Satu hari ayah bercerita padaku bahwa ditengah sakitnya ia merasa sangat ingin marah. Katanya, ntah apa yang membuat ia ingin marah. Namun, selama sakit kulihat ayah begitu sabar, tak ada membentak, semua yang dia inginkan selalu dia sampaikan dengan lembut padaku dan ibu.
Selesai mengimami ibu kudatangi ayah. Kukatakan, " Ayah, kalau ayah mau marah gapaapa dikeluarin aja. Ayah marah aja ke dd. Jangan dipendem yaa. Nanti ayah malah tambah sakit." Tidak ada jawaban darinya. Hanya diam. Yaa dia hanya membisu...
Ayah mulai tidak nafsu makan lagi. Badannya masih konsisten naik turunnya. Kucoba tawarkan sebuah roti pada ayah. Roti manis rasa kismis, "Siapa tau ayah suka, yang penting perutnya terisi," kataku dalam hati. "Ini rotinya lumayan nih,De," katanya.
Ia sempat minta dibelikan sebuah minuman, "Minuman apa sih itu,De yang cokelat gitu. Dulu ayah suka minum deh," katanya. "Apa sih, (kusebut sebuah merek susu) kali ya?" Tanyaku bingung. "Iya coba aja deh ga usah banyak-banyak tapi belinya," mintanya. Akhirnya kubelikan ia susu cokelat berbungkus hijau setelah diminum ia berkomentar, "Dulu kayanya ga kaya gini deh,De," katanya hehe.
Keesokan harinya ibu menyeduh susu rasa vanila, yang di dalamnya terdapat oat, untuk ayah. Masih panas ia langsung menyeruput, "Haduuh panas," katanya sambil bercanda pada ibu. "Ah ayah lagi langsung di minum sih kan udah dibilang masih panas," kata ibu panik. "Tapi enak," jawabnya seperti anak kecil. Saat aku datang ke ruang makan, "Nah ini baru enak nih,De," katanya padaku.😁
Di tengah sakitnya ada juga satu makanan kesukaannya yang ayah minta belikan padaku, "Makan martabak telor enak kayanya nih," kata ayah. Akhirnya kupesan dari aplikasi online, "Yang telor tapi ya,De," kayanya mengingatkanku. Kupesan agar ayah mau makan. Namun, saat tiba hanya 2 buah yang kuat ia makan.
Ku ingat dulu saat kakakku sakit ayah memberikan telur ayam kampung setengah matang untuknya. Maka kutanya apakah ayah mau kubelikan. "Boleh, beliin ayah lima ya," katanya.
Beberapa malam kubelikan ayah telur ayam kampung setengah matang. Kubuka satu per satu butir telur dan kuletakkan di dalam gelas. Setelah itu ayah memakannya dengan lahap. "Dulu ini makanan mahal banget nih waktu ayah muda. Kalo baru gajian langsung deeh beli ginian. Buat ayah makanan mewah banget ini dulu," katanya bercerita.
Hari terakhir makan telur ayah hanya meminta 3 butir. Setelah sudah kusiapkan di gelas ia langsung memakannya pelan-pelan. Sepertinya perut ayah sudah tidak bisa menampung makanan, tetapi ia paksakan untuk menghabiskannya, mungkin agar aku senang.
Tidak lama setelah makan ayah merasa mual. Ternyata makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya kembali keluar. Kubersihkan bekas muntahan ayah. Aah ayah aku benar-benar bahagia bisa mengurusmu di hari hari terakhir. Allah benar-benar mengabulkan doaku selama ini😢
Semakin memburuk ayah tetap menolak dibawa ke rumah sakit. Aku yakin ayah memiliki alasannya sendiri. Maka ku iya kan penolakannya. Sempat ia mau kubawa, tetapi di hari H dia kembali menolak.
Lagi ia mau ke RS. Sepakat juga kami agar ibu yang hari itu masuk kerja akan menunggu di RS dan aku akan ke sana bersama ayah. Namun, pagi harinya ia menolak lagi "Aduh kayanya ini juga udah terlambat banget deh,Yah. Gapaapa ya ke rumah sakit aja. Ayah udah terlalu lama nahan sakit," kataku. Kemudian ayah diam dan berkata, "Nanti dulu lah,De biar ayah pikirin dulu," katanya.
Oh iya, selama di rumah badan ayah memang terlihat lemas, tetapi suaranya masih sama seperti bisa kuatnya. Bahkan tak ada gambaran lemas sedikitpun dari suaranya. Hal itu lah yang selalu membuatku berpikir "Ayah pasti sembuh."
Saat ibu kembali daei tempat kerja, ayah tiba-tiba bilang, "Ayo ke rumah sakit. Kayanya ayah udah ga kuat deh," katanya. Maka kami putuskan berangkat setelah Ashar. Sebelum adzan terdengar ayah duduk di kursi ruang tamu dan aku tiduran di lantai, di depannya. Tiba-tiba ia bilang, "Ternyata hidup sebentar banget ya,De," katanya padaku. Aku yang mendengar hanya terdiam dan menkondisikan pikiranku agar tetap positif.
Sebelum berangkat ayah masih menyempatkan diri memimpin ibu sholat Ashar. Aku yang saat itu sedang berhalangan tiba-tiba saja ingin memotret momen itu. Benar saja ternyata itu lah momen terakhir ayah sholat di istana kami dan mengimami ibu, yang insyaAllah akan menjadi bidadarinya di syurganya Allah. Aamiin ya Rabbal Allamiin.
Setelah semua terlewat aku baru menyadari alasan ayah, yang tidak mau ke rumah sakit, tiba-tiba mengajak. Sepertinya ayah mau pergi ke sana atas keputusannya sendiri agar jika terjadi sesuatu, aku dan ibu tidak merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. Itu sepertinya juga menjadi alasan kenapa ia mau dibawa kerumah sakit. Padahal bisa saja jika ayah kekeh tidak ingin dibawa kami tidak akan membawanya.
Ayaah..setiap jalan yang kau ambil selalu saja alasanya demi kebaikan kami. Terima kasih🤗
To be continue...




0 komentar:
Posting Komentar