Ketika masih aktif menjadi anggota himpunan jurusan, aku dan beberapa teman mengajukan diri menjadi delegasi untuk menghadiri undangan kegiatan bakti sosial. Itu terjadi pada awal Februari 2019. Baksos tersebut dilakukan dalam hal pengembangan desa dan belajar mengajar yang diadakan di salah satu desa terpencil, yang terletak di wilayah Bogor.
Itu merupakan kegiatan yang diadakan salah satu organisasi mahasiswa di kampusku. Pada acara tersebut panitia akan menetap di suatu wilayah terpencil yang masih minim dalam fasilitas belajar mengajar, baik pengajar maupun alat-alat yang digunakan.
Sebelum menuju desa, kami harus bertemu di titik kumpul yang masih dilewati motor dan mobil. Di sana kami akan dijemput oleh panitia.
Beberapa saat kami tiba, hujan turun dengan sangat deras. Membuat kami harus menunggu di titik kumpul lebih lama. Aku masih ingat saat itu kami menunggu di depan sebuah warung yang sedang tutup di pinggir jalan. Di sana kami mengisi waktu dengan bermain, entah permainan apa yg kami mainkan aku tidak ingat betul karena itu terjadi lebih dari satu tahun yang lalu hehe. Yang jelas kami bermain untuk mengusir rasa bosan saat menunggu hujan berhenti.
Satu jam, dua jam, atau bahkan lebih entahlah berapa lama kami menunggu di sana. Ketika sedang menunggu, salah satu panitia berkata, "Harus hati-hati nih jalanan pasti licin, kemarin aja banyak yg jatuh." Mendengar itu membuat keberanian aku si anak penakut menjadi ciut dan rasanya ingin pulang saja hehe. "Dev, pengen pulang aja iih," kataku pada salah satu teman. "Mau naik apa ga ada angkot juga," jawabnya. Memang benar kulihat angkutan umum sudah tidak menjamah wilayah itu. Hal itu membuatku memutuskan utk tetap melanjutkan perjalanan. (Btw, kami bisa sampai ke tikum dengan ojek mobil online. Itu pun driver nya sudah ngedumel karena jarak yang jauh hehe.)
Setelah hujan reda, kami putuskan melanjutkan perjalanan. Desa yang kami tuju jauh dari perkotaan dan jalan raya. Kami menggunakan kedaraan roda dua, yang dikendarai oleh rombongan laki-laki. Kami para perempuan disarankan untuk tidak menyetir sendiri jika memang membawa motor.
Medan perjalanan yang harus kami lalui sangat mengerikan. Kami harus melewati jalan setapak dengan sawah di kanan dan kirinya. Terkadang di sepanjang jalan yang bisa kulihat hanya pohon pohon tinggi dengan jurang yang curam disampingnya . Belum lagi keadaan jalanan yang licin membuat kami harus ekstra hati-hati. Hal itu juga membuat salah satu rombongan sempat terjatuh.
Tak jarang kami para penumpang harus turun dari kendaraan dan berjalan beberapa meter, seperti misalnya ketika tanjakan tinggi, atau turunan curam. Hal itu kami lakukan untuk memudahkan pengemudi melalui jalanan yang dianggap berbahaya.
Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di tempat tujuan. Saat itu langit sudah gelap. Kulihat banyak rumah warga yang berdiri berdempetan tak beraturan. Ada yang di atas dan di bawah. Tidak ada aspal di sana, hanya tanah merah dan sedikit jalan yang dicor membuatku harus berhati-hati dalam melangkah.
Kami diantar ke salah satu rumah milik warga yang memang digunakan sebagai tempat tinggal panitia selama mengabdi di sana. Rumah yang digunakan panitia wanita dan laki-laki berbeda. Ketika aku memasuki rumah, kulihat ruangan sudah dipenuhi panitia dan tamu lain yang lebih dulu tiba. Ruangannya tidak besar, tapi aku masih bisa masuk ke sana. Mungkin sebagian panitia tidak tidur di rungan itu. Entahlah aku tidak tau pasti.
Kami tidur di lantai beralaskan tikar dengan posisi tidak beraturan. Badanku terasa gatal karena gigitan nyamuk, membuatku tidak bisa tidur malam itu. Terkadang aku bangun, duduk, dan memperhatikan sekelilingku. Mereka semua sudah tertidur, mungkin karena lelah setelah kegiatan dan perjalanan tadi. Akhirnya kupaksakan mata ini untuk terpejam.
Keesokan harinya, ketika pagi tiba aku dan kawanku pergi ke sebuah toilet umum. Kami hanya menggosok gigi dan mengambil wudhu untuk sholat karena memang sebelumnya sudah diinfokan jika di sana sulit mendapatkan air. Hal itu membuat kami memutuskan untuk tidak mandi.
Ketika langit sudah terang, kami para tamu dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang pergi ke sekolah SD, SMP, dan Paud. Aku dan kawanku ikut dengan kelompok Paud.
Sebelum tiba di ruang belajar yang merupakan sebuah aula milik warga, kami harus berkeliling ke rumah-rumah warga untuk mencari dan mengajak anak2 bersekolah. Ternyata mengajak mereka tidak semudah yang dibayangkan. Ada yang langsung mau, tapi tidak sedikit yang enggan. Membutuhkan waktu lumayan lama untuk bisa merayu mereka.
Setelah kami bisa membawa beberapa anak, kami menuju ke aula, bangunan tanpa cat dengan beberapa jendela tanpa kaca. Ruangan itu lumayan besar, karena memang biasanya digunakan warga setempat sebagai tempat berkumpul jika ada kegiatan, sehingga muat untuk diisi anak-anak yang akan melaksanakan belajar.
Sebagai tamu, kami di sana ikut bermain dan belajar bersama murid-murid hingga kelas selesai.
Setelah itu, kami memutuskan berkunjung ke Sekolah Dasar di wilayah itu. Jaraknya jauh dari permukiman warga. Ketika tiba kulihat sebuah bangunan berdiri di atas tanah merah dengan lapangan lumayan luas yang juga masih berupa tanah merah. Banyak anak-anak berlarian ke sana kemari, sepertinya saat itu sedang waktu istirahat.
Aku menyempatkan masuk ke dalam kelas untuk melihat-lihat. Di dalam salah satu ruang kelas tanpa pintu dengan lantai corcoran, aku hanya bertemu beberapa siswa karena yang lain memang sedang berada di luar kelas. Setelah selesai melihat-lihat kami putuskan kembali ke permukiman.
Aku dan kawan-kawan hanya berkunjung satu hari satu malam. Setelah kegiatan selesai kami kembali ke titik kumpul keberangkatan dengan diantar beberapa panitia.
Dengan waktu yang sedikit, tidak banyak yang kulakukan di sana karena memang aku dan beberapa kawan hanya sebagai tamu. Namun, dari kesempatan ini aku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Ternyata di balik hiruk pikuk kemacetan Kota Bogor masih ada sebuah desa terpencil yang sangat berbalik dengan perkotaan.
Saat baru tiba kemarin, aku tidak menyangka ternyata benar-benar ada sebuah desa dibalik sebuah hutan. Aah benar-benar pengalaman tak terlupakan. Dari pengalaman tidur diatas dingin dan kerasnya lantai beralaskan sebuah karpet, sulitnya mendapatkan air, serta perjalanan yang sulit dan menakutkan hingga bisa tiba di sana, mengajarkanku untuk selalu bersyukur dan tidak boleh menyia-nyiakan sesuatu yang kumiliki.
Aku mengunjungi desa terebut lebih dari satu tahun yang lalu, jadi aku tidak mengetahui kondisi desa saat ini. Kudengar dari salah satu kawan jika beberapa fasilitas sudah diperbaiki berkat kegiatan bakti sosial tersebut☺️
Terima kasih untuk kesempatan satu malam satu hari yang diberikan. Aku tidak menyesal dengan keputusanku meneruskan perjalanan, tapi aku malah bersyukur dengan keputusan yang sudah kubuat😍







2 komentar:
Unforgettable memories ❤❤❤
Sangat sangat😍😍😍
Posting Komentar