Minggu, 15 November 2020

Semua Berkat Ayah & Ibu

Menurutku semua orang yang berhasil menyelesaikan perkuliahan di tahun ini adalah wisudawan terbaik. Hal tersebut karena banyaknya halangan dan kesulitan yang hadir bersamaan dengan penyelesaian Tugas Akhir serta syarat kelulusan lainnya. Tanpa pertemuan tatap muka bersama dosen pembimbing dan dengan keadaan yang sedang tidak baik ini kami bisa menyelesaikan semuanya. Hanya saja aku merasa bahagia bisa memenuhi ekspetasi ayah & ibu.

Pandemi Covid-19 masih meluas di Indonesia. Membuat kegiatan wisuda di kampusku dan beberapa kampus lain harus dilaksanakan secara Online. Para mahasiswa melewati acara ceremonial tersebut dengan panggilan video yang dilakukan secara masal.

Namun, memang dalam kegiatan wisuda di kampusku terdapat beberapa wisudawan terbaik yang diundang secara offline. Lagi dan lagi aku selalu menanamkan pada diriku bahwa apa yang terjadi pada setiap detik di kehidupanku sudah diatur oleh yang di atas. Menurutku apapun yang aku dapat pertama terjadi berkat doa kedua orang tuaku, lalu faktor keberuntungan😂, dan terakhir karena sebuah harapan yang tidak direncanakan😁

Masih teringat ketika tiba-tiba aku berkata sambil bercanda, "Semoga dd bisa jd salah satu dari wisudawan tebaik ya, biar bisa wisuda offline. Siapa tau yekan wkwk," kataku yg dibalas, "Aamiin," dengan suara besemangat dari kedua orang tuaku.

Btw sebenarnya aku adalah orang yg terbilang santai ketika menginginkan sesuatu. Sepertinya sejak PSBB dilakukan kumulai belajar berpikir positif terhadap berbagai hal, mulai menanamkan dalam diriku untuk berpikir, "Ah kalo rezeki juga ga kemana, kalo ga dapat berarti bukan rezeki. Jadi tentang suatu hal yang diinginkan ga usah terlalu terburu2, terlalu memaksakan sesuatu, dan ga perlu dipikirin amat lah. Allah tau yg terbaik kok." (Hal itu mulai kutanamkan karena berdasarkan pengalamanku sesuatu yang terlihat dipaksaan,  tidak akan berakhir dengan baik dan sejujurnya aku adalah orang yang sangat takut merasa kecewa. Dengan perasaan bodoamat dan menyerahkan semua pada Allah SWT menurutku bisa mengurangi rasa kecewa ketika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi😁)

Namun, ternyata tidak dengan orang tuaku. Kata-kataku membuat mereka sangat berharap itu benar terjadi. Sampai suatu hari setelah menerima marksheet terakhir (Pengumuman IP) ibu yang biasanya hanya menanyakan berapa IP ku, tiba-tiba mengeluarkan semua marksheet-ku mulai dari semester 1 dan mengajak ayah menghitung rata2 nilai IP yang ku dapat. Katanya, "Ayah yang hitung pake kalkulor, ibu yang sebutin ya." Melihat ibu sangat bersemangat membuatku tertawa sendiri dan mulai menggodanya, "Ah paling ada yang lebih tinggi dari nilai dd wkwk." 

"Ya jangan berdoa kaya gitu lah. Semoga aja beneran bisa offline," jawab ibu dengan wajah kesalnya🤭.

Fyi aku, ayah, dan ibu memang suka menjadikan sesuatu jadi bahan candaan, apalagi kalo salah satu dari kita sedang kesal. Kalo kata ayah, "Ga usah serius-serius amat kale,"😂

Sampai memasuki bulan wisuda belum juga ada kabar siapa yang akan dikirim. "Mungkin emang ga diinfoin secara luas kali ya," kataku dalam hati.

Lalu aku berkata pada ayah dan ibu, "Kayanya bukan dd deh yang dikirim. Udah diinfoin kali ya soalnyavteman dd ditajya juga ga tau." Tiba2 ibu menjawab dengan merasa yakin dan raut wajah yang terlihat kesal, "Ga belum diinfoin itu berarti," dan kujawab, " Masa iya hari gini belum ada info." "Ngga belum ada info, itu" katanya masih dengan yakin dan raut wajah kesalnya.😂 Sambil bertatapan aku dan ayah hanya bisa bereaksi, "WKWKWK." Kami tertawa karena melihat ekspresi ibu yang tampak kesal dan seakan-akan ibu mengetahui segalanya😂

Beberapa hari setelah kejadian itu, dari sebuah kalimat yang seseorang kirim di grup yang berisi seluruh mahasiswa prodi satu angkatan, aku merasa bahwa ada salah satu orang sudah tertunjuk sebagai perwakilan. 

Lalu aku menyampaikannya pada ibu, "Teman dd udah ditunjuk jadi perwakilan,Bu." Dengan wajah terlihat kecewa ibu masih menjawab, "Emang iya? Bukan kali. Emang udah diumumin?" Katanya.

Aku hanya membalas dengan tawa dan berkata, "Laah ya udah diumumin berarti wkwk." 

Sebenarnya mihat wajah kecewa ayah&ibu membuat aku sedih juga sedikit merasa kecewa awalnya, tapi setelah kuberpikir lagi, "Berarti bukan rezekiku. Mungkin ada suatu hal yang tidak kuketahui dan membuat Allah tidak menjadikanku perwakilan," kataku dalam hati.

Setelah itu, rasa kecewaku hilang dengan cepat. Aku juga sudah mulai melupakannya.

Mempersiapkan wisuda online menurutku tidak terlalu rumit. Hal itu karena tidak seluruh badan akan terlihat di kamera. 

Akhirnya aku mulai kembali fokus pada hobiku dalam memasak dan fokus pada bisnis yang memang sedang kujalani.

Pada suatu siang saat sedang sibuk membuat pesanan, aku membuka telpon genggamku untuk melihat waktu. Kulihat terdapat pesan dari grup yang diberi nama, "Lulusan Terbaik Prodi".

Akibat terkejut tiba-tiba aku berteriak, "Ayaaaah dd jadi perwakilan." 

Ayahku yang sedang berbaring di kasurnya tiba-tiba terbangun. Ia langsung memeluk & menciumku, "Kasih tau ibu, pasti seneng banget dia," kata ayah.

Melihat reaksi ayah membuatku merasa terharu. Sebenarnya ayah selalu mendorongku mengerjakan sesuatu sesuai kemampuanku. Ia tidak pernah mengharuskan ketiga anaknya menjadi terbaik dalam hal apapun. 

Namun, ternyata dalam hal ini ayah juga mengharapkanku bisa menjadi perwakilan prodi dan bisa melaksanakan wisuda secara offline.

Ibu yang saat itu sedang bekerja ku kabari lewat telpon. "Bener kan kata ibu," katanya sambil bergurau saat sudah di rumah.

Ternyata doa dan harapan orang tua memang terbaik karena menurutku ini semua terjadi benar-benar karena mereka.

Mungkin tidak semua orang mengangggap menjadi perwakilan adalah hal yang penting, bahkan mungkin banyak orang menganggap itu hal bisa. Namun, entah mengapa secara tiba-tiba aku memang mengharapkan ini.

Semua orang memiliki rezekinya masing-masing dan aku bersyukur dengan rezeki yang diberikan kepadaku kali ini. 

Kuberharap dengan banyaknya rezeki yg Allah berikan aku bisa semakin memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. Aamiin.

Share:

Rabu, 21 Oktober 2020

Antara Sidang dan Penipuan

 



Aku akan menceritakan secara detail kejadian ketika aku mengalami penipuan saat berbelanja di situs jual beli online. Peristiwa tersebut terjadi tepat satu hari sebelum sidang Tugas Akhir yang aku jalani.

Dahulu ketika melihat orang lain yang mengalaminya, terkadang aku berpikir, "Padahal udah banyak modus kaya gitu ko orang masih bisa ketipu ya." Namun, ketika mengalaminya sendiri itu semua berbeda. Aku merasa tidak bisa berpikir jernih saat itu semua terjadi. 

Cerita ini kubagikan dengan harapan bisa menjadi pelajaran untuk semua yang membacanya agar tidak terulang kembali. Selain itu, agar kejadian ini bisa selalu kuingat dan juga bisa menjadi pelajaran untukku dan keluargaku ke depannya☺️

Pada 28 Juli 2020 ayah memintaku memesan sebuah sepeda yang sangat ia inginkan di sebuah aplikasi jual-beli online. Tanpa melihat secara detail toko tersebut aku langsung melakukan pemesanan dan pembayaran sekitar hampir 9 juta rupiah.

Sepulang dari ATM aku memberi kabar kepada penjual jika pembayaran sudah selesai dan meminta agar barang segera dikirim. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar pukul 3 sore, kulihat telpon genggam ayah berdering. Sebuah no telpon tak dikenal memanggil. Ternyata itu adalah penjual sepeda, yang sejak tadi sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan. Ia meminta agar aku membuka sebuah link yang ia kirim dan mengisi alamat rumah dengan alasan untuk mempermudah pengiriman. 

Ia menghubungiku di luar percakapan aplikasi sehingga aku meminta agar pembicaraan dilakukan via pesan aplikasi saja. Ia menolak dengan alasan fast respon melalui pesan di luar aplikasi. 

Aku mulai curiga, tetapi ntah karena terhipnotis atau memang akibat panik penipu terus mengirim pesan tanpa jeda dan seperti memburu-buru, membuatku tidak bisa berpikir jernih. Aku tetap membuka link yang ia kirim. 

Pada link tersebut berisi sebuah web yang seakan-akan memang berhubungan dengan aplikasi online shop. Sama seperti ketika masuk ke dalam akun online shop, aku diharuskan memasukkan email, pasword, dan kode OTP. Selanjutnya aku disuruh memilih jasa pengiriman apa yang akan digunakan. Kuisi link tersebut beberapa kali, tetapi selalu muncul tulisan gagal mengirim. 

Semakin curiga akhirnya aku segera menghubungi CS online shop tersebut, dengan penjual yang masih terus mengirim pesan dan mencoba menelponku. 

CS mengatakan jika itu adalah penipuan dan memintaku untuk membatalkan pesanan. Lalu aku bertanya, " Saya tidak mencantumkan rekening di aplikasi dan transfer melalui virtual account, kira-kira uangnya akan kembali ke rekening yang mengirim atau bagaimana ya?" "Iya uang akan kembali ke rekening pengirim," jawabnya. Mendengar hal itu aku sedikit tenang. 

Selain itu, pada pembicaraan itu CS juga memintaku untuk membuat laporan melalui email kepada pihak online shop dan aku ikuti.

Beberapa menit setelahnya, penjual menyetujui pembatalan pesanan. Aku pergi ke ATM memastikan apakah uang sudah kembali karena aku masih mempercayai perkatan CS. 

Namun, sebelum pergi kuingat pada link tersebut aku diminta mengisi email dan pasword sebelum masuk. Dengan cepat aku berpikir mungkin orang tersebut sudah bisa masuk ke akun google milik ayah dan pastinya bisa mengakses seluruh komponen yang berkaitan dengan goggle. Akhirnya dengan segera aku mengganti password itu.

(Aku sangat bersyukur karena bisa melakukan hal yang tepat di waktu yang tepat pula, jika tidak dengan memegang akun email maka penipu bisa melakukan berbagai macam hal, termasuk menggagalkan laporanku tentang penipuan ke pihak online shop yang kulakukan via email).

Setelah melihat di ATM ternyata uang pengembalian belum masuk. Aku memutuskan kembali ke rumah karena kupikir mungkin memang uang masih dalam proses pengembalian. 

Langit di luar semakin gelap, kumandang adzan magrib juga sudah terdengar. Aku yang saat itu sedang menjalankan puasa sunah langsung menuju ruang makan untuk berbuka sambil tetap mengingat-ingat akun-akun apa lagi yang perlu kuubah. Namun, hatiku terasa tidak tenang, akhirnya ayah menyuruhku kembali menghubungi CS.

Kuceritakan semua yang terjadi tadi sore. Dari percakapan itu aku mengetahui ternyata penipu sudah bisa membuka akun online shop milik ayah dan mencantumkan rekening miliknya. Dari yang kulihat, rencana yang ia/mereka miliki dengan mencantumkan rekening miliknya adalah karena akun ayah tidak terdaftar dengan dompet digital yang dimiliki online shop, sehingga setelah pembatalan uang akan masuk ke rekening tertera, yaitu rekening penipu karena aku juga tidak mendaftarkan rekening apapun pada akun tersebut.

CS memintaku untuk melengkapi laporan melalui email. Ia juga berkata jika aku harus menunggu jawaban laporanku 3 hari kerja, tetapi ia berusaha agar laporanku diutamakan.  

Aku benar-benar tidak bisa membayangkan menunggu selama itu tanpa kejelasan. Beberapa jam setelahnya kulihat terdapat pesan jika akun ayahku sudah dibekukan. Hal itu semakin membuatku tidak tenang, tetapi malah menimbulkan pertanyaan, "Kira-kira dibekukan karena ada laporan dariku atau karena ulah penipu yg sudah mendapatkan uang ya," tanyaku dalam hati.  

Selain itu, timbul juga pertanyaan "Apakah uang sudah terkirim kepada penipu atau masih berada di pihak online shop karena masih menunggu proses?"

Akhirnya ayahku memutuskan kembali menghubungi CS. Setidaknya kami mengetahui apakah masih ada harapan atau tidak. Namun, ternyata CS tidak bisa menjanjikan karena mereka bilang itu adalah kerja sistem sehingga ia sendiri tidak mengetahuinya. 

Aah saat itu aku benar-benar merasa pusing, pikiranku tentang sidang esok hari juga sudah hilang. Otakku seperti berputar lebih cepat, kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan, "Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menyenyelesaikan ini semua😔" Aku merasa ini semua salahku dan aku harus bertanggung jawab. Ku hubungi CS berkali-kali karena belum juga dapat kejelasan tentang uang tersebut.

Mengingat jika besok aku sidang ayah berkata padaku, "Udahlah ga usah dipikirin kalo rezeki ga kemana uang insyaallah bisa dicari lagi. Kamu sekarang fokus aja ke sidang besok," katanya. 

Benar juga perkataan ayah, kalau rezeki uang itu pasti kembali. Namun, tetap saja aku tidak bisa tenang. Malam itu aku tidak bisa tidur. Kali ini bukan uang yang kupikirkan, tetapi selalu berputar dalam pikiranku, "Akun apa lagi ya yang harus diselamatin." Memang benar jika uang bisa dicari lagi, tetapi sangat berbahaya jika akun sudah dipegang oleh orang jahat. Pasti akan disalahgunakan dan akan lebih rumit ke depannya. 

Malam itu mungkin aku hanya bisa memejamkan mata selama dua jam. Begitu juga dengan ayahku. 

Esok hari aku memutuskan fokus pada sidang Tugas Akhir. Kupelajari lagi materi-materi yang akan kupresentasikan. 

Detik-detik sebelum sidang kuisi dengan berdoa dan berzikir seperti yang disarankan salah satu kakak tingkat yang sangat peduli padaku.

Aku melaksanakan sidang selama kurang lebih 30 menit. Selesai sidang, kembali ayah mendiskusikan kejadian kemarin. Akhirnya ayah memutuskan kembali menelpon CS hanya ingin mengetahui apakah uang itu masih bisa diharapkan atau tidak. Jika memang sudah tidak bisa kembali, kami bertanya tentang apa yang bisa kami lakukan. Namun, sayangnya CS masih memiliki jawaban yang sama jika itu semua adalah kerja sistem dan mereka tidak bisa menjanjikannya. Mereka juga tidak memberikan kami saran hal apa yang harus kami lakukan jika uang memang sudah hilang.

Percakapan terakhir dengan CS membuat  kami tau bahwa hal yang bisa dilakukan saat itu hanyalah menunggu dan berdoa. 

Hari-hari berlalu dengan berusaha mengikhaskan dan terus berdoa. Namun, Allah maha baik, beberapa hari setelah kejadian, tepatnya pada hari perayaan Idul Adha aku menerima pesan jika uang yang kami miliki bisa kembali secara utuh.

Alhamdulillah berkat kebaikan Allah dan usaha maksimal yang kami lakukan uang itu masih menjadi rezeki kami. 

Begitulah pengalamanku hampir tertipu jutaan rupiah. Semoga kisahku kali ini bermanfaat☺️




Share:

Senin, 19 Oktober 2020

Kisah Di Balik Sidang Tugas Akhirku

29 Juli 2020, beberapa minggu setelah mendaftar, akhirnya aku menjalankan sidang. Pandemi Covid-19 yang masih meluas, serta belajar mengajar di rumah yang masih diberlakukan, membuat sidang dilakukan secara daring melalui video. 

Meskipun pelaksanaan sidang dilakukan tanpa tatap muka secara langsung dengan penguji, tetapi tetap saja siapapun yang melaksanakan pastilah akan merasakan kekhawatiran sebelumnya. Merasa gelisah, bahkan tidak bisa tidur pada malam H-1 sidang mungkin biasa terjadi. Begitu juga denganku.

Namun, berbeda dengan mahasiswa lainnya, aku merasa gelisah dan tidak bisa memejamkan mata pada H-1 sidang bukan karena memikirkan bagaimana nasibku esok hari, tetapi karena kejadian penipuan yang keluargaku alami.

Pada suatu siang, satu hari sebelum sidang, tiba-tiba ayahku menghampiri, "Dek ayah mau beli sepeda lipat ya (sambil menunjukkan salah satu toko di aplikasi jual-beli online orange). Nanti tolong transferin," katanya. 

Memang sudah beberapa hari kebelakang ayahku tiap jam, tiap hari tak henti membicarakan tentang sepeda. Padahal sudah ada 3 buah sepeda di rumah kami, tetapi ia memang sangat ingin memiliki sebuah sepeda lipat karena sepeda kami lainnya bukan jenis itu. Ia bilang itu adalah sepeda yang banyak diminati orang karena memang saat itu hanya dijual dalam jumlah sedikit.

Sebenarnya sejak awal aku dan ibu tidak setuju dengan keinginan ayah karena merasa rumah kami sudah terlalu penuh jika harus menambah barang lagi. Selain itu, aku takut sepeda itu tidak akan terpakai. Namun, melihat keinginan ayah yang sangat kuat membuatku dan ibu menyetujuinya.

Akhirnya siang itu juga aku melakukan pemesanan. Padahal biasanya ketika ayah memintaku melakukan pemesanan suatu barang, aku akan melihat secara detail toko tersebut sebelumnya, apakah sudah ada testimoni dari orang atau berapa jumlah pembeli yang sudah pernah melakukan transaksi dengan toko itu. Namun, entah mengapa, mungkin juga karena aku sudah terlalu malas membahas sepeda, aku langsung pesan dan pergi untuk melakukan pembayaran yang nominalnya tidak sedikit, yaitu hampir 9 juta rupiah. 

Sepulang dari ATM aku memberi kabar penjual jika pembayaran sudah selesai dan meminta agar barang segera dikirim. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar pukul 3 sore, kulihat telpon genggam ayah berdering. Sebuah no telpon tak dikenal memanggil. Ternyata itu adalah penjual sepeda, yang sejak tadi sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan. Ia meminta agar aku membuka sebuah link yang ia kirim dan mengisi alamat rumah dengan alasan untuk mempermudah pengiriman. 

Ia menghubungiku di luar percakapan aplikasi sehingga aku meminta agar pembicaraan dilakukan via pesan aplikasi saja. Ia menolak dengan alasan fast respon melalui pesan di luar aplikasi. 

Aku mulai curiga, tetapi ntah karena terhipnotis atau memang akibat panik penipu terus mengirim pesan tanpa jeda membuatku tidak bisa berpikir jernih, diriku tetap membuka link yang ia kirim. Kuisi link tersebut beberapa kali, tetapi selalu muncul tulisan gagal mengirim. 

Semakin curiga akhirnya aku menghubungi CS online shop tersebut, dengan penjual yang masih terus mengirim pesan dan mencoba menelponku. Dari perbincangan itu aku mengetahui jika itu adalah penipuan. 

Orang tersebut sudah memasuki akun google dan juga akun online shop milik ayah. Dari yang kuperhatikan ia berencana menguasai seluruh akun google agar aku tidak bisa melakukan pelaporan. ia juga sudah mendaftarkan norek miliknya  agar uang pengembalian terkirim ke norek tersebut.

Aah saat itu aku benar-benar merasa pusing, pikiranku tentang sidang esok hari juga sudah hilang. Otakku seperti berputar lebih cepat memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan akun-akun milik ayah agar tidak disalahgunakan, serta uang yang sudah terkirim dengan jumlah yang tidak sedikit itu. Kuhubungi CS online shop berkali-kali hingga malam tiba untuk memastikan laporanku sudah diterima dan ditindak lanjut. 

Entah siapa yang sebenernya salah dalam kejadian ini, tetapi tetap saja aku merasa ini semua salahku dan aku harus bertanggung jawab. Terbesit dalam pikiranku, "Jika saja ayah tidak terburu-buru dalam membeli sesuatu, jika saja aku tidak terlalu menanggapi permintaan ayah, jika saja aku tidak mengisi link yang dikirim, jika saja, jika saja.. aahh lagi-lagi jiwa manusiawiku keluar. Rasanya aku ingin menyalahkan apa yang sudah terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Saat itu aku tidak tau bagaimana nasib uang tersebut, mengingat dompet digital dan no rekening ayah tidakku daftarkan. Hanya norek penipu yang terdaftar sebagai rekening utama tanpa bisa kuubah meski sudah mencoba. 

Aku merasa seperti sudah tidak ada harapan. Melihat tidak ada lagi hal yang bisa kulakukan sebagai manusia, cepat-cepat aku beristighfar. Aku ingat bahwa semua yang terjadi sudah dibawah rencana Allah SWT dan sudah diatur oleh -Nya. Buru-buru aku katakan pada diriku untuk tidak menyalahkan siapapun dan lebih baik fokus mencari jalan keluar.

Mengingat jika besok aku akan melaksankan sidang ayah berkata padaku, "Udahlah ga usah dipikirin kalo rezeki ga kemana uang insyaallah bisa dicari lagi. Kamu sekarang fokus aja ke sidang besok," katanya. 

Benar juga perkataan ayah, kalau rezeki uang itu pasti kembali. Namun, tetap saja aku tidak bisa tenang. Malam itu aku tidak bisa tidur, mungkin aku hanya bisa memejamkan mata selama dua jam. Begitu juga dengan ayahku. Hal tersebut karena setelah melapor dengan berbagai cara, kami belum mendapat kepastian apakah uang itu masih bisa diharapkan atau memang sudah terkirim ke rekening penipu.  

Pagi pun tiba, aku memutuskan membuang jauh jauh pikiran tentang kejadian semalam untuk sementara. Aku fokus pada materi Tugas Akhir karena jadwal sidangku pukul 10.30 WIB. 

Detik-detik sebelum sidang kuisi dengan berdoa dan berzikir seperti yang disarankan salah satu kakak tingkat yang sangat peduli padaku.

Aku melaksanakan sidang selama kurang lebih 30 menit. Alhamdulillah semua kulalui dengan lancar, meskipun aku sedikit kecewa karena mendapatkan nilai tidak sesuai harapan😔

Selesai sidang badanku terasa lemas, mungkin karena kemarin aku tidak banyak makasn saat berbuka dan hari itu aku memutuskan meneruskan puasa sunah yang memang seharusnya dilaksanakan selama beberapa hari. 

Setelah merapikan laptop dan keperluan sidang lainnya, kembali ayah mendiskusikan kejadian kemarin. Akhirnya ayah memutuskan kembali menelpon CS. Namun, sayangnya CS masih memiliki jawaban yang sama seperti kemarin. Menurutnya itu semua adalah kerja sistem dan mereka tidak bisa menjanjikannya. Mereka juga tidak memberikan kami saran hal apa yang harus kami lakukan jika uang memang sudah hilang.

Percakapan terakhir dengan CS membuat  kami tau bahwa hal yang bisa dilakukan saat itu hanyalah menunggu dan berdoa. 

Hari-hari selanjutnya kami lalui dengan berusaha mengikhlaskan semuanya, tetapi tetap berdoa dan meminta pada Allah diberikan yang terbaik. Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya pada hari perayaan Idul Adha aku menerima pesan jika uang yang kami miliki bisa kembali secara utuh. Alhamdulillah, berkat kebaikan Allah dan usaha maksimal yang kami lakukan uang itu masih menjadi rezeki kami. 

Allah benar-benar maha baik. Meskipun dengan adanya kejadian itu, aku tetap diberi kelancaran dan kemudahan untuk melalui sidang TA. Allah juga masih mengembalikan uang tersebut. Dari kejadian itu aku dan keluargaku lagi-lagi merasa bersyukur karena banyak pelajaran yang Allah SWT berikan pada keluarga kami. Bahwa sesuatu yang terburu-buru sangat tidak baik, sekalipun itu adalah sesuatu yang sangat diinginkan dan mampu untuk didapatkan. Allah juga mengajarkan kami, khususnya diriku, untuk selalu detail dalam segala hal sekalipun sudah sangat malas berurusan dengan hal itu. Mengajarkan kami juga untuk selalu berhati-hati dalam segala hal dan tidak mudah percaya.

Begitulah pengalamanku melewati satu hari sebelum sidang Tugas Akhir. Semua benar-benar di luar dugaan. Aku yang rencananya ingin menenangkan pikiran pada H-1 sidang ternyata malah harus berpikir lebih keras karena kejadian tersebut. Di lain waktu mungkin aku akan menjelaskan secara detail bagaimana proses pelaporan yang aku jalani hingga uang bisa kembali😊


Share:

Minggu, 18 Oktober 2020

Mengerjakan Tugas Akhir di Masa Pandemi

Akhir Maret 2020 adalah waktu Tugas Akhir mulai kukerjakan. Tugas Akhir (TA) adalah salah satu syarat kelulusan  yang harus kulalui agar bisa lulus jenjang Diploma 3. 

Pada awal April tiba-tiba saja terjadi pandemi yang menggemparkan dunia. Yaa, virus Covid-19 atau biasa disebut Corona mulai menyebar di Indonesia. Guna menurunkan angka penyebaran virus yang berasal dari Wuhan China tersebut, pada 10 April 2020 pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).  

Pada masa itu pemerintah mewajibkan agar seluruh aktifitas dilakukan di rumah mulai dari bekerja, sekolah, hingga kegiatan lainnya. Pada awalnya PSBB direncanakan berlaku hanya selama 2 minggu, tetapi akhirnya diperpanjang beberapa kali.

Berlakunya PSBB membuat mahasiswa tingkat akhir hanya bisa melaksanakan bimbingan melalui online. Dalam pengerjaan TA setiap mahasiswa dibimbing oleh dua dosen, materi dan teknis. Setiap dosen kurang lebih membimbing 20 mahasiswa.

Bimbingan materi dilaksanakan lebih dulu. Sebenarnya bimbingan ini sudah dimulai pada akhir Maret, beberapa minggu sebelum PSBB diberlakukan, dan berjalan dengan lancar. Namun, kesulitan mulai timbul setelah pemberlakukan PSBB. 

Banyaknya mahasiswa dan pelarangan pembelajaran tatap muka membuat dosen pembimbing (dospem) beberapa kali harus mengubah sistem bimbingan. 

Awalnya bimbingan dilakukan via pesan singkat dengan mengirim file berupa word. Namun, karena dinilai kurang efisien, membuat dosen mengubah sistem bimbingan melalui telpon.

Biasanya dosen hanya membuka bimbingan beberapa kali dalam satu minggu. Bahkan terkadang dalam satu minggu ditiadakan bimbingan. Biasanya mahasiswa dipersilakan mencantumkan nama mereka dengan jumlah yang sudah dibatasi. Hal tersebut membuat kami para mahasiswa harus sigap mencantumkan nama agar bisa mengikuti jadwal bimbingan. Terlambat sedikit alamat harus menunggu bimbingan selanjutnya yang entah kapan akan dilaksanakan. Meskipun masih dirasa kurang maksimal, tetapi sistem bimbingan tersebut kami lakukan hingga akhir. 

Sebenarnya sistem bimbingan itu membuat banyak mahasiswa seperbimbinganku khawatir. Dosen menjadi sulit dihubungi dan kami harus bermain cepat untuk mencantumkan nama ketika waktu bimbingan sudah diinfokan. Selain itu, dosen yang membimbingku sangat memperhatikan dan mengutamakan BAB 2 TA. Hal tersebut membuat kami harus mencari banyak referensi terpercaya untuk digunakan sebagai landasan teori. Belum lagi larangan aktifitas di luar dan ditutupnya banyak perpustakaan juga menjadi alasan kekhawatiran mahasiswa semakin bertambah.

Pada awalnya aku juga sempat merasa khawatir dengan sistem bimbingan yang diberlakukan. Sebenarnya aku adalah orang yang suka mengikuti kata hati. Aku juga mulai belajar menyerahkan semua yang ada di hidupku pada yang di atas. Ketika pengerjaan TA mulai kujalani, suatu hari saat sedang berdoa selesai melaksanaan sholat, tiba2 saja mulutku mengucapkan kata2 yang benar2 keluar dari dalam hatiku. "Ya Allah, aku ingin mengerjakan TA dengan mudah dan menikmati setiap prosesnya." (Itu karena aku pada tahap kelulusan sebelumnya tidak menikmati setiap proses sehingga membuatku sedikit trauma hehe)

Terus dan terus mulut ini selalu mengulang permintaan itu. Hingga tanpa kusadari aku benar-benar menikmati setiap proses bimbingan sehingga tidak merasa terbebani.

Ketika dosen tidak kunjung menginfokan waktu bimbingan, aku lebih memilih mengerjakan hobiku dalam memasak. Hal tersebut ternyata juga bisa membuatku berpikir positif, "Mungkin memang belum waktunya bimbingan, atau mungkin dosen kami sedang sibuk dengan pekerjaannya. Alhamdulilah deh jadi bisa bikin kue lagi hehe," kataku dalam hati.

Kuikuti alur pengerjaan TA dengan santai, tetapi tidak lupa juga untuk selalu meminta pada-Nya. Ketika sudah selesai mengerjakan revisi dan bimbingan selanjutnya belum diinfokan, aku tetap menyalurkan hobi memasak dan mencoba menu-menu baru hehe. 

Hal yang paling kutakuti ketika bimbingan adalah saat dosen sudah membahas tentang teori ahli. "Pasti disuruh ganti teori nih," kataku dalam hati. Meskipun pada awalnya aku merasa takut, tetapi dengan kembali berserah diri pada yang di atas ternyata aku bisa melewatinya. Secara perlahan aku mencari teori lain melalui jurnal online. Terkadang aku juga membaca e-book di aplikasi perpustakaan. Ternyata dengan kesabaran dan berserah diri semua teori yang kubutuhkan bisa kudapat😊

Mungkin sekitar kurang lebih 3 bulan, akhirnya aku bisa menyelesaikan bimbingan materi. Alhamdulillah aku menjadi mahasiswa pertama yang dinyatakan selesai bimbingan materi dengan dospemku. 

Selanjutnya aku menghubungi dospem teknik TA ku. Dosenku kali ini memberlakukan sistem bimbingan via pesan singkat. Butuh sekitar kurang dari 1 bulan hingga aku bisa menyelesaikan bimbingan teknis.

Akhirnya setelah semua bimbingan sudah kuselesaikan, aku mendaftar sidang pada 8 Juli 2020. Aku menunggu hingga jadwal sidang diumumkan dengan tetap melaksanakan hobi memasakku hehe.

Ternyata menyerahkan semua pada takdir Allah SWT memang sangat menentramkan hati. Dengan cara itu aku bisa menyelesaikan TA dengan baik dan lancar. Pemikiranku tanpa sadar juga menjadi positif. 

Bahkan jika ditanya tentang perasaanku mengerjakan TA di tengah pandemi, jawabanku adalah aku sangat bersyukur. Alasannya karena jika saja aku tidak menyelesaikannya saat pendemi, mungkin aku akan lebih sibuk bolak balik ke kampus untuk bimbingan. Bahkan mungkin tidak ada waktu untuk menyalurkan hobiku dalam memasak hehe. 

Itu lah pengalamanku dalam mengerjakan  Tugas Akhir di tengah pandemi. Semoga aku bisa menceritakan pengalaman lainnya di lain waktu😊

Share:

Sabtu, 17 Oktober 2020

Kunjungan Singkat Pengabdian, Menjadi Pengalaman Tak Terlupakan

Ketika masih aktif menjadi anggota himpunan jurusan, aku dan beberapa teman mengajukan diri menjadi delegasi untuk menghadiri undangan kegiatan bakti sosial. Itu terjadi pada awal Februari 2019. Baksos tersebut dilakukan dalam hal pengembangan desa dan belajar mengajar yang diadakan di salah satu desa terpencil, yang terletak di wilayah Bogor. 

Itu merupakan kegiatan yang diadakan salah satu organisasi mahasiswa di kampusku. Pada acara tersebut panitia akan menetap di suatu wilayah terpencil yang masih minim dalam fasilitas belajar mengajar, baik pengajar maupun alat-alat yang digunakan.

Sebelum menuju desa, kami harus bertemu di titik kumpul yang masih dilewati motor dan mobil. Di sana kami akan dijemput oleh panitia. 

Beberapa saat kami tiba, hujan turun dengan sangat deras. Membuat kami harus menunggu di titik kumpul lebih lama. Aku masih ingat saat itu kami menunggu di depan sebuah warung yang sedang tutup di pinggir jalan. Di sana kami mengisi waktu dengan bermain, entah permainan apa yg kami mainkan aku tidak ingat betul karena itu terjadi lebih dari satu tahun yang lalu hehe. Yang jelas kami bermain untuk mengusir rasa bosan saat menunggu hujan berhenti.

Satu jam, dua jam, atau bahkan lebih entahlah berapa lama kami menunggu di sana. Ketika sedang menunggu, salah satu panitia berkata, "Harus hati-hati nih jalanan pasti licin, kemarin aja banyak yg jatuh." Mendengar itu membuat keberanian aku si anak penakut menjadi ciut dan rasanya ingin pulang saja hehe. "Dev, pengen pulang aja iih," kataku pada salah satu teman. "Mau naik apa ga ada angkot juga," jawabnya. Memang benar kulihat angkutan umum sudah tidak menjamah wilayah itu. Hal itu membuatku memutuskan utk tetap melanjutkan perjalanan. (Btw, kami bisa sampai ke tikum dengan ojek mobil online. Itu pun driver nya sudah ngedumel karena jarak yang jauh hehe.)

Setelah hujan reda, kami putuskan melanjutkan perjalanan. Desa yang kami tuju jauh dari perkotaan dan jalan raya. Kami menggunakan kedaraan roda dua, yang dikendarai oleh rombongan laki-laki. Kami para perempuan disarankan untuk tidak menyetir sendiri jika memang membawa motor. 

Medan perjalanan yang harus kami lalui sangat mengerikan. Kami harus melewati jalan setapak dengan sawah di kanan dan kirinya. Terkadang di sepanjang jalan yang bisa kulihat hanya pohon pohon tinggi dengan jurang yang curam disampingnya . Belum lagi keadaan jalanan yang licin membuat kami harus ekstra hati-hati. Hal itu juga membuat salah satu rombongan sempat terjatuh. 

Tak jarang kami para penumpang harus turun dari kendaraan dan berjalan beberapa meter, seperti misalnya ketika tanjakan tinggi, atau turunan curam. Hal itu kami lakukan untuk memudahkan pengemudi melalui jalanan yang dianggap berbahaya. 

Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di tempat tujuan. Saat itu langit sudah gelap. Kulihat banyak rumah warga yang berdiri berdempetan tak beraturan. Ada yang di atas dan di bawah. Tidak ada aspal di sana, hanya tanah merah dan sedikit jalan yang dicor membuatku harus berhati-hati dalam melangkah. 

Kami diantar ke salah satu rumah milik warga yang memang digunakan sebagai tempat tinggal panitia selama mengabdi di sana. Rumah yang digunakan panitia wanita dan laki-laki berbeda. Ketika aku memasuki rumah, kulihat ruangan sudah dipenuhi panitia dan tamu lain yang lebih dulu tiba.  Ruangannya tidak besar, tapi aku masih bisa masuk ke sana. Mungkin sebagian panitia tidak tidur di rungan itu. Entahlah aku tidak tau pasti. 

Kami tidur di lantai beralaskan tikar dengan posisi tidak beraturan.  Badanku terasa gatal karena gigitan nyamuk, membuatku tidak bisa tidur malam itu. Terkadang aku bangun, duduk, dan memperhatikan sekelilingku. Mereka semua sudah tertidur, mungkin karena lelah setelah kegiatan dan perjalanan tadi. Akhirnya kupaksakan mata ini untuk terpejam.

Keesokan harinya, ketika pagi tiba aku dan kawanku pergi ke sebuah toilet umum. Kami hanya menggosok gigi dan mengambil wudhu untuk sholat karena memang sebelumnya sudah diinfokan jika di sana sulit mendapatkan air. Hal itu membuat kami memutuskan untuk tidak mandi.

Ketika langit sudah terang, kami para tamu dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang pergi ke sekolah SD, SMP, dan Paud. Aku dan kawanku ikut dengan kelompok Paud.


Sebelum tiba di ruang belajar yang merupakan sebuah aula milik warga, kami harus berkeliling ke rumah-rumah warga untuk mencari dan mengajak anak2 bersekolah. Ternyata mengajak mereka tidak semudah yang dibayangkan. Ada yang langsung mau, tapi tidak sedikit yang enggan. Membutuhkan waktu lumayan lama untuk bisa merayu mereka.

Setelah kami bisa membawa beberapa anak, kami menuju ke aula, bangunan tanpa cat dengan beberapa jendela tanpa kaca. Ruangan itu lumayan besar, karena memang biasanya digunakan warga setempat sebagai tempat berkumpul jika ada kegiatan, sehingga muat untuk diisi anak-anak yang akan melaksanakan belajar.




Sebagai tamu, kami di sana ikut bermain dan belajar bersama murid-murid hingga kelas selesai. 

Setelah itu, kami memutuskan berkunjung ke Sekolah Dasar di wilayah itu. Jaraknya jauh dari permukiman warga. Ketika tiba kulihat sebuah bangunan berdiri di atas tanah merah dengan lapangan lumayan luas yang juga masih berupa tanah merah. Banyak anak-anak berlarian ke sana kemari, sepertinya saat itu sedang waktu istirahat. 


Aku menyempatkan masuk ke dalam kelas untuk melihat-lihat. Di dalam salah satu ruang kelas tanpa pintu dengan lantai corcoran, aku hanya bertemu beberapa siswa karena yang lain memang sedang berada di luar kelas. Setelah selesai melihat-lihat kami putuskan kembali ke permukiman. 

Aku dan kawan-kawan hanya berkunjung satu hari satu malam. Setelah kegiatan selesai kami kembali ke titik kumpul keberangkatan dengan diantar beberapa panitia.

Dengan waktu yang sedikit, tidak banyak yang kulakukan di sana karena memang aku dan beberapa kawan hanya sebagai tamu. Namun, dari kesempatan ini aku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Ternyata di balik hiruk pikuk kemacetan Kota Bogor masih ada sebuah desa terpencil yang sangat berbalik dengan perkotaan. 

Saat baru tiba kemarin, aku tidak menyangka ternyata benar-benar ada sebuah desa dibalik sebuah hutan. Aah benar-benar pengalaman tak terlupakan. Dari pengalaman tidur diatas dingin dan kerasnya lantai beralaskan sebuah karpet, sulitnya mendapatkan air, serta perjalanan yang sulit dan menakutkan hingga bisa tiba di sana, mengajarkanku untuk selalu bersyukur dan tidak boleh menyia-nyiakan sesuatu yang kumiliki. 

Aku mengunjungi desa terebut lebih dari satu tahun yang lalu, jadi aku tidak mengetahui kondisi desa saat ini. Kudengar dari salah satu kawan jika beberapa fasilitas sudah diperbaiki berkat kegiatan bakti sosial tersebut☺️

Terima kasih untuk kesempatan satu malam satu hari yang diberikan. Aku tidak menyesal dengan keputusanku meneruskan perjalanan, tapi aku malah bersyukur dengan keputusan yang sudah kubuat😍



Share:

Selasa, 02 Juni 2020

Janji Allah SWT Itu Pasti

Photo by: Pinterest


Aku merasa Allah sangat baik padaku. DIA benar-benar menolongku, janji Allah SWT itu pasti seperti pada salah satu ayat yang ada di surah Al-Insyirah “Inna ma’al usri yusra” “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dan aku benar-benar merasakannya.

Sebenarnya aku adalah orang yang sangat pemalu dengan orang baru atau orang yang jarang kutemui. Aku juga penakut. Saat di kampus aku pernah menjadi sekretaris di salah satu himpunan dan biasanya jika ada keperluan dengan himpunan lain aku akan mengajak salah satu temanku dan membiarkan temanku yang berbicara dengan orang itu.

Namun, entah kenapa aku merasa Allah SWT membantu dan menuntunku untuk melakukan berbagai cara agar bisa bertemu dengan narasumberku. Kaki ini terus berjalan tanpa rasa takut. Berkat perkataan ayah juga aku yang tadinya sudah merasa pupus harapan menjadi kembali semangat.

Aku banyak belajar dari pengalaman yang kulalui itu, aku belajar untuk menjadi orang yang lebih percaya diri, mempercayakan semua pada Allah SWT, dan menjadi orang yang tidak mudah mengeluh. Aku percaya jika Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya yang meminta.

Aku merasa selama proses PI itu aku berubah menjadi orang yang mulai belajar untuk bisa bertindak sendiri di depan orang lain. Aku juga mulai mengurangi sifat pemaluku yang terlalu berlebihan itu.

Ini adalah salah satu ceritaku selama perjalanan PI yang tidak terlupakan. Mungkin di lain waktu aku akan bercerita pengalaman lainnya selama melaksanakan PI. Terima kasih sudah membaca ceritaku. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kalian dan jangan lupa untuk selalu bersyukur. :)

Link cerita pertama Klik di sini
Link cerita kedua Klik di sini
Link cerita ketiga Klik di sini

Share:

Perkataan Ayah dan Kebaikan Allah SWT Padaku

Photo by: Pinterest


Selesai sholat aku teringat pada perkataan ayahku, “Jadilah orang yang sedikit bicara, tetapi banyak bertindak”.  Hal itu membuatku berpikir ulang, jika aku melapor pada redaktur bahwa aku tidak berhasil bertemu dengan narasumber, itu berarti aku terlalu banyak bicara dan hanya beralasan.

(Karena perkataan ayahku itu juga saat merasa kesulitan aku jarang bercerita pada teman atau sekadar berbagi kesulitan di media sosial. Menurutku ketika bercerita atau berbagi kesulitan di media sosial hanya akan membuang waktu yang kumiliki. Akan lebih baik jika aku gunakan waktu itu untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang kuhadapi. Jika ingin berbagi biasanya aku akan bercerita jika memang masalah yang kumiliki sudah selesai atau aku akan meminta bantuan saat merasa benar-benar tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri)

Akhirnya kuputuskan menuju gedung yang berlokasi di Jakarta Selatan tersebut. Aku masih ingat selama di perjalanan aku merasa sangat gelisah. Entah apakah aku bisa bertemu dengan narasumberku atau tidak, tetapi aku benar-benar menyerahkan semuanya pada yang di atas. Aku berharap DIA memberikan yang terbaik. 

Selama di perjalanan dalam hatiku hanya terucap kata “La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim” yang aku tahu artinya adalah “Tidak ada upaya dan kekuatan selain atas pertolongan Allah SWT” berulang kali. Saat sedang gelisah aku juga selalu membaca 3x surah Al-Ikhlas, 3x surah Al-Falaq, dan 3x An-Naas. Aku pernah membaca dan salah satu temanku (ia adalah salah satu teman yang sudah dekat denganku mulai pertama masuk kuliah) pernah berkata jika sedang gelisah bacalah surah-surah itu agar lebih tenang. Benar saja itu semua benar-benar membuat hatiku yang tadinya gelisah menjadi lebih tenang dan bisa berpikir rasional.

Sesampainya di sana aku sempat merasa bingung karena sama seperti tempat sebelumnya, ini adalah kali pertama aku berkunjung ke gedung itu. Di sana terdapat banyak gedung dan aku tidak mengetahui di gedung mana narasumberku berada. (Entah karena kurangnya informasi yang kucari atau memang tidak ada informasi tentang bagian yang dimiliki narasumberku di sana)

Allah benar-benar menolongku karena tiba-tiba aku teringat perkataan dokter yang kutemui di RS. Menurutnya narasumberku praktik di salah satu gedung kesehatan milik pemerintah. Akhirnya aku memutuskan bertanya pada satpam lokasi gedung yang biasa digunakan oleh dokter yang melakukan praktik. Ia menunjuk sebuah gedung dan aku segera menuju ke sana.

Setibanya di sana untuk masuk ke gedung aku harus melapor lalu petugas memberikan beberapa pertanyaan tentang ada keperluan apa aku ke sana dan baru memperbolehkanku masuk. Namun, masalah mulai timbul setelah aku masuk. Aku tidak mengetahui di mana ruangan narasumberku berada. Mereka yang kutanya saat melapor tadi mengatakan tidak mengenal narasumberku.

Sebenarnya aku mulai merasa bingung, tetapi aku tidak patah semangat. Aku berjalan selangkah demi selangkah dan melihat-lihat setiap ruangan yang kulewati. Setelah beberapa lama berjalan tiba-tiba seorang laki-laki berumur kira-kira 30 tahun-an menyapaku. Mungkin ia melihat aku yang sedang kebingungan. Akhirnya aku bertanya apakah ia mengenal narasumberku. Ahh lagi dan lagi Allah menolongku ternyata orang itu mengenal narasumberku. Ia memberikan kontak dan menunjukkan ruangan narasumberku berada.

Setelah berbagai kejadian kulalui hari itu, akhirnya aku bisa mewawancara narasumber yang kucari. Ia juga sangat ramah dan mau menerimaku dengan sangat baik. Setelah selesai aku kembali ke rumah dan bersiap untuk membuat naskah tugas hari itu.

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini

Link cerita pertama Klik di sini
Link cerita kedua Klik di sini
Share:

Pencarian Narasumber & Bertemu Dengan Orang Baik

Photo by : Pinterest

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, tanpa pikir panjang aku mulai bersiap dan menuju RS tersebut. Sebenarnya aku bisa mengendarai motor,tetapi karena aku tidak mengetahui lokasi RS dengan baik maka aku memutuskan menggunakan ojek online sehingga tidak perlu membuang waktu mencari lokasinya.

Itu adalah kali pertama aku berkunjung ke RS tersebut. Ketika tiba aku terkejut karena tenyata itu adalah RS yang sangat besar. Sebagai mahasiswa yang baru melakukan magang selama 4 hari dan ini adalah tugas pertama melakukan wawancara saat PI, aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara agar bisa bertemu seorang narasumber yang sudah kuketahui namanya, tetapi tidak pernah bertemu dan bicara dengannya.

Tanpa pikir panjang kakiku mulai melangkah menuju pintu masuk RS. Aku melihat begitu banyak orang di sana dan tidak tahu harus bertanya pada siapa.  Akhirnya aku mulai bertanya pada salah satu karyawan yang berada di pusat informasi, tetapi sayangnya ia tidak mengenal dokter yang aku cari.

Lalu aku mencoba bertanya dengan karyawan lain yang sedang duduk di belakang meja pusat informasi lain. Ternyata ia juga tidak mengenal dokter yang kumaksud (menurutku mereka tidak mengetahui karena itu adalah RS besar dan ada banyak dokter jadi mereka tidak hafal semua dokter di sana). Namun, aku diarahkan untuk menuju ruangan yang biasa digunakan oleh dokter spesialis seperti narasumberku.

Saat sampai di ruangan tersebut aku bertemu salah satu wanita berkerudung. Aku bertanya apakah ada dokter dengan nama yang kuberikan. Lalu wanita itu bilang jika dokter yang aku maksud hanya praktik di RS itu pada hari tertentu dan di hari lainnya berada di salah satu gedung kesehatan milik pemerintah. (Pastinya saat berbicara padaku beliau menyebutkan nama lokasi yang sebenarnya, tetapi di sini aku akan menulisnya menjadi gedung kesehatan milik pemerintah yaa hehe)

Aku sempat bercerita jika aku memiliki kontaknya, tetapi tidak bisa kuhubungi dan memutuskan bertanya kontak narasumberku itu (karena aku berpikir jika kontak yang ada sudah tidak aktif),tetapi wanita itu menolak memberikan. Aku paham mungkin ia tidak ingin memberikan kontak seseorang kepada orang asing.

Namun, aku sangat berterima kasih pada wanita yang ternyata juga seorang dokter itu. Ia sangat ramah dan mau menjawab pertanyaanku padahal saat itu kulihat ia sedang sibuk dengan pekerjaanya. Berkat beliau juga setidaknya aku mendapatkan petunjuk keberadaan narasumberku. (Saat itu aku berpikir ternyata masih ada orang sebaik dan seramah itu. Padahal aku datang tanpa membawa surat tugas, karena memang belum jadi, dan aku tidak memiliki kartu identitas dari media)

Akan tetapi, yang beliau tahu narasumberku sedang melakukan pelatihan di luar kota, yang entah sudah selesai atau belum, sehingga ada kemungkinan nomor tidak dapat kuhubungi karena ia matikan selama pelatihan.

Setelah mendengar itu sebenarnya aku mulai patah semangat dan berpikir jika narasumberku mungkin memang masih mengikuti pelatihan sehingga tidak dapat kuhubungi. Namun, ada kemungkinan juga jika ia sebenarnya sudah menyelesaikan pelatihan dan berada di tempat ia bertugas saat ini.

Selain itu, aku berpikir apakah lebih baik aku kembali ke rumah dan melaporkan pada reakturku bahwa narasumber yang ia berikan tidak ada di tempat atau aku harus bagaimana. Aku merasa sangat bimbang saat itu. Entahlah saat itu kepalaku benar-benar menjadi sangat pusing dan dipenuhi berbagai pertanyaan.

Akhirnya karena sudah tiba waktu Dzuhur maka kuputuskan mencari mushala untuk melaksanakan sholat. 

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini


Link cerita sebelumnya Klik di sini
Share:

Pengalaman Tak Terlupakan


Photo by : Pinterest
Praktik Industi atau biasa orang bilang magang merupakan salah satu proses perkuliahan yang tidak akan terlupakan selama hidupku. Itu karena aku merasa diriku banyak tertantang selama proses itu.

Salah satu hal yang kuingat adalah ketika aku harus mencari keberadaan salah satu narasumber untuk tugas PI yang diberikan oleh redaktur pembimbingku hari itu. Oh iya, sebagai informasi saat PI aku difokuskan pada bidang kesehatan (walapun kadang aku juga menulis di kanal lain) sehingga aku lebih sering memiliki tugas wawancara dokter atau psikolog.

Semua bermula pada suatu malam, di hari ketiga aku melaksanakan PI. Saat itu redakturku memberikan tugas agar aku membahas salah satu sistem pengobatan, yaitu "Naturopati". Ketika membaca pesan itu aku merasa sangat gelisah karena aku tidak menguasainya. Jangankan menguasai pembahasan, mendengar kata itu saja sepertinya aku tidak pernah :(

Sebenarnya redakturku sudah memberikan TOR atau hal yang harus kubahas dalam tulisanku tentang "Naturopati", tetapi aku harus bisa mengembangkan TOR agar tidak kekurangan bahan saat menulis naskah.

Oh iya fyi aku ini orangnya mudah panik apalagi harus melakukan hal yang tidak kurencanakan jauh hari. Tugas itu sangat mendadak menurutku (malam dikabari,besok harus sudah melakukan wawancara) dan aku tidak familiar dengan pembahasannya akhirnya pada malam itu juga aku mulai mempelajari apa itu "Naturopati" dan mulai membuat daftar pertanyaan.

Lalu pada tugas ini ia sudah menetapkan siapa narasumber yang harus kuwawancara dan memberikan kontak mereka. Narasumberku berjumlah dua orang, mereka adalah dokter spresialis yang sudah sering melakukan wawancara baik di media tempatku PI atau media lain.

Ketika hari esok tiba aku mulai menghubungi kedua dokter tersebut. Wawancara pertama berjalan dengan lancar. Aku memberikan pertanyaan yang sudah kusiapkan pada malam itu dengan baik.

Namun, masalah mulai muncul ketika nomor dokter lain ternyata tidak dapat kuhubungi. Ketika melaporkannya kepada redaktur, beliau mengarahkanku untuk menemuinya di salah satu rumah sakit di wilayah Jakarta Barat tempat beliau melakukan praktik.

Bersambung ke link berikut ini Klik di sini
Share: