Minggu, 27 Desember 2020 aku tak ingat tepat waktunya. Sepertinya saat siang, ayah melakukan panggilan video denganku. Saat itu aku sedang keluar membeli keperluan acara kakakku.
"Lagi di mana,De?" Tanya ayah dengan suara lemah. "Lagi cari sepatu nih biar cepet selesai lah,Yah," kataku. "Udah enak badannya?" Tanyanya khawatir. "Udah,Yah. Ayah gimana?" Kataku. Tak ada jawaban. Lalu ia hanya bilang, "Yaudah hati hati," katanya lemah. "Assalamualaikum wr.wb," tutup ayah. Yaa, itu lah terakhir kalinya mata ini melihat wajah ayah. Yang kuingat wajahnya terlihat begitu berseri. Sangat bersih, wajah ayahku yang tampan. Aah ayahðŸ˜
Saat sedang perjalanan pulang ternyata ayah menelponku berkali-kali. Ketika aku sedang mandi ibu bilang ayah mencariku, "Mana Dd?" Tanyanya. Itu benar2 manjadi salah satu penyesalanku. Aku terlalu memikirkan banyak hal. Kenapa aku harus memaksakan diri pergi saat itu😠Ingin rasanya aku bertanya langsung pada ayah, Marahkah kau padaku,Yah? Maaf ayah😠Namun, kutau semua percuma. Tak akan ada jawaban...
Penyesalanku terbawa hingga ke alam mimpi. Suatu hari ayah datang ke pimpiku. Yang kuingat aku menangis sejadi-jadinya. Di ruang makan rumah kami kupeluk ayah yg hendak pergi,"Maaf,Yah maafiin klo dd belum ucapin maaf ke ayah," kataku di mimpi itu sambil menangis. "Iya gapaapa, gapaapa,De udah yaa, gapaapa," katanya sambil memelukku dan terburu-buru untuk pergi. Ahh mimpi yang membuatku sedikit tenang. Terima kasih,AyahðŸ˜
Sore hari ayah kembali menghubungi ibu. Ia melakukan panggilan video. Ibu memberi semangat pada ayah. Begitu pula ayah, "Ibu kuat, Hanna sama ibu sehat," katanya. "Ayah berangkat dulu ya,Bu. Assalamualaikum wr.wb," tutupnya.
Tak lama ayah menelpon ibu minta diantarkan kartu penduduk dan kesehatannya. Beberapa kali ia hubungi ibu, tetapi hanya ada percakapan singkat di sana. Lebih singkat dari percakapan singkat kami biasanya.
Waktu itu sudah mendekati magrib, saat langit hampir gelap, kuantar itu seorang diri ke rumah sakit. Di tengah lorong yang sepi aku berjalan seorang diri. Aku si penakut merasa seperti sesuatu menemaniku. "Malaikat kah di sampingku," kataku dalam hati saat itu. Ntah lah aku tak tau mengapa bisa tiba-tiba berpikir seperti itu. Aku juga tak tau siapa sebenarnya yg menemaniku berjalan. Namun, aku benar-benar merasakan kehadiran sesuatu saat itu. Saat menuju ruangan dan juga meninggalkan ruangan. Dua-duanya sama2 kurasakan. Saat itu aku tidak merasa takut, hanya pikiranku seperti sedang terbang ntah kemana. Aku sedang bingung saat itu.
Sesampainya di rumah, ibu mendapat telpon dari pihak rumah sakit. Mereka minta agar kami datang ke rumah sakit, "Ada yang mau disampaikan dokter tentang kondisi bapak," kata orang dibalik telpon. Segera setelah ibu melaksanakan sholat kami menuju rumah sakit.
Persis di depan pintu kaca khas rumah sakit kami bertemu dengan dokter yang menangani ayah. Menurutnya, kondisi ayah sedang sangat tidak baik, "Kami akan terus berusaha. Minta doanya saja dari keluarga,"katanya.
Aku tidak terpikir apapun. Kosong. Yaa pikiranku kosong. Yang kulakukan hanya menguatkan ibu yang menagis, "InsyaAllah gapaapa," kataku pada ibu. Setelah itu kami pulang.
Beberapa jam kemudian telpon ibu kembali berdering. Dimintanya kami kembali ke rumah sakit. Buru-buru kami berangkat. Ibu panik, aku berusaha tenang dan menenangkannya. "Gapaapa, gapaapa ya,Bu," kataku. Hanya kata itu yg bisa keluar dari mulutku.
Aku sudah berfirasat. Begitu pula ibu. Saat mengeluarkan motor kakiku tiba-tiba lemas seperti ingin jatuh. Buru-buru kusadarkan diri, "GA..mana boleh lemah di saat seperti ini,Han. Sadar sadar," kataku dalam hati. Saat itu juga ada telpon masuk dari nomor yang sama, langsung kuambil telpon dari tangan ibu. Kudengar orang di sebrang sudah panik. Kukuatkan diriku, "Iya sebentar ya ini udh mau jalan ko," kataku dengan tetap tenang.
Di perjalanan aku sudah tidak bisa merasakan dinginnya angin malam di tengah cuaca mendung. Pikiranku beterbangan kemana-mana. Ntah seberapa cepat motor kukendarai. Yang kuingat berulang-ulang kukatakan dalam hati "Gapaapa, gapapa,Han," sambil tersenyum untuk menguatkan diriku sendiri.
Sesampainya di rumah sakit kulihat suasana sudah berbeda, semua orang seperti berusaha terlihat tenang,. Mungkin agar aku dan ibu tenang. Dipersilakannya kami duduk di ruang tunggu ruangan. Di sebuah sofa berwarna cokelat susu, dokter berbicara pada kami. Aku sudah tau apa yang ingin ia sampaikan. Aku berusaha fokus, tapi pikiranku melayang ntah kemana.
Sambil mendengar penjelasan dokter tanganku dan ibu saling menggenggam. Kuangguk-anggukan kepala pertanda aku paham dengan penjelasannya. Bibirku terus tersenyum selama mendengar penjelasan dokter. Yaa senyumku, caraku menguatkan diri, menyiapkan hati untuk tetap terlihat tegar agar bisa menguatkan ibu. Sambil kukuatkan diriku dari dalam hati, "Takdir..takdir, Han. Ini semua takdir."
Saat siang hari, pulang dari tempat membeli sepatu, di tengah langit yang mendung, sambil mengendarai motor tiba-tiba air mata menetes dengan deras. Aku katakan pada zat yang saat itu hanya bisa mendengar suaraku, "Kalau ayah pergi, saya juga harus pergi ya, ya Allah. Kumohon," kataku sambil menangis. Aku merasa diriku sangat lemah saat itu.
Namun, malam itu berubah. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang ada hatiku terasa lapang. Yaa, Allah menunjukkan kekuasaanya dengan membalikkan hatiku yang lemah menjadi kuat. Dan ibu, sosok yang menjadi alasan pertamaku bisa menjadi realistis, seperti yang ayah harapkan. Masih ada ibu yang harus kujaga. Maka aku bisa tegar.
Aku tidak ingat jelas apa-apa yang dokter katakan padaku. Aku hanya mendengar, "Kami sudah berusaha, Innalillahi wa innailaihi rojiun..." Setelah itu aku lupa lanjutan perkataannya.
Ayah kembali. Yaa, sekitar pukul 20.10 WIB ia yang menjadi sandaran hidupku telah meninggalkanku. Ia pergi bukan tanpa sebab. Ayahku meninggalkanku untuk bertemu zat yang sangat ia cintai (Allah SWT). Selesai semua lika-liku kehidupannya di dunia. Semua kesulitan-kesulitan yang diberikan oleh-Nya juga sudah ia jalani dengan baik. Sudah sembuh semua sakit-sakit yang pahlawanku rasakan. Ayah sudah bahagia, insyaAllah aku yakin itu.
Setelah dokter pergi ibu menangis, keluar semua penyesalan-penyesalannya pada ayah. Langsung kudekap ibuku, kuelus dadanya untuk menenangkan. "Gapaapa, ini memang sudah waktunya ayah pergi. Mana ada ayah merasa seperti itu sama ibu. Ayah selalu bilang ibu itu istri yang hebat. Ayah bangga banget punya istri sepertu ibu. Ikhlas, ikhlas ya,Bu. Kita harus ikhlas biar ayah senang," kataku pada ibu.
Setelah kulihat ibu mulai tenang, segera kuhubungi kakakku.
Kutelpon kakak pertamaku, "Assalamualaikum,Mas." "Waalaikumsalam wr.wb. Kenapa,De?" jawabnya. "Alhamdulillah ayah udh sehat,Mas. Tadi pukul 20.10 Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ikhlas ya,Mas untuk ayah," kataku berusaha tenang agar ia tidak syok.
"Hah, apa? Ga kedengeran,De?" Katanya. Maka kuulangi perkataanku. Setelah terdengar dengan jelas ia hanya diam. "Sekarang dd di mana?" Tanyanya. "Di rumah sakit," jawabku. "Oh yaudah, yaudah yaa," katanya lemah.
Hancur, aku tau hatinya hancur, sama seperti kami. Hanya saja ia yang kukenal, memang tidak suka menunjukkan rasa sedihannya di depan ibu dan adiknya.
Aku menelpon kakak keduaku. Kusampaikan kata-kata yang sama. Perasaanya juga tak karuan, aku tau. Namun, buru-buru ia menguatkanku.
Menurutku kedua kakakku sangat hebat dan kuat. Kesedihan mereka pasti melebihi diriku. Jarak membuat mereka hanya bisa bersua melalui panggilan video di hari-hari terakhir ayah . Terakhir kali kakak pertamaku bertemu langsung dengan ayah sekitar 3 minggu sebelum ayah kembali pada penciptanya.
Lalu kakak keduaku? Ah sudah sangat lama. Dua tahun lalu ketika ibu, ayah, dan aku mengantarnya ke bandara. Yaa, saat ia akan berangkat mencari tantangannya. Tantangan yang pernah ayah ceritakan padaku, ia sangat bangga ketika kakak keduaku memiliki keinginan bekerja di luar pulau Jawa untuk mencari tantangannya.
Di saat terakhir ayah pun mereka tidak bisa bertemu, walau sebatas melihat peti jenazah ayah secara langsung. Kakak pertamaku yang sudah berencana langsung berangkat ke Jakarta, ternyata harus menggagalkan rencananya. Yaa, kondisi yang tidak memungkinkan, belum lagi ia harus mendengar saran sana-sini yang tak bisa kuserap dengan cerdas.
Kemudian kakak keduaku. Ia saat itu juga langsung menuju bandara di Palu dengan perjalanan selama 8 jam dari tempatnya bekerja. Sampai di bandara, ibu bilang padanya agar tak pulang dulu karena percuma tidak akan bisa bertemu kami. Akhirnya tak jadi juga ia kembali.
Selain itu, kabar waktu pemakaman ayah yang simpang siur membuat ia tak jadi kembali. Kalau saja sejak awal dikabarkan akan dimakamkan selepas Dzuhur mungkin kakakku sudah mengikuti proses pemakaman. Namun, semua sudah lewat insyaAllah ayah memahami kondisi yang ada, aku yakin😔
Mereka sedih, yaa sangat sedih. Mereka sangat kecewa dan menyesal dengan keadaan. Aku tau dari mimik wajahnya saat melakukan panggilan video keesokan harinya.
Wajah kakak pertamaku terlihat bengap, seperti orang yang tak tidur dan menangis semalaman. Kulihat ia sedang memeluk kitab suci, sesuatu yang jika dibaca bisa menenangkan hati. Begitu pula dengan kakak keduaku. "Gapaapa dd sama ibu baik-baik aja. Mas ga usah khawatir yaa. InsyaAllah ga ada masalah," kataku meyakinkan.
Selesai menghubungi kedua kakakku, aku menghubungi tante, adik pertama ibu. Maksudku agar ia mengabarkan semua keluarga dari pihak ibu karena dari pihak ayah sudah akan dikabarkan oleh kakak pertamaku.
Malam itu banyak kerabat yang menghubungi telpon genggam ibu dan aku, ntah saudara jauh, saudara dekat, kawan ayah selama bekerja, dan lainnya. Namun, sungguh aku meminta maaf sebesar-besarnya karena tak bisa menjawab semua panggilan. Telpon genggam ibu juga aku pegang. Pikirku agar ia bisa menenangkan diri dulu.
Dari banyaknya sanak saudara yang menghubungi membuat aku sangat senang, karena ternyata masih banyak orang yang peduli dengan kami. Terima kasih🤗
To be continue...



2 komentar:
Nangis bacanya 😠insyaAllah ayah hanna sudah bahagia di surganya Allah aamiinn ❤❤
Aamiin ya rabbal allamiin. Semoga Zii dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan dunia akhirat.. aamiin❤️❤️
Posting Komentar