Senin, 19 Oktober 2020

Kisah Di Balik Sidang Tugas Akhirku

29 Juli 2020, beberapa minggu setelah mendaftar, akhirnya aku menjalankan sidang. Pandemi Covid-19 yang masih meluas, serta belajar mengajar di rumah yang masih diberlakukan, membuat sidang dilakukan secara daring melalui video. 

Meskipun pelaksanaan sidang dilakukan tanpa tatap muka secara langsung dengan penguji, tetapi tetap saja siapapun yang melaksanakan pastilah akan merasakan kekhawatiran sebelumnya. Merasa gelisah, bahkan tidak bisa tidur pada malam H-1 sidang mungkin biasa terjadi. Begitu juga denganku.

Namun, berbeda dengan mahasiswa lainnya, aku merasa gelisah dan tidak bisa memejamkan mata pada H-1 sidang bukan karena memikirkan bagaimana nasibku esok hari, tetapi karena kejadian penipuan yang keluargaku alami.

Pada suatu siang, satu hari sebelum sidang, tiba-tiba ayahku menghampiri, "Dek ayah mau beli sepeda lipat ya (sambil menunjukkan salah satu toko di aplikasi jual-beli online orange). Nanti tolong transferin," katanya. 

Memang sudah beberapa hari kebelakang ayahku tiap jam, tiap hari tak henti membicarakan tentang sepeda. Padahal sudah ada 3 buah sepeda di rumah kami, tetapi ia memang sangat ingin memiliki sebuah sepeda lipat karena sepeda kami lainnya bukan jenis itu. Ia bilang itu adalah sepeda yang banyak diminati orang karena memang saat itu hanya dijual dalam jumlah sedikit.

Sebenarnya sejak awal aku dan ibu tidak setuju dengan keinginan ayah karena merasa rumah kami sudah terlalu penuh jika harus menambah barang lagi. Selain itu, aku takut sepeda itu tidak akan terpakai. Namun, melihat keinginan ayah yang sangat kuat membuatku dan ibu menyetujuinya.

Akhirnya siang itu juga aku melakukan pemesanan. Padahal biasanya ketika ayah memintaku melakukan pemesanan suatu barang, aku akan melihat secara detail toko tersebut sebelumnya, apakah sudah ada testimoni dari orang atau berapa jumlah pembeli yang sudah pernah melakukan transaksi dengan toko itu. Namun, entah mengapa, mungkin juga karena aku sudah terlalu malas membahas sepeda, aku langsung pesan dan pergi untuk melakukan pembayaran yang nominalnya tidak sedikit, yaitu hampir 9 juta rupiah. 

Sepulang dari ATM aku memberi kabar penjual jika pembayaran sudah selesai dan meminta agar barang segera dikirim. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar pukul 3 sore, kulihat telpon genggam ayah berdering. Sebuah no telpon tak dikenal memanggil. Ternyata itu adalah penjual sepeda, yang sejak tadi sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan. Ia meminta agar aku membuka sebuah link yang ia kirim dan mengisi alamat rumah dengan alasan untuk mempermudah pengiriman. 

Ia menghubungiku di luar percakapan aplikasi sehingga aku meminta agar pembicaraan dilakukan via pesan aplikasi saja. Ia menolak dengan alasan fast respon melalui pesan di luar aplikasi. 

Aku mulai curiga, tetapi ntah karena terhipnotis atau memang akibat panik penipu terus mengirim pesan tanpa jeda membuatku tidak bisa berpikir jernih, diriku tetap membuka link yang ia kirim. Kuisi link tersebut beberapa kali, tetapi selalu muncul tulisan gagal mengirim. 

Semakin curiga akhirnya aku menghubungi CS online shop tersebut, dengan penjual yang masih terus mengirim pesan dan mencoba menelponku. Dari perbincangan itu aku mengetahui jika itu adalah penipuan. 

Orang tersebut sudah memasuki akun google dan juga akun online shop milik ayah. Dari yang kuperhatikan ia berencana menguasai seluruh akun google agar aku tidak bisa melakukan pelaporan. ia juga sudah mendaftarkan norek miliknya  agar uang pengembalian terkirim ke norek tersebut.

Aah saat itu aku benar-benar merasa pusing, pikiranku tentang sidang esok hari juga sudah hilang. Otakku seperti berputar lebih cepat memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan akun-akun milik ayah agar tidak disalahgunakan, serta uang yang sudah terkirim dengan jumlah yang tidak sedikit itu. Kuhubungi CS online shop berkali-kali hingga malam tiba untuk memastikan laporanku sudah diterima dan ditindak lanjut. 

Entah siapa yang sebenernya salah dalam kejadian ini, tetapi tetap saja aku merasa ini semua salahku dan aku harus bertanggung jawab. Terbesit dalam pikiranku, "Jika saja ayah tidak terburu-buru dalam membeli sesuatu, jika saja aku tidak terlalu menanggapi permintaan ayah, jika saja aku tidak mengisi link yang dikirim, jika saja, jika saja.. aahh lagi-lagi jiwa manusiawiku keluar. Rasanya aku ingin menyalahkan apa yang sudah terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Saat itu aku tidak tau bagaimana nasib uang tersebut, mengingat dompet digital dan no rekening ayah tidakku daftarkan. Hanya norek penipu yang terdaftar sebagai rekening utama tanpa bisa kuubah meski sudah mencoba. 

Aku merasa seperti sudah tidak ada harapan. Melihat tidak ada lagi hal yang bisa kulakukan sebagai manusia, cepat-cepat aku beristighfar. Aku ingat bahwa semua yang terjadi sudah dibawah rencana Allah SWT dan sudah diatur oleh -Nya. Buru-buru aku katakan pada diriku untuk tidak menyalahkan siapapun dan lebih baik fokus mencari jalan keluar.

Mengingat jika besok aku akan melaksankan sidang ayah berkata padaku, "Udahlah ga usah dipikirin kalo rezeki ga kemana uang insyaallah bisa dicari lagi. Kamu sekarang fokus aja ke sidang besok," katanya. 

Benar juga perkataan ayah, kalau rezeki uang itu pasti kembali. Namun, tetap saja aku tidak bisa tenang. Malam itu aku tidak bisa tidur, mungkin aku hanya bisa memejamkan mata selama dua jam. Begitu juga dengan ayahku. Hal tersebut karena setelah melapor dengan berbagai cara, kami belum mendapat kepastian apakah uang itu masih bisa diharapkan atau memang sudah terkirim ke rekening penipu.  

Pagi pun tiba, aku memutuskan membuang jauh jauh pikiran tentang kejadian semalam untuk sementara. Aku fokus pada materi Tugas Akhir karena jadwal sidangku pukul 10.30 WIB. 

Detik-detik sebelum sidang kuisi dengan berdoa dan berzikir seperti yang disarankan salah satu kakak tingkat yang sangat peduli padaku.

Aku melaksanakan sidang selama kurang lebih 30 menit. Alhamdulillah semua kulalui dengan lancar, meskipun aku sedikit kecewa karena mendapatkan nilai tidak sesuai harapan😔

Selesai sidang badanku terasa lemas, mungkin karena kemarin aku tidak banyak makasn saat berbuka dan hari itu aku memutuskan meneruskan puasa sunah yang memang seharusnya dilaksanakan selama beberapa hari. 

Setelah merapikan laptop dan keperluan sidang lainnya, kembali ayah mendiskusikan kejadian kemarin. Akhirnya ayah memutuskan kembali menelpon CS. Namun, sayangnya CS masih memiliki jawaban yang sama seperti kemarin. Menurutnya itu semua adalah kerja sistem dan mereka tidak bisa menjanjikannya. Mereka juga tidak memberikan kami saran hal apa yang harus kami lakukan jika uang memang sudah hilang.

Percakapan terakhir dengan CS membuat  kami tau bahwa hal yang bisa dilakukan saat itu hanyalah menunggu dan berdoa. 

Hari-hari selanjutnya kami lalui dengan berusaha mengikhlaskan semuanya, tetapi tetap berdoa dan meminta pada Allah diberikan yang terbaik. Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya pada hari perayaan Idul Adha aku menerima pesan jika uang yang kami miliki bisa kembali secara utuh. Alhamdulillah, berkat kebaikan Allah dan usaha maksimal yang kami lakukan uang itu masih menjadi rezeki kami. 

Allah benar-benar maha baik. Meskipun dengan adanya kejadian itu, aku tetap diberi kelancaran dan kemudahan untuk melalui sidang TA. Allah juga masih mengembalikan uang tersebut. Dari kejadian itu aku dan keluargaku lagi-lagi merasa bersyukur karena banyak pelajaran yang Allah SWT berikan pada keluarga kami. Bahwa sesuatu yang terburu-buru sangat tidak baik, sekalipun itu adalah sesuatu yang sangat diinginkan dan mampu untuk didapatkan. Allah juga mengajarkan kami, khususnya diriku, untuk selalu detail dalam segala hal sekalipun sudah sangat malas berurusan dengan hal itu. Mengajarkan kami juga untuk selalu berhati-hati dalam segala hal dan tidak mudah percaya.

Begitulah pengalamanku melewati satu hari sebelum sidang Tugas Akhir. Semua benar-benar di luar dugaan. Aku yang rencananya ingin menenangkan pikiran pada H-1 sidang ternyata malah harus berpikir lebih keras karena kejadian tersebut. Di lain waktu mungkin aku akan menjelaskan secara detail bagaimana proses pelaporan yang aku jalani hingga uang bisa kembali😊


Share:

1 komentar:

tuisi mengatakan...

Alhamdulillah, selalu ada pelaharan disetiap kejadian