Sabtu, 14 September 2019

Menemukan Sosok Sahabat Sejati

Photo by: Google.com
Sahabat adalah orang yang dinilai penting dalam kehidupan seseorang. Sosok ini merupakan orang yang menerima kita apa adanya. Bersama sahabat kita bisa berbagi suka dan duka yang sedang kita alami. Banyak orang menemukan sahabat sejati sejak masih kanak-kanak, saat di bangku sekolah, bahkan saat bekerja.  Berbeda dengan kebanyakan orang, aku memiliki sahabat yang sudah kukenal sejak lahir. Awalnya aku tidak menyadari bahwa sahabat sejatiku adalah orang yang selalu ada di sampingku sejak kecil.

Saat itu adalah ketika aku sedang merasa kecewa dengan seseorang yang aku sebut sebagai sahabat. Setelah kejadian itu benakku selalu bertanya, “Siapa sebenarnya sahabat sejati untukku yang memiliki hati tulus, bagaimana cara menemukan sosoknya?” Pertanyaan itu selalu berputar dalam pikiranku setiap saat.

Ketika jawaban masih juga kucari, aku mulai menilai-nilai setiap kawan yang aku temui. Aku bertemu dengan banyak orang yang memiliki pribadi berbeda-beda. Ada kawan yang sangat ramah, sangat baik, suka berbagi cerita, ada pula yang sangat peduli denganku. 

Semua kawan yang kujumpai dalam kehidupanku ternyata selalu baik dalam penilaianku. Akan tetapi, aku merasa belum juga mendapatkan kawan yang bisa aku sebut sebagai sahabat. Semua kawanku mungkin kunilai baik, tetapi aku belum bisa menilai mereka sebagai orang yang setia. 
Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, lambat laun pertanyaanku mulai terjawab sedikit demi sedikit. Ternyata sosok sahabat tidak hanya dapat kita temui dari kalangan teman. Setelah aku tidak menemukan sosok yang kucari melalui penilaian kepada teman yang hadir dalam kehidupakanku, aku mulai memperhatikan sosok terdekat dalam hidupku. 

Aku baru menyadarinya ketika aku duduk di bangku kuliah, Ternyata sahabat yang kucari selama ini selalu mengisi hari-hariku. Sahabatku adalah sosok teman wanita satu-satunya yang kumiliki  dalam keluarga. Biasanya orang mengatakan sosok sahabatku ini adalah wanita yang memiliki cinta  tulus dan kasih sepanjang masa.  Aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Ibu”.

Menurutku ibu adalah sosok yang sangat peduli denganku. Sebagai orang tua sikap ibu sudah tidak bisa kuragukan lagi kesetiaannya karena selalu ada ketika aku membutuhkan. Ibu juga merupakan orang yang memiliki sifat jujur, sifat yang sangat kuimpikan dari seorang sahabat.  

Bohong jika hubungan antara anak dan orang tua atau antara sahabat tidak pernah ada pertengkaran. Begitu pula dengan hubungan antara aku dan ibu, ada saat ketika kami saling menunjukkan ego dan emosi. Biasanya itu terjadi ketika di antara kami sedang memiliki suasana hati buruk.  Itu juga terjadi ketika kami memiliki pandangan berbeda mengenai suatu hal. Namun, aku dan ibu bukanlah orang yang bisa memendam emosi terlalu lama. Jika ada suatu hal yang membuat kami saling mengeluarkan argumen berbeda, biasanya kami akan saling diam beberapa saat. Setelahnya aku mulai meminta maaf pada ibu, entah saat itu argumenku memang benar atau tidak. 

Semakin dewasa sebagai anak aku samakin mampu mengendalikan diriku ketika sedang marah. Ketika ibu sedang memiliki suasana hati yang buruk biasanya aku hanya akan mendengar apa yang ia katakan tanpa menunjukkan emosi yang sama. Ketika aku sedang memiliki suasana hati yang tidak baik, aku juga hanya akan diam dan menunggu emosiku mereda.
 
Semakin lama aku dan ibu saling memahami satu sama lain. Sebagai dua orang wanita dalam keluarga, di antara tiga orang laki-laki, aku dan ibu  adalah rekan yang baik dalam melakukan suatu hal untuk keluarga. Kami sering melakukan kegiatan bersama-sama, seperti ketika ramadan tiba, aku dan ibu akan menjadi orang yang sibuk mempersiapkan menyambut lebaran. 

Kebiasaan yang kami lakukan bersama saat mempersiapkan hari raya adalah pergi ke Tanah Abang dan ke pabrik kue kering. Selain itu, kami juga mempersiapkan pakaian yang akan keluarga kami kenakan saat lebaran. Jika biasanya orang lebih suka membeli baju yang sudah jadi untuk digunakan saat lebaran, aku dan ibu lebih suka membuat di penjahit langganan. Hal tersebut karena kami suka menggunakan baju yang seragam satu keluarga. Sebelumnya kami akan menuju toko bahan di kawasan Fatmawati dan memilih jenis bahan serta warna yang cocok. 

Menurutku setiap kegiatan yang aku lakukan bersama ibu adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku bersyukur memiliki sosok sahabat seperti ibu.  Ia bisa berperan sebagai orang tua dan sahabat. Ia yang  juga memiliki sikap suka berbagi yang selalu berusaha aku contoh dalam kehidupanku. Ternyata sosok sahabat tidak hanya bisa kita temui dari kalangan teman, sosok itu juga bisa kita temukan pada orang yang sangat dekat dengan kita.
Share:

6 komentar:

Azizah Angraini Ramadini mengatakan...

Maaf ka ada kata yang typo itu samakin hehe, btw sehat selalu ibunya Hanna semoga selalu bisa menemani hanna hingga sukses aamiinn

Hanna mengatakan...

Wah terima kasih koreksinya kakak. Aamin terima kasih juga doanya :)

Idhardian W mengatakan...

Tulisan-tulisannya mudah dipahami. Semoga konsisten dengan artikel-artikel selanjutnya yaaa

Unknown mengatakan...

Retorika bahasanya bagus
Sukses selaluuu untuk penulisnya

Hanna mengatakan...

Aamin. jangan lupa baca dan komen artikel-artikel yang lain yaa hehe

Hanna mengatakan...

terima kasih. jangan lupa baca artikel-artikel lainnya yaa :)