Menurutku semua orang yang berhasil menyelesaikan perkuliahan di tahun ini adalah wisudawan terbaik. Hal tersebut karena banyaknya halangan dan kesulitan yang hadir bersamaan dengan penyelesaian Tugas Akhir serta syarat kelulusan lainnya. Tanpa pertemuan tatap muka bersama dosen pembimbing dan dengan keadaan yang sedang tidak baik ini kami bisa menyelesaikan semuanya. Hanya saja aku merasa bahagia bisa memenuhi ekspetasi ayah & ibu.
Pandemi Covid-19 masih meluas di Indonesia. Membuat kegiatan wisuda di kampusku dan beberapa kampus lain harus dilaksanakan secara Online. Para mahasiswa melewati acara ceremonial tersebut dengan panggilan video yang dilakukan secara masal.
Namun, memang dalam kegiatan wisuda di kampusku terdapat beberapa wisudawan terbaik yang diundang secara offline. Lagi dan lagi aku selalu menanamkan pada diriku bahwa apa yang terjadi pada setiap detik di kehidupanku sudah diatur oleh yang di atas. Menurutku apapun yang aku dapat pertama terjadi berkat doa kedua orang tuaku, lalu faktor keberuntungan😂, dan terakhir karena sebuah harapan yang tidak direncanakan😁
Masih teringat ketika tiba-tiba aku berkata sambil bercanda, "Semoga dd bisa jd salah satu dari wisudawan tebaik ya, biar bisa wisuda offline. Siapa tau yekan wkwk," kataku yg dibalas, "Aamiin," dengan suara besemangat dari kedua orang tuaku.
Btw sebenarnya aku adalah orang yg terbilang santai ketika menginginkan sesuatu. Sepertinya sejak PSBB dilakukan kumulai belajar berpikir positif terhadap berbagai hal, mulai menanamkan dalam diriku untuk berpikir, "Ah kalo rezeki juga ga kemana, kalo ga dapat berarti bukan rezeki. Jadi tentang suatu hal yang diinginkan ga usah terlalu terburu2, terlalu memaksakan sesuatu, dan ga perlu dipikirin amat lah. Allah tau yg terbaik kok." (Hal itu mulai kutanamkan karena berdasarkan pengalamanku sesuatu yang terlihat dipaksaan, tidak akan berakhir dengan baik dan sejujurnya aku adalah orang yang sangat takut merasa kecewa. Dengan perasaan bodoamat dan menyerahkan semua pada Allah SWT menurutku bisa mengurangi rasa kecewa ketika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi😁)
Namun, ternyata tidak dengan orang tuaku. Kata-kataku membuat mereka sangat berharap itu benar terjadi. Sampai suatu hari setelah menerima marksheet terakhir (Pengumuman IP) ibu yang biasanya hanya menanyakan berapa IP ku, tiba-tiba mengeluarkan semua marksheet-ku mulai dari semester 1 dan mengajak ayah menghitung rata2 nilai IP yang ku dapat. Katanya, "Ayah yang hitung pake kalkulor, ibu yang sebutin ya." Melihat ibu sangat bersemangat membuatku tertawa sendiri dan mulai menggodanya, "Ah paling ada yang lebih tinggi dari nilai dd wkwk."
"Ya jangan berdoa kaya gitu lah. Semoga aja beneran bisa offline," jawab ibu dengan wajah kesalnya🤭.
Fyi aku, ayah, dan ibu memang suka menjadikan sesuatu jadi bahan candaan, apalagi kalo salah satu dari kita sedang kesal. Kalo kata ayah, "Ga usah serius-serius amat kale,"😂
Sampai memasuki bulan wisuda belum juga ada kabar siapa yang akan dikirim. "Mungkin emang ga diinfoin secara luas kali ya," kataku dalam hati.
Lalu aku berkata pada ayah dan ibu, "Kayanya bukan dd deh yang dikirim. Udah diinfoin kali ya soalnyavteman dd ditajya juga ga tau." Tiba2 ibu menjawab dengan merasa yakin dan raut wajah yang terlihat kesal, "Ga belum diinfoin itu berarti," dan kujawab, " Masa iya hari gini belum ada info." "Ngga belum ada info, itu" katanya masih dengan yakin dan raut wajah kesalnya.😂 Sambil bertatapan aku dan ayah hanya bisa bereaksi, "WKWKWK." Kami tertawa karena melihat ekspresi ibu yang tampak kesal dan seakan-akan ibu mengetahui segalanya😂
Beberapa hari setelah kejadian itu, dari sebuah kalimat yang seseorang kirim di grup yang berisi seluruh mahasiswa prodi satu angkatan, aku merasa bahwa ada salah satu orang sudah tertunjuk sebagai perwakilan.
Lalu aku menyampaikannya pada ibu, "Teman dd udah ditunjuk jadi perwakilan,Bu." Dengan wajah terlihat kecewa ibu masih menjawab, "Emang iya? Bukan kali. Emang udah diumumin?" Katanya.
Aku hanya membalas dengan tawa dan berkata, "Laah ya udah diumumin berarti wkwk."
Sebenarnya mihat wajah kecewa ayah&ibu membuat aku sedih juga sedikit merasa kecewa awalnya, tapi setelah kuberpikir lagi, "Berarti bukan rezekiku. Mungkin ada suatu hal yang tidak kuketahui dan membuat Allah tidak menjadikanku perwakilan," kataku dalam hati.
Setelah itu, rasa kecewaku hilang dengan cepat. Aku juga sudah mulai melupakannya.
Mempersiapkan wisuda online menurutku tidak terlalu rumit. Hal itu karena tidak seluruh badan akan terlihat di kamera.
Akhirnya aku mulai kembali fokus pada hobiku dalam memasak dan fokus pada bisnis yang memang sedang kujalani.
Pada suatu siang saat sedang sibuk membuat pesanan, aku membuka telpon genggamku untuk melihat waktu. Kulihat terdapat pesan dari grup yang diberi nama, "Lulusan Terbaik Prodi".
Akibat terkejut tiba-tiba aku berteriak, "Ayaaaah dd jadi perwakilan."
Ayahku yang sedang berbaring di kasurnya tiba-tiba terbangun. Ia langsung memeluk & menciumku, "Kasih tau ibu, pasti seneng banget dia," kata ayah.
Melihat reaksi ayah membuatku merasa terharu. Sebenarnya ayah selalu mendorongku mengerjakan sesuatu sesuai kemampuanku. Ia tidak pernah mengharuskan ketiga anaknya menjadi terbaik dalam hal apapun.
Namun, ternyata dalam hal ini ayah juga mengharapkanku bisa menjadi perwakilan prodi dan bisa melaksanakan wisuda secara offline.
Ibu yang saat itu sedang bekerja ku kabari lewat telpon. "Bener kan kata ibu," katanya sambil bergurau saat sudah di rumah.
Ternyata doa dan harapan orang tua memang terbaik karena menurutku ini semua terjadi benar-benar karena mereka.
Mungkin tidak semua orang mengangggap menjadi perwakilan adalah hal yang penting, bahkan mungkin banyak orang menganggap itu hal bisa. Namun, entah mengapa secara tiba-tiba aku memang mengharapkan ini.
Semua orang memiliki rezekinya masing-masing dan aku bersyukur dengan rezeki yang diberikan kepadaku kali ini.
Kuberharap dengan banyaknya rezeki yg Allah berikan aku bisa semakin memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. Aamiin.




0 komentar:
Posting Komentar