Sabtu, 16 Januari 2021

Ayah (Kami dengan Hobi Bersepeda)

 


Bersepeda adalah hobiku,ibu, dan ayah. Aah tidak tidak setelah kuingat-ingat sejak dulu bersepeda adalah hobi seluruh anggota keluarga kami. Ya betul, saat aku dan kedua kakak laki-lakiku masih kecil  sering ayah mengajak bersepeda di Minggu pagi. Biasanya tempat yang menjadi tujuan adalah rumah nenek. Menurut ayah sambil berolahraga kami bersilaturahmi dan menengok nenek serta ungku☺️Dulu di sela-sela kesibukan ayah dan ibu, ini lah quality time keluarga kami☺️

Namun, karena kedua anak laki-laki ayah&ibu (yaitu kakakku :D) harus merantau, membuat hobi tersebut hanya kami yang meneruskan hehe. Biasanya ketika berolahraga dengan sepeda kesayangan kami jarak yang ditempuh lumayan jauh. Bundaran Hi, yaa tempat terjauh yang pernah kami tuju. Mungkin sekitar 17 km dari rumah. Biasanya kami berangkat setelah ayah selesai membaca Al-Quran. Tidak lupa ia mempersiapkan keperluan bersepeda setelah pulang dari mushollah, seperti mengisi daya lampu sepeda dan lainnya. Sekitar pukul 6 pagi kami siap mengayuh sepeda😊

Di sepanjang perjalanan, ayah akan menjadi petunjuk jalan untukku dan ibu. Kemudian ibu akan mengikuti di belakang ayah dan aku berada setelah ibu.

Sampai di sana kami hanya akan berfoto dengan latar belakang dua buah patung yang selalu membuka tangannya lebar-lebar seakan-akan mereka benar-benar menyambut kedatangan kami dengan gembira 😍 Setelah berfoto kami akan menuju sebuah stan perlengkapan olahraga untuk melihat-lihat apakah ada baju sepeda yang bagus dan memiliki tiga ukuran, yaitu L,XL, dan XXL. Kalau tidak ada ya sudah kami akan melanjutkan perjalanan pulang karena ibu mau kalau baju kita selalu sama, mungkin agar jika ada yang tertinggal mudah mengenalinya dari jauh🤭

Di tengah jalan pulang biasanya kami akan mengisi perut yang sudah keroncongan karena belum sempat sarapan tadi pagi😢Biasanya kami menuju stan bubur, makanan kesukaan ayah, di pusat kuliner Kampung Kandang. Dengan ditemani secangkir es cendol, energi yang tadi terkuras sudah kembali hehe. 

Sepulang dari bersepeda biasanya aku dan ibu sudah lemas duluan. Jadilah ayah yang akan membereskan semua. Biasanya ayah akan mencuci ban sepeda sebelum dikembalikan ke tempat semula. Benar benar hebat ayahku setelah menempuh perjalanan jauh energinya belum juga habis, tidak seperti aku dan ibu yang akhirnya hanya bisa menonton ayah mencuci sepeda🤭

Kami sangat suka dengan olahraga. Khususnya ayah yang memang sejak muda sudah terbiasa dengan mengolah badan karena ia adalah seorang marinir 😁Biasanya meskipun tidak ada teman ayah akan berangkat bersepeda sendiri. Ntah kemana tujuannya yang jelas dulu ia sangat rajin bersepeda.

Setelah pemerintah mengumumkan PSBB akibat penyebaran virus Covid-19 di Indonesia, sempat beberapa waktu kami tidak menekuni hobi lagi. Biasanya kami hanya akan berolahraga kecil di depan rumah. Namun, itu benar-benar berkesan untukku karena selain berolahraga, itu menjadi waktu yang menyenangkan bisa menghabiskan waktu dengan ayah☺️

Setelah beberapa waktu akhirnya kami memberanikan diri bersepeda lagi. Namun, karena Bundaran HI sudah tidak dibuka utk CFD, kali ini kami hanya mengelilingi wilayah Ragunan karena tidak banyak orang berkerumum sehingga lebih aman, tapi tetap kami ikuti protokol kesehatan dengan menggunakan masker. Jarak yang ditempuh memang lebih dekat daripada biasanya mungkin hanya sekitar 10 km.

Setelah beberapa kali bersepeda mengelilingi Ragunan, ayah mendengar jika jalan layang penghubung Antasari-Blok M ditutup untuk kendaraan dan dijadikan jalan sepeda setiap hari Minggu. Waaah itu adalah berita bahagia untuk kami 🤭 Akhirnya aku dan ayah mencoba ke sana. Saat itu ibu sudah mulai jarang ikut bersepeda karena katanya ia sedang lelah😁

Tanjakan, turunan, dan belokan-belokan..luar biasa jalur menuju sana.  Aku bahkan sering tertinggal oleh ayah karena aku kelelahan dan sering memperlambat laju sepeda 😁 Meskipun perjalanan di sana terasa lebih sulit, tetapi ketika sudah sampai di jalan layang angin sepoi-sepoi yg berhembus di sepanjang jalan membuat semua terasa menyenangkan😍Aku & ayah sangat menikmati setiap perjalanan di sana. Terkadang ayah akan memelankan laju sepedanya untuk menyeimbangkan denganku dan kami akan mengobrol singkat membahas sepeda-sepeda di sana sambil tertawa☺️

Beberapa kali kami bersepeda ke sana, dan ayah terkadang mulai mengeluh pundak bagian atasnya terasa sakit. Menurutnya seperti udara tidak masuk ke dalam dengan leluasa. "Mungkin ayah udah ga bisa sepedahan jauh-jauh kali ya," Katanya. Aku pun berpikir seperti itu. Mungkin karena faktor umur badan ayah jadi mudah pegal jika dibawa bersepeda jauh.

Akhirnya kami memutuskan kembali bersepeda mengelilingi Ragunan karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Namun, tetap saja beberapa kali ayah masih mengeluhkan rasa sakit di pundaknya itu. Namun, rasa sakitnya tidak terus menerus terasa. Menurutnya hanya saat dibawa bersepeda setelah itu akan sembuh dengan sendirinya. "Ayah ko sekarang jd sering lemes ya, sepedaan deket aja rasanya udah lemes, padahal dulu kalau sepedaan cepet loh, jauh juga. Sekarang rasanya udah ga kuat. Berarti ayah udh ga se-fit dulu," katanya padaku.

 Kondisi ayah membuatnya sering meminta bantuanku ketika membersihkan ban sepeda. Biasanya ayah menyuruhku memegang sepeda untuk mempermudah ayah menggosok ban.

Keluhan ayah tentang sakit pada punggungnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat dan jarang bersepeda. Namun, sempat pada satu kesempatan ayah mengajakku bersepeda sambil berkunjung ke rumah pamannya di Kp.Rambutan, "Ayah udah lama ga ke sana, sekalian silaturahmi yuk," ajaknya. Saat itu memang kulihat badan ayah sedang sangat bugar.

Saat tiba di rumah kutanya bagaimana punggungnya, apakah sakit lagi. "Sedikit," jawabnya. 

Setelah itu kami jarang bersepeda bersama. Ayah selalu menolak ketika kuajak berolahraga. Namun, karena melihatku sangat ingin berolahraga, "Duh dd udah gendut nih," keluhku hehe. Akhirnya ayah sering mengantarku bersepeda. Biasanya aku akan menggunakan sepeda kecil tanpa gigi bekas kakakku saat ia SMP. Biasanya ayah juga menggunakan sepeda itu untuk menuju musholah jika sakit pada kakinya sedang kambuh. Yaa ayahku memang memiliki riwayat penyakit asam urat yang hilang kambuh. 

Aku akan mengelilingi wilayah Jagakarsa dan ayah akan mengiringiku di belakang menggunakan motor. Ketika jalanan menanjak dan aku kewalahan mengayuh sepeda, kulihat ayah berusaha membantuku. Ia ingin membantu dengan berusaha mengapai sepedaku, "Aduh duh ga kuat nih kayanya wkwkwk," kataku sambil diiringi tawa kami berdua. 

Aah kenangan yang takan pernah kulupa. Seberapa sangat ia mengkhawatirkan putri satu-satunya .

Terakhir kenangan yang kuingat, suatu hari di bulan November, aku bilang ingin membeli gado-gado, makanan kesukaanku. Agar ayah banyak bergerak maka kuajak ayah bersepeda ke sana. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sampai sana tak lupa ayah berswafoto denganku dan mengirimnya di grup keluarga dengan caption, "Makan pagi."

"😍😍," Jawab kakak keduaku. 

"Bukannya lgi puasa ?🤣🤣🤣" Kata ibuku yg saat itu memang sedang berada di kantor.

"Makan apa itu?😁," Tanya kakak pertamaku.

"Makan ketoprak mas," jawab ayah.

"Gado2," kata ibu membenarkan.

Aah obrolan yang sangat kurindu🤗

Setelah membeli gado2 kukatakan pada ayah, "Cari ubi di Ragunan kali ya,Yah?"

"Boleh, nanti makananya digantung aja dulu di jemuran," jawabnya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke sana.

Itu lah kenangan terakhirku menekuni hobi bersepeda bersama laki-laki yang sangat kusayang💛

Terlalu banyak momen indah bersama ayah yang ingin kuceritakan. Sangat manusiawi saat aku merasa waktu 21 tahun bersamanya begitu kurang. Namun, yang kusyukuri aku memiliki seorang pahlawan yang sangat peduli dengan keluarga. Pahlawan yang selalu berusaha berada di dekat keluarganya. Membuat waktu 21 tahun begitu berharga dan menggembirakan. Meskipun hanya 21 tahun aku bersamanya, tapi terisi penuh dengan momen-momen kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan yang tak terlupakan. 

Terima kasih ayah aku bersyukur terlahir menjadi anakmu dan ibu🤗

To be continue....

Share:

0 komentar: