. Kudengar orang di sebrang sudah panik. Kukuatkan diriku, "Iya sebentar ya ini udh mau jalan ko," kataku dengan tetap tenang.

Di perjalanan aku sudah tidak bisa merasakan dinginnya angin malam di tengah cuaca mendung. Pikiranku beterbangan kemana-mana. Ntah seberapa cepat motor kukendarai. Yang kuingat berulang-ulang kukatakan dalam hati "Gapaapa, gapapa,Han," sambil tersenyum untuk menguatkan diriku sendiri.

Sesampainya di rumah sakit kulihat suasana sudah berbeda, semua orang seperti berusaha terlihat tenang,. Mungkin agar aku dan ibu tenang. Dipersilakannya kami duduk di ruang tunggu ruangan. Di sebuah sofa berwarna cokelat susu, dokter berbicara pada kami. Aku sudah tau apa yang ingin ia sampaikan. Aku berusaha fokus, tapi pikiranku melayang ntah kemana. 

Sambil mendengar penjelasan dokter tanganku dan ibu saling menggenggam. Kuangguk-anggukan kepala pertanda aku paham dengan penjelasannya. Bibirku terus tersenyum selama mendengar penjelasan dokter. Yaa senyumku, caraku menguatkan diri, menyiapkan hati untuk tetap terlihat tegar agar bisa menguatkan ibu. Sambil kukuatkan diriku dari dalam hati, "Takdir..takdir, Han. Ini semua takdir."

Saat siang hari, pulang dari tempat membeli sepatu, di tengah langit yang mendung, sambil mengendarai motor tiba-tiba air mata menetes dengan deras. Aku katakan pada zat yang saat itu hanya bisa mendengar suaraku, "Kalau ayah pergi, saya juga harus pergi ya, ya Allah. Kumohon," kataku sambil menangis. Aku merasa diriku sangat lemah saat itu.

Namun, malam itu berubah. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang ada hatiku terasa lapang. Yaa, Allah menunjukkan kekuasaanya dengan membalikkan hatiku yang lemah menjadi kuat.  Dan ibu, sosok yang menjadi alasan pertamaku bisa menjadi realistis, seperti yang ayah harapkan. Masih ada ibu yang harus kujaga. Maka aku bisa tegar.

Aku tidak ingat jelas apa-apa yang dokter katakan padaku. Aku hanya mendengar, "Kami sudah berusaha, Innalillahi wa innailaihi rojiun..." Setelah itu aku lupa lanjutan perkataannya. 

Ayah kembali. Yaa, sekitar pukul 20.10 WIB ia yang menjadi sandaran hidupku telah meninggalkanku. Ia pergi bukan tanpa sebab. Ayahku meninggalkanku untuk bertemu zat yang sangat ia cintai (Allah SWT). Selesai semua lika-liku kehidupannya di dunia. Semua kesulitan-kesulitan yang diberikan oleh-Nya juga sudah ia jalani dengan baik. Sudah sembuh semua sakit-sakit yang pahlawanku rasakan. Ayah sudah bahagia, insyaAllah aku yakin itu.

Setelah dokter pergi ibu menangis, keluar semua penyesalan-penyesalannya pada ayah. Langsung kudekap ibuku, kuelus dadanya untuk menenangkan. "Gapaapa, ini memang sudah waktunya ayah pergi. Mana ada ayah merasa seperti itu sama ibu. Ayah selalu bilang ibu itu istri yang hebat. Ayah bangga banget punya istri sepertu ibu. Ikhlas, ikhlas ya,Bu. Kita harus ikhlas biar ayah senang," kataku pada ibu.

Setelah kulihat ibu mulai tenang, segera kuhubungi kakakku. 

Kutelpon kakak pertamaku, "Assalamualaikum,Mas." "Waalaikumsalam wr.wb. Kenapa,De?" jawabnya. "Alhamdulillah ayah udh sehat,Mas. Tadi pukul 20.10 Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ikhlas ya,Mas untuk ayah," kataku berusaha tenang agar ia tidak syok.

"Hah, apa? Ga kedengeran,De?" Katanya. Maka kuulangi perkataanku. Setelah terdengar dengan jelas ia hanya diam. "Sekarang dd di mana?" Tanyanya. "Di rumah sakit," jawabku. "Oh yaudah, yaudah yaa," katanya lemah. 

Hancur, aku tau hatinya hancur, sama seperti kami. Hanya saja ia yang kukenal, memang tidak suka menunjukkan rasa sedihannya di depan ibu dan adiknya. 

Aku menelpon kakak keduaku. Kusampaikan kata-kata yang sama. Perasaanya juga tak karuan, aku tau. Namun, buru-buru ia menguatkanku.

Menurutku kedua kakakku sangat hebat dan kuat. Kesedihan mereka pasti melebihi diriku. Jarak membuat mereka hanya bisa bersua melalui panggilan video di hari-hari terakhir ayah . Terakhir kali kakak pertamaku bertemu langsung dengan ayah sekitar 3 minggu sebelum ayah kembali pada penciptanya. 

Lalu kakak keduaku? Ah sudah sangat lama. Dua tahun lalu ketika ibu, ayah, dan aku mengantarnya ke bandara. Yaa, saat ia akan berangkat mencari tantangannya. Tantangan yang pernah ayah ceritakan padaku, ia sangat bangga ketika kakak keduaku memiliki keinginan bekerja di luar pulau Jawa untuk mencari tantangannya. 

Di saat terakhir ayah pun mereka tidak bisa bertemu, walau sebatas melihat peti jenazah ayah secara langsung. Kakak pertamaku yang sudah berencana langsung berangkat ke Jakarta, ternyata harus menggagalkan rencananya. Yaa, kondisi yang tidak memungkinkan, belum lagi ia harus mendengar saran sana-sini yang tak bisa kuserap dengan cerdas. 

Kemudian kakak keduaku. Ia saat itu juga langsung menuju bandara di Palu dengan perjalanan selama 8 jam dari tempatnya bekerja. Sampai di bandara, ibu bilang padanya agar tak pulang dulu karena percuma tidak akan bisa bertemu kami. Akhirnya tak jadi juga ia kembali. 

Selain itu, kabar waktu pemakaman ayah yang simpang siur membuat ia tak jadi kembali. Kalau saja sejak awal dikabarkan akan dimakamkan selepas Dzuhur mungkin kakakku sudah mengikuti proses pemakaman. Namun, semua sudah lewat insyaAllah ayah memahami kondisi yang ada, aku yakin😔

Mereka sedih, yaa sangat sedih. Mereka sangat kecewa dan menyesal dengan keadaan. Aku tau dari mimik wajahnya saat melakukan panggilan video keesokan harinya. 

Wajah kakak pertamaku terlihat bengap, seperti orang yang tak tidur dan menangis semalaman. Kulihat ia sedang memeluk kitab suci, sesuatu yang jika dibaca bisa menenangkan hati. Begitu pula dengan kakak keduaku. "Gapaapa dd sama ibu baik-baik aja. Mas ga usah khawatir yaa. InsyaAllah ga ada masalah," kataku meyakinkan.

Selesai menghubungi kedua kakakku, aku menghubungi tante, adik pertama ibu. Maksudku agar ia mengabarkan semua keluarga dari pihak ibu karena dari pihak ayah sudah akan dikabarkan oleh kakak pertamaku.

Malam itu banyak kerabat yang menghubungi telpon genggam ibu dan aku, ntah saudara jauh, saudara dekat, kawan ayah selama bekerja, dan lainnya. Namun, sungguh aku meminta maaf sebesar-besarnya karena tak bisa menjawab semua panggilan.  Telpon genggam ibu juga aku pegang. Pikirku agar ia bisa menenangkan diri dulu. 

Dari banyaknya sanak saudara yang menghubungi membuat aku sangat senang, karena ternyata masih banyak orang yang peduli dengan kami. Terima kasih🤗


To be continue...


Share:

Sabtu, 23 Januari 2021

Ayah (Meninggalkan Istana kami)

Sangat sulit bagiku menceritakan kembali kejadian ini, apalagi ini belum genap 40 hari. Bahkan aku merasa ingatanku tentang hari-hari terakhir mulai memudar. Seperti otakku mengerti perasaanku dan secara otomatis ingin menghilangkan ingatan saat itu. 

Sedih juga kembali melanda, tetapi aku ingin menceritakan semuanya di sini. Maka segera kutulis kisah yang sudah lewat itu sebelum ingatanku semakin berantakan. Agar abadi dan bisa kukenang suatu hari nanti. Berharap juga siapapun yang membacanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang kutulis tentang ayah. Mengambil pelajaran juga tentang sikap ayah terhadap anak-anak dan istrinya. Bagaimana ia yang terlihat galak, karena backgroundnya sebagai Marinir, tetapi tetap dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

Sore itu, setelah selesai melaksanakan sholat, akhirnya kami berangkat. Kami menggunakan kendaraan bermotor karena selain ayah, di antara kami bertiga tidak ada lagi yang bisa mengemudikan mobil. Kami memutuskan tidak menggunakan ojek online karena saat itu kupikir akan sulit menemukan driver yang mau mengantar kami ke rumah sakit di masa pandemi. Pemikiranku beracuan dengan pengalaman sulitnya mendapatkan driver saat ingin ke klinik kemarin. 

Pertama aku berangkat mengantar ibu ke IGD. Aku kembali pulang untuk menjemput ayah. Sesampainya di rumah aku pergi ke depan rumah untuk mengambil sendal ayah. Lalu kupakaikan ayah sebuah jaket hitam, "Harus pake jaket,De?" Tanya ayah. "Iya biar ga dingin," kataku. Tubuh ayah sangat lemah bahkan sekadar menggunakan jaket saja ia sudah terlihat tak bertenaga. Saat itu aku ingat ayah menggunakan kaos garis berwarna merah hitam dengan celana blackhawk berwarna cokelat susu. Tak lupa ia gunakan peci hitam di kepalanya.

Sebelum berangkat ayah berkata padaku, "Pelan-pelan aja ya,De," katanya dengan suara pelan. Ketika ia naik ke atas motor sudah tak ada berat yang kurasa. Sepanjang jalan, di bawah cuaca yang kuingat saat itu sedikit mendung, aku mengendarai motor dengan sangat pelan. Namun, kurasa seperti tidak ada penumpang di belakangku. Ayah terasa sangat ringan. Saat di jalan kulihat ayah dari kaca hitam sebuah toko. Ia tertunduk lesu😔

Sesampainya di rumah sakit ibu menyambut kami. Kuturunkan ayah persis di depan pintu IGD. Kulihat ayah merangkul ibu di pundak. Begitu juga sebaliknya, ibu merangkul ayah dipingganya. Aah ternyata itulah pertemuan terakhir si cinta sejati. Raga yang hampir 27 tahun berjuang bersama membangun sebuah keluarga ternyata bertemu untuk terakhir kalinya. Ketika ingat momen itu, aku yang memandanginya dari belakang seperti membayangkan, raga mereka yang saling mendekap seperti sudah mengerti. Mereka seperti sedang saling berpamitan dan berkata, "Terima kasih sudah berjuang bersama. Semua akan baik-baik saja. Akan kutunggu kau dan anak2 di sana, jangan takut," kata raga ayah dalam bayanganku😔

Aku kembali ke rumah menunggu berita dari ibu. Saat langit sudah gelap, setelah adzan magrib berkumandang ibu menghubungiku untuk membawa baju ayah. Kubawa semua perlengkapan-perlengkapan ayah yang sudah disiapkan ibu.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung menemui ayah dan ibu. Mereka berada di depan pintu IGD. Kulihat ayah sedang berbaring ditangani oleh seseorang, ntah ia dokter atau perawat aku tidak bisa mengenalinya karena ia menggunakan APD. Yang kutau dari suaranya ia adalah seorang perempuan. Ayah sudah menggunakan alat bantu napas di hidungnya. Dalam hati aku merasa lega berharap ayah bisa merasa lebih baik.

Mengetahui kedatanganku ayah langsung berkata, "Eeh ada anak cantik," dengan suara yang sangat gembira. Masih tidak tergambar rasa lemas dari suara ayah saat itu. Yaa, panggilan itu lah yang selalu ayah ucapkan ketika baru berjumpa lagi denganku saat bangun tidur, selepas ia kembali dari kantor atau dari bepergian, ketika menghiburku yang datang dari kampus dengan wajah lelah, menghiburku yang sedang  pusing mengerjakan tugas hingga pagi hari, menghiburku ketika semangat mulai memudar, menghiburku untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali 😭

Sejatinya wanita selalu gembira dengan segala pujian , tak terkecuali aku. Aah ayah sungguh putri kecilmu sangat rindu pujianmu. Pujian yang selalu membuatku gembira dan kembali semangat, yang selalu aku rasa tulus, mungkin yang kudengar paling tulus. Sekarang tak ada lagi sosok yang akan memujiku dari hati terbaik. Saat itu lah pujian tulusmu kudengar terakhir kalinya, di saat-saat terakhir aku melihatmu secara langsung. 

Saat baru tiba aku juga bertanya pada ayah, "Udah enakan,Yah?" Namun, ia mendengar aku berkata, "Udah makan,Yah?" Lalu dia membalas, "Ya belum lah,Neng," katanya.

Aku dan ibu sibuk dengan barang ayah. Merapikannya agar ayah mudah mencari sesuatu. Akhirnya ia didorong lebih dulu ke kamar. Beberapa saat kemudian aku dan ibu menyusul. Saat tiba di kamar ternyata kami sudah tidak boleh bertemu ayah. Kemudian kami pulang menuju rumah.

Ibu bercerita padaku saat registrasi ada sebuah kesepakatan antara rumah sakit dan pihak keluarga. Jika pasien pergi dalam keadaan positif atau saat hasil belum keluar maka akan dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Ibu yang gusar mengatakan pada ayah, "Atau pulang aja yuk,Yah." "Gapaapa ayo,Bu tanda tangan aja gapaapa," kata ayah menguatkan ibu. 

Sempat ada pasien yang saat itu sama sama registrasi. Mendengar kesepakatan itu mereka memutuskan kembali ke rumah. Membuat ibu kembali ragu. Namun, lagi lagi ayah meyakinkan ibu untuk menandatanganinya.

Setelah ayah kubawa ke rumah sakit sempat pada malam pertama di rumah sakit telpon genggam ayah tidak dapat kami hubungi. Sepertinya lupa ia nyalakan setelah sebelum berangkat diisi dayanya. 

Keesokan harinya ia menghubungi ibu. Ntah apa yang mereka bicarakan aku lupa. Namun, yang kuingat ia mencariku yang saat itu tak tau sedang mengerjakan apa, aku juga lupa. Kemudian ia memanggil video lagi. Kembali ia mencariku. Saat itu aku bicara padanya. Hanya sebentar. Yaa tidak sampai 5 menit. Dari suaranya aku mulai mendengar kelemahan pada diri ayah. Napasnya sangat pendek. Terdengar sangat lelah. "Lagi apa,De? Udah enakan?" Tanyanya padaku singkat. "Udah, ayah gimana?" Tanyaku. "Lumayan," katanya. "Yaudah yaa, assalamualaikum wr.wb," tutupnya.

Selama di rumah sakit ayah sering bekomunikasi dengan anak-anaknya. Ia lakukan panggilan video juga dengan kedua kakakku yang berada di luar kota. Menurut kakakku, sama seperti ketika berbicara padaku, hanya sebentar. Yaa ayah sudah tidak bisa banyak bicara saat itu.

Setelah telpon genggam ayah kupegang. Saat hatiku sudah mulai kuat, kubuka pesan pesan terakhir yang ayah lakukan. Terdapat beberapa pesan dari tetangga yang cukup dekat dengan ayah. Mereka menanyakan keberadaan ayah karena sudah lama tak mendengar suara azannya. Setelah itu mereka mendokan kesembuhan untuknya, mengataan juga rasanya ingin menjenguk. Mereka rindu dengan suara adzan ayah. Dan kulihat, "Waalaikumsallam wr.wb. Terimakasih doanya pak Haji. Semoga yg saya kerjakan selama ini semata karena Allah," balas ayah pada salah satu pesan. Hatiku bergetar. Aamiin ya rabbal allamiin, semoga semua hal baik yg ayahku kerjakan Kau terima ya Rabb😭

Ternyata bukan hanya kami yang memiliki kenangan tak terlupakan tentang ayah. Orang-orang yang pernah mengenalnya ternyata memiliki kenangan tersendiri tentang ayah. Semoga kenanganmu yang tertinggal di dunia ini bisa membawamu ke tempat tertinggi di sana,Yah.🤗


To be continue...


Share:

Selasa, 19 Januari 2021

Ayah (Hari Hari Terakhir Di Istana Kami) Part 2

Satu hari ayah bercerita padaku bahwa ditengah sakitnya ia merasa sangat ingin marah. Katanya, ntah apa yang membuat ia ingin marah. Namun, selama sakit kulihat ayah begitu sabar, tak ada membentak, semua yang dia inginkan selalu dia sampaikan dengan lembut padaku dan ibu. 

Selesai mengimami ibu kudatangi ayah. Kukatakan, " Ayah, kalau ayah mau marah gapaapa dikeluarin aja. Ayah marah aja ke dd. Jangan dipendem yaa. Nanti ayah malah tambah sakit." Tidak ada jawaban darinya. Hanya diam. Yaa dia hanya membisu...

Ayah mulai tidak nafsu makan lagi. Badannya masih konsisten naik turunnya. Kucoba tawarkan sebuah roti pada ayah. Roti manis rasa kismis, "Siapa tau ayah suka, yang penting perutnya terisi," kataku dalam hati. "Ini rotinya lumayan nih,De," katanya. 

Ia sempat minta dibelikan sebuah minuman, "Minuman apa sih itu,De yang cokelat gitu. Dulu ayah suka minum deh," katanya. "Apa sih, (kusebut sebuah merek susu) kali ya?" Tanyaku bingung. "Iya coba aja deh ga usah banyak-banyak tapi belinya," mintanya. Akhirnya kubelikan ia susu cokelat berbungkus hijau setelah diminum ia berkomentar, "Dulu kayanya ga kaya gini deh,De," katanya hehe.

Keesokan harinya ibu menyeduh susu rasa vanila, yang di dalamnya terdapat oat, untuk ayah. Masih panas ia langsung menyeruput, "Haduuh panas," katanya sambil bercanda pada ibu. "Ah ayah lagi langsung di minum sih kan udah dibilang masih panas," kata ibu panik. "Tapi enak," jawabnya seperti anak kecil. Saat aku datang ke ruang makan, "Nah ini baru enak nih,De," katanya padaku.😁

Di tengah sakitnya ada juga satu makanan kesukaannya yang ayah minta belikan padaku, "Makan martabak telor enak kayanya nih," kata ayah. Akhirnya kupesan dari aplikasi online, "Yang telor tapi ya,De," kayanya mengingatkanku. Kupesan agar ayah mau makan. Namun, saat tiba hanya 2 buah yang kuat ia makan. 

Ku ingat dulu saat kakakku sakit ayah memberikan telur ayam kampung setengah matang untuknya. Maka kutanya apakah ayah mau kubelikan. "Boleh, beliin ayah lima ya," katanya.

Beberapa malam kubelikan ayah telur ayam kampung setengah matang. Kubuka satu per satu butir telur dan kuletakkan di dalam gelas. Setelah itu ayah memakannya dengan lahap. "Dulu ini makanan mahal banget nih waktu ayah muda. Kalo baru gajian langsung deeh beli ginian. Buat ayah makanan mewah banget ini dulu," katanya bercerita. 

Hari terakhir makan telur ayah hanya meminta 3 butir. Setelah sudah kusiapkan di gelas ia langsung memakannya pelan-pelan. Sepertinya perut ayah sudah tidak bisa menampung makanan, tetapi ia paksakan untuk menghabiskannya, mungkin agar aku senang.

Tidak lama setelah makan ayah merasa mual. Ternyata makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya kembali keluar.  Kubersihkan bekas muntahan ayah. Aah ayah aku benar-benar bahagia bisa mengurusmu di hari hari terakhir. Allah benar-benar mengabulkan doaku selama ini😢

Semakin memburuk ayah tetap menolak dibawa ke rumah sakit. Aku yakin ayah memiliki alasannya sendiri. Maka ku iya kan penolakannya. Sempat ia mau kubawa, tetapi di hari H dia kembali menolak. 

Lagi ia mau ke RS. Sepakat juga kami agar ibu yang hari itu masuk kerja akan menunggu di RS dan aku akan ke sana bersama ayah. Namun, pagi harinya ia menolak lagi "Aduh kayanya ini juga udah terlambat banget deh,Yah. Gapaapa ya ke rumah sakit aja. Ayah udah terlalu lama nahan sakit," kataku. Kemudian ayah diam dan berkata, "Nanti dulu lah,De biar ayah pikirin dulu," katanya. 

Oh iya, selama di rumah badan ayah memang terlihat lemas, tetapi suaranya masih sama seperti bisa kuatnya. Bahkan tak ada gambaran lemas sedikitpun dari suaranya. Hal itu lah yang selalu membuatku berpikir "Ayah pasti sembuh."

Saat ibu kembali daei tempat kerja, ayah tiba-tiba bilang, "Ayo ke rumah sakit. Kayanya ayah udah ga kuat deh," katanya. Maka kami putuskan berangkat setelah Ashar. Sebelum adzan terdengar ayah duduk di kursi ruang tamu dan aku tiduran di lantai, di depannya. Tiba-tiba ia bilang, "Ternyata hidup sebentar banget ya,De," katanya padaku. Aku yang mendengar hanya terdiam dan menkondisikan pikiranku agar tetap positif.

Sebelum berangkat ayah masih menyempatkan diri memimpin ibu sholat Ashar. Aku yang saat itu sedang berhalangan tiba-tiba saja ingin memotret momen itu. Benar saja ternyata itu lah momen terakhir ayah sholat di istana kami dan mengimami ibu, yang insyaAllah akan menjadi bidadarinya di syurganya Allah. Aamiin ya Rabbal Allamiin.  

Setelah semua terlewat aku baru menyadari alasan ayah, yang tidak mau ke rumah sakit, tiba-tiba mengajak. Sepertinya ayah mau pergi ke sana atas keputusannya sendiri agar jika terjadi sesuatu, aku dan ibu tidak merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. Itu sepertinya juga menjadi alasan kenapa ia mau dibawa kerumah sakit. Padahal bisa saja jika ayah kekeh tidak ingin dibawa kami tidak akan membawanya. 

Ayaah..setiap jalan yang kau ambil selalu saja alasanya demi kebaikan kami. Terima kasih🤗


To be continue...

Share:

Ayah (Hari Hari Terakhir Di Istana Kami) Part 1

Hari demi hari terlewati, ternyata kondisi ayah kulihat tidak semakin membaik. Hari-hari terakhir kami habiskan di istana kami. Aku yang kelelahan juga sempat jatuh sakit.  Badanku terasa sangat lemas. 

Sempat terjadi sebuah peristiwa di suatu pagi. Aku bangun untuk mengisi daya baterai telpon genggamku. Cepat-cepat kulakukan karena badanku terasa sangat lemas. Selesai aku berbalik untuk menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Tiba tiba "bruuk" kepalaku menghantam sesuatu. Aku langsung tidak bisa melihat apa-apa. Aku mendengar suara ibu. Ah ternyata aku menabrak ibu dengan keras. "Aduuh maaf,Bu maaf dd ga bisa liat,Bu," kataku panik. Malam itu memang aku tidur bersama ibu. Ternyata ketika aku berbalik ibu sedang berjalan keluar kamar dan masih berada di dekatku. 

Kejadian itu membuat dada ibu sakit. Namun, setelah diperiksa menurut dokter alhamdulillah hanya memar biasa. Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak berhati-hati :( Akibat kejadian itu membuat aku, ayah, dan ibu sempat beberapa waktu sakit bersamaan.

Aku ingat dengan jelas, ayah yang saat itu juga sedang sakit masih membantuku beraktifitas. Aku sempat tidak nafsu makan. Kemudian ayah datang membawa segelas air. Yaa, setiap aku sakit ayah akan selalu memberiku air doa. Rasa airnya sangat sejuk menurutku. Dibantunya aku utk bangun dari kasur, kemudian ia pegang erat-erat lenganku sambil menegukan air untukku hingga tandas. 

Terbaring di kasur, hanya itu yang bisa kulakukan saat itu. Ketika aku, putri satu-satunya, sedang sakit ia lah yang pertama kucari. Aku selalu menunggu tangannya yang sejuk ditempelkan di atas keningku. Ayah lah yang akan paling khawatir ketika aku jatuh sakit. 

Pernah suatu hari, saat itu kami pergi bersepeda bersama. Malam sebelumnya aku tidur terlalu larut. Akhirnya sampai di rumah badanku terasa sangat gatal. Muncul bentol besar besar di seluruh tubuhku, "Duh biduran ini mah ya,Bu?" Tanya ayah pada ibu. Dengan segera ia minta air dingin pada ibu dan langsung mengompreskannya ke seluruh tubuhku. Ia terlihat sangat khawatir begitu juga dengan ibu, "Gapaapa nanti sembuh," katanya padaku. Kemudian ia mengajak ibu ke apotek untuk membeli obat. 

Ayah, terima kasih untuk kasih sayang yang tak terhingga. Maaf karena aku selalu menjadi anak yang mengecewakan😭

Ketika kami sakit bersamaan ayah juga sempat memapahku keluar rumah. Ia cari lokasi yang leluasa disinari matahari. Kemudian ia tempatkan dua buah kursi di depan kontrakan sebelah rumah kami, meskipun sinar matahari kadang terang kadang mendung. Mungkin 10 menitan kami berjemur di bawah sinar matahari yang tak konsisten itu. 

Saat kondisiku masih belum pulih, ketika aku sedang beristirahat dengan ibu di kamarku tiba-tiba ayah datang. Ia juga meletakkan badannya di sebelahku. Saat itu kami berbincang sebentar, ntah apa yang kami bicarakan aku tak ingat jelas. Yang ku ingat ayah memelukku walaupun hanya sebentar, aku protes karena merasa sesak saat itu. Bertahun-tahun hidup bertiga di rumah, kami memang sering menghabiskan waktu bertiga. Terkadang kami berbincang di atas kasur, atau di ruang tamu, kadang juga di ruang makan. Kadang kalau aku dan ibu sedang membahas sesuatu ayah pasti akan bertanya-tanya lalu kami akan bilang, "Apa sih ayah kepo banget deeh," kata kami sambil bercanda. Aaah ayaah aku rindu candaan kita :(

Beberapa hari kemudian badanku terasa mulai membaik. Aku sudah mulai bisa makan. Namun, kulihat kondisi ayah saat itu semakin memburuk. Nafsu makannya masih baik. Beberapa hari kubelikan ia bubur dan sesekali ia minta soto dekat rumah. Ia juga masih rajin berangkat ke musholla saat sholat Fardu. Hanya saja sempat suatu waktu saat pulang dari sana ia bercerita, "Tadi ayah rasanya lemes banget sampai adzan aja ga kuat. Yaudah tak suruh aja lah si...azan. Terus abis itu ayah tiduran sebentar. Kenapa ya? Padahal ayah ga pernahh loh sakit sampai segininya," katanya. 

Ayah sejak dulu memang sering mengumandangkan adzan di mushollah dekat rumah kami. Mungkin itu adalah salah satu kegiatan yg ayah jadikan prioritas.  Sempat dahulu saat lebaran akan tiba ayah memutuskan agar kami berangkat ke kampung halaman di malam takbiran. Alasannya ia sangat ingin selama di bulan suci tersebut ia lah yang mengingatkan orang2 untuk melaksanakan sholat. MasyaAllah🤗

Saat hari-hari terakhir kuingat ayah masih menggunakan gamis hadiah ulang tahun dari kami anak-anaknya. Kami memberikannyanya telat satu bulan setelah ulang tahun ayah. Yaa ulang tahun terakhirnya. Ia begitu gembira menerimanya. Sampai ia bilang, "Videoin,De kirim ke mas." Dalam videonya itu ia hanya mengatakan, "Terima kasih ya,Dek terima kasih ya," dengan ekspresi kegirangan khas anak2😁

Gamis itu berlengan panjang dengan warna biru langit. Sangking lemasnya sampai ayah berkata, "Ayah pakai gamis panjang itu rasanya kaya berat banget. Sampe ga kuat gitu," ceritanya padaku dan ibu.

Sempat ayah tidak nafsu makan. Ia juga tidak mau kubawa ke dokter. Aku yang mulai gusar menjadi sedikit tegas pada ayah, "Yaudah kalau ayah ga mau ke dokter gapaapa, tapi ayah harus makan biar cepet sembuh," kataku. Sejujurnya aku sangat ingin menangis saat itu. Aku sedih melihat kondisi pahlawan keluargaku yang biasanya selalu kuat terlihat tak berdaya :(

Kuingat sejak saat itu ayah mulai nafsu makan lagi. Biasanya setiap hari aku akan membeli kelapa hijau dan air rebusan cacing untuk ayah. Kudengar itu bagus untuk kesehatan. Ia juga semangat meminumnya.

Tidak ada tanda-tanda membaik, membuatku bersama ibu kembali bertanya pada ayah untuk pergi ke klinik. Ayahpun setuju akhirnya kami pergi ke klinik terdekat. Yang kuingat saat itu setelah selesai diperiksa karena waktu sudah mendekati Adzan Magrib maka ayah putuskan pulang lebih dulu karena aku dan ibu masih mengurus yang lain. Namun, sesampainya aku dan ibu di rumah ternyata adzan belum berkumandang dan ayah masih berada di rumah. Kuketuk pintu rumah dan kudengar suara ayah menyaut ketukanku, "Waalaikumsalam..sebentaaar," dengan nada bercandanya. Dan ia buka pintu dengan senyum di wajahnya. Aah ayah😭

Dokter memberinya banyak jenis obat. Setiap setelah makan kubuka beberapa obat yang harus dimunim saat itu. Ntah kenapa hatiku terluka melihat ia yang selalu terlihat kuat harus meneguk banyak jenis obat dengan ukuran besar. Hatiku semakin hancur saat ia berkata, "Aduh banyak banget neeeng," dengan nada bercandanya yang seperti orang takut. Namun, untuk menguatkannya dan mungkin tanpa kusadari untuk menguatkan diriku sendiri kubilang, "Gapaapa lah kali ini aja biar cepet sembuh."😞

Di tengah ketidak berdayaannya terkadang ayah masih memaksakan duduk dan berdiskusi dengan kami. Banyak hal kami bicarakan, tentang kehidupan dan lainnya. Terkadang saat sedang berada di kamar atau saat ia sedang berada di ruang makan ayah akan memanggilku. Dimintanya aku memijat tubuh dan kepalanya. 

Sempat juga ayah menyapu teras rumah dan memanaskan mobil. Aku juga ingat saat itu ia datang ke kamarku mengukur berat badan dan iseng menaiki trimmer yang biasa kugunakan untuk berolahraga. 

Ah ayah sepertinya semua sudut di dalam istana kita memiliki kenangan tersendiri tentangmu. Melihat ini itu di dalamnya membuatku semakin rindu padamu😔

Semakin hari bukannya semakin baik, ternyata kondisi ayah tidak berubah setelah dari klinik. Suhu tubuhnya mulai tak karuan, meskipun sudah diberi penurun panas oleh dokter sepertinya tidak berpengaruh. Terkadang suhu tubuhnya sangat dingin, tetapi dengan waktu cepat akan kembali naik dengan drastis. Saat suhu tubuhnya turun ia katakan bahwa badanya terasa sangat dingin. Kusentuh kaki nya dan benar saja. Lalu aku dan ibu langsung memasangkan kaos kaki untuk ayah. Kupasang juga bantal penghangat agar dingin yang ayah rasakan sedikit berkurang. Aku tau ini salah satu tandanya, tapi selalu kutanamkan pikiran2 positif pada diriku.

Badan yang semakin lemas membuat ayah memutuskan sholat di rumah. Biasanya ia akan berjamaah dengan ibu karena aku sedang berhalangan. Saat itu kondisi kubelum pulih 100% sering rasanya kantuk melanda dengan tiba2. Ibupun masih perlu banyak istirahat karena nyeri di dadanya belum sembuh. Namun, kami bisa saling bergantian mengurus ayah. Hebat, aku tau ibuku adalah wanita hebat meskipun nyeri di dadanya masih sangat terasa sakit, tapi ia masih sigap mengurus ayah.

Sesak di dada ayah mulai terasa dan semakin memburuk. Kuingat pada satu malam aku tidak bisa tidur mendengar suara nafas ayah. Ia kesulitan bernafas, membuatku binguh dan sedih. Akhirnya kuputuskan tidur di sofa ruang tamu. Maksudku agar lebih terdengar bagaimana keadaan ayah. Aku bolak balik ke kamarnya saat tiba-tiba suara nafasnya tak terdengar lagi. Satu kali saat kusedang perhatikan ayah, ternyata ayah tidak sedang tidur. Ia sedang memperhatikanku dari kegelapan kamarnya. Kutanya, "Ayah udah enakan?" "Masih sesek," jelasnya.

Pernah aku bertanya pada ayah, "Sesaknya sama kaya waktu asma dulu,Yah?"  

"Wah dulu mah lebih parah," jawabnya. 

Kulihat juga ia mulai batuk berdahak. Badannya yang lemas membuat ia tidak bisa bolak balik kamar mandi untuk membuang dahak. Maka diberilah ayah sebuah baskom kecil untuk membuang dahaknya. Saat ia duduk di atas kasur, yang memang lumayan tinggi, tak jarang dahaknya terbuang tak tepat tempat. Saat itu ia akan memanggilku dan bilang, "Tolong lap in yaa,De."

Aku ingat, satu hari sebelum berangkat ke rumah sakit, aku memanggil ayah untuk berjemur di luar rumah. Di atas kursi biru, ayah letakkan badanya. Saat itu dibalik rasa lemahnya masih juga ayah tunjukkan kekonyolannya untuk menggoda ibu. Saat aku iseng mengambil foto mereka tiba-tiba ia bercanda dengan memasang wajah lemas dan menyandarkan kepalanya ke badan ibu. Setelahnya ia tertawa. Ayah menggoda ibu karena ibu selalu marah kalau kita foto dengan gaya yang tidak bagus hehe.  Aah ayah dibalik rasa lemah yang kaurasakan masih saja kau tunjukkan senyummu untuk menguatkan kami.

Selama sakit aku tau badan ayah terasa lemas, tetapi ayah selalu menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Seakan-akan ia ingin mengatakan pada kami bahwa pahlawan kalian tidak akan pernah lemah pada apapun. Apalagi hanya karena sebuah penyakit. Dari sikap yang ayah tunjukkan selama sakit, ia mengajarkan kami arti kata kuat, ikhlas, dan berserah diri😊💝


To be continue...

Share:

Senin, 18 Januari 2021

Ayah (Kepergian Terakhir)

Semakin hari kurasa kondisi ayah semakin tidak baik. Meskipun badannya terlihat bugar, tapi ia sering mengeluh badannya terasa lemas. Namun, menurutnya mungkin karena jarang olahraga. Diwaktu bersamaan kakak keduaku meminta agar ayah pergi ke kampung halaman karena sebuah alasan. Ah tidak tidak kakakku sudah beberapa bulan terakhir memang sudah berulang-ulang membicarakan hal itu, tetapi ayah tidak menanggapi karena satu dan lain hal. Namun, di akhir November barulah ayah berencana pergi ke sana. 

Disuruhnya aku berangkat lebih dulu. Sebenarnya sempat ada pro dan kontra tentang apakah lebih baik ayah datang atau tidak. Mengingat kondisi tak memungkinkan akibat pandemi. Namun, setelah hampir tidak jadi berangkat akhirnya ayah memutuskan meneruskan rencana kepergian seperti semula. 

Hari-hari sebelum keberangkatan kudengar jika ayah menyempatkan waktu mengamplas tembok kamar mandi di rumah. Memang sebelum kuberangkat, ayah sudah membicarakan rencana perbaikan kamar mandi. Namun, katanya belum ada setengah ruangan ia kerjakan badannya sudah terasa sangat lemas. Membuatnya menghentikan pekerjaan itu. 

Aku sempat kecewa dengan keputusan ayah karena baru kali ini kulihat ia seperti memaksakan sesuatu. Bahkan yang kutau ayah adalah sosok yang selalu memutuskan sesuatu dengan matang. Jika bertindak maka ia pasti sudah tau akibatnya ke depan. Ia juga sangat memegang prinsip yang ia punya dan tidak pernah goyah dengan saran orang lain. 

Aah ternyata ayah sudah memikirkan itu dengan baik, ia lakukan itu atas kemauannya. Selain karena beberapa pertimbangan dan ingin mengabulkan permintaan anaknya,  mungkin itu adalah feeling ayah sebelum pergi. Benar saja, itu lah terakhir kalinya ayah bertemu dengan ibu, kakak, dan adiknya. 

Meskipun saat pertemuan itu tidak semua menggembirakan. Bahkan ada saja orang yang membuat hati ayah terluka. Namun, yang kutau ayahku adalah sosok pemaaf maka tak pernah ada benci pada diriku atas kejadian itu. Akan tetapi, hal yang membuat ia bahagia dari kepulangannya adalah bisa berdiskusi santai dengan adik-adiknya, menyelesaikan kesalahpahaman yang mungkin saja selama ini ada. 

Ayah berangkat bersama ibu menggunakan mobil tua kesayangan kami. Kijang Jantan 90-an yang dahulu saat pertama beli berwana putih, lalu sekitar 2011  dicat menjadi Abu abu metalic. Mobil ini adalah saksi bisu kehidupan keluarga kami. Menemani setiap perjalanan yang kami lalui.

 Hanya 5 jam waktu yang dibutuhkan ayah hingga sampai ke sana. "Udah lama ga nyetir ternyata ayah kuat juga yaa nyetir lagi. Ga ada rasa cape deh, kaya waktu masih muda aja," kata ayah pada ibu. 

 Selama 4 hari ayah habiskan waktu di kampung halamannya. Setelah itu kami, ayah, ibu, dan aku, kembali ke Jakarta. Selepas subuh kami angkut semua barang ke dalam mobil, setelah itu kami pamit dengan nenek dan kakakku. Tidak lupa kami melipir sebentar ke sebuah anjungan tarik tunai terdekat, mengambil uang untuk membeli bensin. Di tengah jalan sempat kami berhenti untuk mengisi bensin lalu buang air kecil dan melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan ayah juga sempat memutuskan berhenti di sebuah rest area yang tidak telalu aku ingat jelas lokasinya. Yang kuingat saat itu ayah bilang badannya terasa lelah dan ingin beristirahat sebentar, "Tidak seperti biasa," kataku dalam hati. Namun, berusaha kupaksa diriku untuk berpikir positif. Ia turunkan jok mobilnya. Mungkin hanya sekitar 10 menit ayah beristirahat, setelah itu kami melanjutkan perjalanan. 

Kami keluar pintu tol tepat saat adzan zuhur berkumandang. Sejak dulu ayah adalah orang yang sangat tidak ingin tertinggal sholat berjamaah, akhirnya kami berhenti sejenak di masjid yang mungkin hanya berjarak 1,5km dari rumah. 

Namun, aku dan ibu memutuskan untuk sholat di rumah. Kami menunggu ayah di parkiran. Aku yang merasa kekenyangan karena mulutku tak berhenti mengunyah sepanjang pejalanan akhirnya memutuskan keluar dari mobil. Hanya berdiri di samping mobil  sekalian meregangkan otot kaki.

Saat itu kulihat ayah sudah keluar dari masjid. Dia menuju mobil sambil bercanda denganku. Dari kejauhan, meskipun menggunakan masker, kulihat ayah sambil membawa sajadah di tangannya menggodaku dengan muka konyolnya. Dan aku membalasnya dengan wajah yang sama. Aah itu lah candaan kami sehari-hari. 

Sesampainya di rumah ayah langsung meregangkan badannya di atas kursi panjang berwarna cokelat tua di ruang tamu. Kursi itu terbuat dari campuran kayu jati dan mahoni. Kursi yang ia desain sendiri lalu dibuat oleh tukang mabel pilihan ayah. 

Selesai mandi kulihat ia sangat lelah dan tertidur di kursi maka kuturunkan semua barang dari mobil seorang diri. Pelan-pelan kuturunkan barang di lantai agar tidak menimbulkan kebisingan dan membangunkannya. Saat kututup pintu mobil dan masuk ke dalam rumah ternyata ayah sudah bangun dan duduk di kursi itu. Sepertinya ayah terbangun karena suara pintu mobil. "Udah semua neng?" Tanyanya padaku.

Begitu lah kisah kepergian kami. Yaa kepergian yang sudah lama kudambakan karena sudah beberapa tahun kami tidak pernah menyambangi kampung halaman menggunakan mobil tua kesayangan. Kepergian  yang ternyata akan menjadi momen terakhir mobil tua kami dikemudikan oleh pemiliknya. Kepergian yang juga menjadi kisah terakhir perjalanan panjangku bersama ayah di dunia ini.  


To be continue...

Share: