Senin, 18 Januari 2021

Ayah (Kepergian Terakhir)

Semakin hari kurasa kondisi ayah semakin tidak baik. Meskipun badannya terlihat bugar, tapi ia sering mengeluh badannya terasa lemas. Namun, menurutnya mungkin karena jarang olahraga. Diwaktu bersamaan kakak keduaku meminta agar ayah pergi ke kampung halaman karena sebuah alasan. Ah tidak tidak kakakku sudah beberapa bulan terakhir memang sudah berulang-ulang membicarakan hal itu, tetapi ayah tidak menanggapi karena satu dan lain hal. Namun, di akhir November barulah ayah berencana pergi ke sana. 

Disuruhnya aku berangkat lebih dulu. Sebenarnya sempat ada pro dan kontra tentang apakah lebih baik ayah datang atau tidak. Mengingat kondisi tak memungkinkan akibat pandemi. Namun, setelah hampir tidak jadi berangkat akhirnya ayah memutuskan meneruskan rencana kepergian seperti semula. 

Hari-hari sebelum keberangkatan kudengar jika ayah menyempatkan waktu mengamplas tembok kamar mandi di rumah. Memang sebelum kuberangkat, ayah sudah membicarakan rencana perbaikan kamar mandi. Namun, katanya belum ada setengah ruangan ia kerjakan badannya sudah terasa sangat lemas. Membuatnya menghentikan pekerjaan itu. 

Aku sempat kecewa dengan keputusan ayah karena baru kali ini kulihat ia seperti memaksakan sesuatu. Bahkan yang kutau ayah adalah sosok yang selalu memutuskan sesuatu dengan matang. Jika bertindak maka ia pasti sudah tau akibatnya ke depan. Ia juga sangat memegang prinsip yang ia punya dan tidak pernah goyah dengan saran orang lain. 

Aah ternyata ayah sudah memikirkan itu dengan baik, ia lakukan itu atas kemauannya. Selain karena beberapa pertimbangan dan ingin mengabulkan permintaan anaknya,  mungkin itu adalah feeling ayah sebelum pergi. Benar saja, itu lah terakhir kalinya ayah bertemu dengan ibu, kakak, dan adiknya. 

Meskipun saat pertemuan itu tidak semua menggembirakan. Bahkan ada saja orang yang membuat hati ayah terluka. Namun, yang kutau ayahku adalah sosok pemaaf maka tak pernah ada benci pada diriku atas kejadian itu. Akan tetapi, hal yang membuat ia bahagia dari kepulangannya adalah bisa berdiskusi santai dengan adik-adiknya, menyelesaikan kesalahpahaman yang mungkin saja selama ini ada. 

Ayah berangkat bersama ibu menggunakan mobil tua kesayangan kami. Kijang Jantan 90-an yang dahulu saat pertama beli berwana putih, lalu sekitar 2011  dicat menjadi Abu abu metalic. Mobil ini adalah saksi bisu kehidupan keluarga kami. Menemani setiap perjalanan yang kami lalui.

 Hanya 5 jam waktu yang dibutuhkan ayah hingga sampai ke sana. "Udah lama ga nyetir ternyata ayah kuat juga yaa nyetir lagi. Ga ada rasa cape deh, kaya waktu masih muda aja," kata ayah pada ibu. 

 Selama 4 hari ayah habiskan waktu di kampung halamannya. Setelah itu kami, ayah, ibu, dan aku, kembali ke Jakarta. Selepas subuh kami angkut semua barang ke dalam mobil, setelah itu kami pamit dengan nenek dan kakakku. Tidak lupa kami melipir sebentar ke sebuah anjungan tarik tunai terdekat, mengambil uang untuk membeli bensin. Di tengah jalan sempat kami berhenti untuk mengisi bensin lalu buang air kecil dan melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan ayah juga sempat memutuskan berhenti di sebuah rest area yang tidak telalu aku ingat jelas lokasinya. Yang kuingat saat itu ayah bilang badannya terasa lelah dan ingin beristirahat sebentar, "Tidak seperti biasa," kataku dalam hati. Namun, berusaha kupaksa diriku untuk berpikir positif. Ia turunkan jok mobilnya. Mungkin hanya sekitar 10 menit ayah beristirahat, setelah itu kami melanjutkan perjalanan. 

Kami keluar pintu tol tepat saat adzan zuhur berkumandang. Sejak dulu ayah adalah orang yang sangat tidak ingin tertinggal sholat berjamaah, akhirnya kami berhenti sejenak di masjid yang mungkin hanya berjarak 1,5km dari rumah. 

Namun, aku dan ibu memutuskan untuk sholat di rumah. Kami menunggu ayah di parkiran. Aku yang merasa kekenyangan karena mulutku tak berhenti mengunyah sepanjang pejalanan akhirnya memutuskan keluar dari mobil. Hanya berdiri di samping mobil  sekalian meregangkan otot kaki.

Saat itu kulihat ayah sudah keluar dari masjid. Dia menuju mobil sambil bercanda denganku. Dari kejauhan, meskipun menggunakan masker, kulihat ayah sambil membawa sajadah di tangannya menggodaku dengan muka konyolnya. Dan aku membalasnya dengan wajah yang sama. Aah itu lah candaan kami sehari-hari. 

Sesampainya di rumah ayah langsung meregangkan badannya di atas kursi panjang berwarna cokelat tua di ruang tamu. Kursi itu terbuat dari campuran kayu jati dan mahoni. Kursi yang ia desain sendiri lalu dibuat oleh tukang mabel pilihan ayah. 

Selesai mandi kulihat ia sangat lelah dan tertidur di kursi maka kuturunkan semua barang dari mobil seorang diri. Pelan-pelan kuturunkan barang di lantai agar tidak menimbulkan kebisingan dan membangunkannya. Saat kututup pintu mobil dan masuk ke dalam rumah ternyata ayah sudah bangun dan duduk di kursi itu. Sepertinya ayah terbangun karena suara pintu mobil. "Udah semua neng?" Tanyanya padaku.

Begitu lah kisah kepergian kami. Yaa kepergian yang sudah lama kudambakan karena sudah beberapa tahun kami tidak pernah menyambangi kampung halaman menggunakan mobil tua kesayangan. Kepergian  yang ternyata akan menjadi momen terakhir mobil tua kami dikemudikan oleh pemiliknya. Kepergian yang juga menjadi kisah terakhir perjalanan panjangku bersama ayah di dunia ini.  


To be continue...

Share:

0 komentar: