Rabu, 21 Oktober 2020

Antara Sidang dan Penipuan

 



Aku akan menceritakan secara detail kejadian ketika aku mengalami penipuan saat berbelanja di situs jual beli online. Peristiwa tersebut terjadi tepat satu hari sebelum sidang Tugas Akhir yang aku jalani.

Dahulu ketika melihat orang lain yang mengalaminya, terkadang aku berpikir, "Padahal udah banyak modus kaya gitu ko orang masih bisa ketipu ya." Namun, ketika mengalaminya sendiri itu semua berbeda. Aku merasa tidak bisa berpikir jernih saat itu semua terjadi. 

Cerita ini kubagikan dengan harapan bisa menjadi pelajaran untuk semua yang membacanya agar tidak terulang kembali. Selain itu, agar kejadian ini bisa selalu kuingat dan juga bisa menjadi pelajaran untukku dan keluargaku ke depannya☺️

Pada 28 Juli 2020 ayah memintaku memesan sebuah sepeda yang sangat ia inginkan di sebuah aplikasi jual-beli online. Tanpa melihat secara detail toko tersebut aku langsung melakukan pemesanan dan pembayaran sekitar hampir 9 juta rupiah.

Sepulang dari ATM aku memberi kabar kepada penjual jika pembayaran sudah selesai dan meminta agar barang segera dikirim. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar pukul 3 sore, kulihat telpon genggam ayah berdering. Sebuah no telpon tak dikenal memanggil. Ternyata itu adalah penjual sepeda, yang sejak tadi sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan. Ia meminta agar aku membuka sebuah link yang ia kirim dan mengisi alamat rumah dengan alasan untuk mempermudah pengiriman. 

Ia menghubungiku di luar percakapan aplikasi sehingga aku meminta agar pembicaraan dilakukan via pesan aplikasi saja. Ia menolak dengan alasan fast respon melalui pesan di luar aplikasi. 

Aku mulai curiga, tetapi ntah karena terhipnotis atau memang akibat panik penipu terus mengirim pesan tanpa jeda dan seperti memburu-buru, membuatku tidak bisa berpikir jernih. Aku tetap membuka link yang ia kirim. 

Pada link tersebut berisi sebuah web yang seakan-akan memang berhubungan dengan aplikasi online shop. Sama seperti ketika masuk ke dalam akun online shop, aku diharuskan memasukkan email, pasword, dan kode OTP. Selanjutnya aku disuruh memilih jasa pengiriman apa yang akan digunakan. Kuisi link tersebut beberapa kali, tetapi selalu muncul tulisan gagal mengirim. 

Semakin curiga akhirnya aku segera menghubungi CS online shop tersebut, dengan penjual yang masih terus mengirim pesan dan mencoba menelponku. 

CS mengatakan jika itu adalah penipuan dan memintaku untuk membatalkan pesanan. Lalu aku bertanya, " Saya tidak mencantumkan rekening di aplikasi dan transfer melalui virtual account, kira-kira uangnya akan kembali ke rekening yang mengirim atau bagaimana ya?" "Iya uang akan kembali ke rekening pengirim," jawabnya. Mendengar hal itu aku sedikit tenang. 

Selain itu, pada pembicaraan itu CS juga memintaku untuk membuat laporan melalui email kepada pihak online shop dan aku ikuti.

Beberapa menit setelahnya, penjual menyetujui pembatalan pesanan. Aku pergi ke ATM memastikan apakah uang sudah kembali karena aku masih mempercayai perkatan CS. 

Namun, sebelum pergi kuingat pada link tersebut aku diminta mengisi email dan pasword sebelum masuk. Dengan cepat aku berpikir mungkin orang tersebut sudah bisa masuk ke akun google milik ayah dan pastinya bisa mengakses seluruh komponen yang berkaitan dengan goggle. Akhirnya dengan segera aku mengganti password itu.

(Aku sangat bersyukur karena bisa melakukan hal yang tepat di waktu yang tepat pula, jika tidak dengan memegang akun email maka penipu bisa melakukan berbagai macam hal, termasuk menggagalkan laporanku tentang penipuan ke pihak online shop yang kulakukan via email).

Setelah melihat di ATM ternyata uang pengembalian belum masuk. Aku memutuskan kembali ke rumah karena kupikir mungkin memang uang masih dalam proses pengembalian. 

Langit di luar semakin gelap, kumandang adzan magrib juga sudah terdengar. Aku yang saat itu sedang menjalankan puasa sunah langsung menuju ruang makan untuk berbuka sambil tetap mengingat-ingat akun-akun apa lagi yang perlu kuubah. Namun, hatiku terasa tidak tenang, akhirnya ayah menyuruhku kembali menghubungi CS.

Kuceritakan semua yang terjadi tadi sore. Dari percakapan itu aku mengetahui ternyata penipu sudah bisa membuka akun online shop milik ayah dan mencantumkan rekening miliknya. Dari yang kulihat, rencana yang ia/mereka miliki dengan mencantumkan rekening miliknya adalah karena akun ayah tidak terdaftar dengan dompet digital yang dimiliki online shop, sehingga setelah pembatalan uang akan masuk ke rekening tertera, yaitu rekening penipu karena aku juga tidak mendaftarkan rekening apapun pada akun tersebut.

CS memintaku untuk melengkapi laporan melalui email. Ia juga berkata jika aku harus menunggu jawaban laporanku 3 hari kerja, tetapi ia berusaha agar laporanku diutamakan.  

Aku benar-benar tidak bisa membayangkan menunggu selama itu tanpa kejelasan. Beberapa jam setelahnya kulihat terdapat pesan jika akun ayahku sudah dibekukan. Hal itu semakin membuatku tidak tenang, tetapi malah menimbulkan pertanyaan, "Kira-kira dibekukan karena ada laporan dariku atau karena ulah penipu yg sudah mendapatkan uang ya," tanyaku dalam hati.  

Selain itu, timbul juga pertanyaan "Apakah uang sudah terkirim kepada penipu atau masih berada di pihak online shop karena masih menunggu proses?"

Akhirnya ayahku memutuskan kembali menghubungi CS. Setidaknya kami mengetahui apakah masih ada harapan atau tidak. Namun, ternyata CS tidak bisa menjanjikan karena mereka bilang itu adalah kerja sistem sehingga ia sendiri tidak mengetahuinya. 

Aah saat itu aku benar-benar merasa pusing, pikiranku tentang sidang esok hari juga sudah hilang. Otakku seperti berputar lebih cepat, kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan, "Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menyenyelesaikan ini semua😔" Aku merasa ini semua salahku dan aku harus bertanggung jawab. Ku hubungi CS berkali-kali karena belum juga dapat kejelasan tentang uang tersebut.

Mengingat jika besok aku sidang ayah berkata padaku, "Udahlah ga usah dipikirin kalo rezeki ga kemana uang insyaallah bisa dicari lagi. Kamu sekarang fokus aja ke sidang besok," katanya. 

Benar juga perkataan ayah, kalau rezeki uang itu pasti kembali. Namun, tetap saja aku tidak bisa tenang. Malam itu aku tidak bisa tidur. Kali ini bukan uang yang kupikirkan, tetapi selalu berputar dalam pikiranku, "Akun apa lagi ya yang harus diselamatin." Memang benar jika uang bisa dicari lagi, tetapi sangat berbahaya jika akun sudah dipegang oleh orang jahat. Pasti akan disalahgunakan dan akan lebih rumit ke depannya. 

Malam itu mungkin aku hanya bisa memejamkan mata selama dua jam. Begitu juga dengan ayahku. 

Esok hari aku memutuskan fokus pada sidang Tugas Akhir. Kupelajari lagi materi-materi yang akan kupresentasikan. 

Detik-detik sebelum sidang kuisi dengan berdoa dan berzikir seperti yang disarankan salah satu kakak tingkat yang sangat peduli padaku.

Aku melaksanakan sidang selama kurang lebih 30 menit. Selesai sidang, kembali ayah mendiskusikan kejadian kemarin. Akhirnya ayah memutuskan kembali menelpon CS hanya ingin mengetahui apakah uang itu masih bisa diharapkan atau tidak. Jika memang sudah tidak bisa kembali, kami bertanya tentang apa yang bisa kami lakukan. Namun, sayangnya CS masih memiliki jawaban yang sama jika itu semua adalah kerja sistem dan mereka tidak bisa menjanjikannya. Mereka juga tidak memberikan kami saran hal apa yang harus kami lakukan jika uang memang sudah hilang.

Percakapan terakhir dengan CS membuat  kami tau bahwa hal yang bisa dilakukan saat itu hanyalah menunggu dan berdoa. 

Hari-hari berlalu dengan berusaha mengikhaskan dan terus berdoa. Namun, Allah maha baik, beberapa hari setelah kejadian, tepatnya pada hari perayaan Idul Adha aku menerima pesan jika uang yang kami miliki bisa kembali secara utuh.

Alhamdulillah berkat kebaikan Allah dan usaha maksimal yang kami lakukan uang itu masih menjadi rezeki kami. 

Begitulah pengalamanku hampir tertipu jutaan rupiah. Semoga kisahku kali ini bermanfaat☺️




Share:

0 komentar: