Kamis, 28 Januari 2021

Ayah (Kembali) part 2

 


Hingga sekitar pukul 11 malam aku hanya berdua bersama ibu. Menunggu di kursi yang sama sampai ayah diletakkan di kamar jenazah. Yaa, dua wanita yang sedang dalam keadaan belum sembuh total dari sakitnya harus saling menguatkan. 

Keadaan membuatku tak pernah berharap seseorang datang untuk membantu atau menguatkan kami. Itu karena aku paham tak memungkinkan untuk sanak saudara datang ke rumah sakit. Mereka hanya bisa memberi semangat kepada kami melalui panggilan telpon. Aku juga merasa bisa melakukan semuanya sendiri dan alhamdulillah nya kami bisa melewatinya berdua. 

Namun, kebingungan mulai muncul saat lokasi pemakaman ayah dikabarkan oleh perawat. Ternyata ayah dimakamkan di daerah Jakarta Barat. Sangat jauh dari jangkauan kami. Awalnya aku ingin memaksakan diri ke sana menggunakan motor. Namun, setelah kupikir sepertinya tidak memungkinkan karena kondisi kami belum sehat benar dari sakit. 

Saat itu kami sangat membutuhkan seseorang untuk menghadiri pemakamkan ayah. Yaa, hanya untuk mengetahui lokasi secara pasti, tidak lebih.

Kuhubungi adik ibu, meminta bantuan agar suami tante bisa hadir ke pemakaman besok. Namun, ternyata suami kedua tanteku sedang dalam keadaan tidak sehat. "Udah, Mba tenang aja biar fokus aja sama yang di sana, masalah ini nanti tante atur insyaAllah pasti ada yang hadir besok," katanya melalui telpon. 

Akhirnya keesokan harinya kedua tanteku lah yang menghadiri pemakaman ayah. Meskipun dengan beberapa hambatan. Kebetulan sekali mobil tanteku sedang rusak karena ada kabel yang digigit tikus. Akhirnya ia mencari mobil yang bisa digunakan. MasyaAllah nya ada teman masa kecil mereka yang menawarkan mobil pribadinya. Salah satu temannya juga bersedia mengantar karena  pernah ke sana dan lebih paham lokasi di sana. Padahal ia bukanlah si pemilik mobil. 

MasyaAllah, dibalik takdir ini terus menerus kami bersyukur pada Nya. Terus menerus Allah tunjukan pada kami orang-orang tulus berhati baik. Janji Allah itu pasti, "Dibalik kesulitan ada kemudahan." Aku merasakannya.

Selama menunggu, beberapa kali kawan ibu datang mengucapkan turut berduka. Saat itu juga sempat kami berbincang singkat dengan perawat dan pekarya yang mengurus ayah. "Alhamdulillah bapak gampang banget,Bu. Tadi abis sholat, terus lg zikir tiba tiba lemes abis itu tiduran langsung ga ada," kata  perawat. "Bersih,Bu badan bapak," tambah pekarya di sana. 

Beberapa minggu setelah kepergian ayah, ibu bertemu dengan bapak yang memandikan ayah, "Bersih banget,Bu badannya. Ga ada kotoran sama sekali, kayanya bapak udah bersih bersih sendiri deh sebelumnya," ceritanya. MasyaAllah di akhir hayatnya pun ayah juga tak merepotkan banyak orang☺️

Meskipun kami tidak bisa melihat secara langsung, tetapi dengan senang hati ada yg mau membantu kami untuk memotret ayah terakhir kalinya. Ketika kulihat beberapa foto ayah setelah dimandikan dan sesudah dikafani benar saja, ayah sedang tidur, tidak tergambar rasa sakit pada wajahnya. Benar-benar seperti ayah saat sedang tidur. Wajahnya bersih. Aku yakin kau pergi begitu tenang ayah. Itu benar-benar membuat kami kuat🤗

Setelah ayah sudah berada di kamar jenazah, aku dan ibu diajak berbincang dengan bapak yang memandikan ayah. Seorang marinir dan ternyata mengenal ayah dengan baik. Ternyata ia adalah seorang ustad. Ia menguatkan kami, meyakinkan semua insyaAllah sesuai syariat Islam. Meskipun mungkin tidak 100% karena keadaan, tapi mendekati. MasyaAllah, lagi dan lagi Allah menunjuk orang baik untuk kami😭

Ketika kami pamit pulang ia bertanya, "Bapak ga ada yang nungguin,Bu?" 

"Ga ada,Pak gimana ya?" Kataku. 

"Yaudah gapaapa, ibu sama adek nya pulang aja. Ada saya sama Pak.....ko jaga malam ini," katanya.

Akhirnya kami pulang. Aku mengendarai motor menembus dinginnya angin malam, di tengah jalanan yang sepi. Kembali kerumah untuk pertama kalinya tanpa ada sosok ayah yang menunggu kepulangan kami. 

Yaa, biasanya ketika aku dan ibu sedang bepergian, selalu ada ayah di rumah yang menunggu kami. Ntah sambil menonton televisi dan duduk di kursi biru nya, atau menunggu sampai tertidur di kamarnya.

Sampai di rumah kukatakan pada ibu, "Malam ini harus tidur yaa. Ga boleh ngga. Biar besok sehat," kataku. "Iya," jawab ibu.

Tak banyak kata keluar dari mulut kami malam itu. Setelah membersihkan badan kami tidur. Namun, malam itu terasa sangat sunyi, tiba-tiba dadaku berdetak dengan kencang. Aku nelangsa seketika. Terputar semua kenangan-kenanganku bersama ayah dalam otak. Aku tak bisa memejamkan mata. Air mata saat itu juga seperti tak bisa keluar, hanya dada yang terasa sesak.

Ibu dan aku tidur di kasur yang sama. Kudengar ibu sudah berdengkur, beberapa menit kemudian kulihat dia sedang termenung. Yaa, kami sama sama tak sanggup memejamkan mata.

Keesokan harinya kami berangkat menuju rumah sakit sekitar pukul 6 pagi. Kukeluarkan motor dan siap berangkat. Ketika melihat ke belakang kulihat para tetangga sebelah rumah keluar melihat kami. Mereka berdiri di depan rumahnya masing masing. Hanya sebagian badannya yang terlihat seperti saling berbaris. Sepertinya suara gerbang memanggil mereka keluar. 

Mereka tak mengatakan apa-apa. Hanya wajah memerah dan air mata yang kulihat di sana. "Minta doa nya aja ya untuk ayah," kataku sambil menyatuhan dua tangan. Mereka membalas dengan anggukan, dua tangan yang disatukan seperti yg kulakukan, dan juga masih dengan air mata di sana.

Setibanya di kamar jenazah, bersama ibu kami kirimkan surah Yasin & tahlil untuk ayah. Saat itu banyak juga kawan ayah dan ibu datang dan mengucapkan bela sungkawa. Sekitar pukul 8 aku keluar kamar jenazah untuk mengurus berkas-berkas ayah. Lalu kami duduk di depan kamar jenazah ditemani kakakku melalui panggilan video. 

Cukup lama kami berada di sana. Banyak juga orang datang mengucap bela sungkawa. Saling bergantian agar tidak berkerumun. Tetap juga dengan menjaga jarak dan protokol kesehatan. 

Mulai dari kawan ibu, kawan ayah di rumah sakit, letnan, kapten, mayor, letkol, kolonel, sampai Danrumkit yang merupakan kepala rumah sakit datang mengucapkan bela sungkawa. 

Ada juga kawan kawan seperjuangan ayah yang sudah mengenalnya sejak masa muda. Meski tidak melihat secara langsung, mereka datang untuk bertemu ayah terakhir kalinya. Juga menguatkan kami yang ditinggalkan.

Aah ayah dulu kau bilang, "Kayanya di sini yang paling ga punya temen ayah doang deh. Kayanya orang ga ada yg mau beteman sama ayah. Gara gara cuek kali ya." 

Padahal setelah kau pergi banyak yang datang ke rumah sakit ingin bertemu denganmu terakhir kalinya. Mereka juga datang untuk menguatkan kami yang kau tinggal. Katanya banyak juga kawan-kawanmu yang datang ke rumah meski pintu tertutup rapat dan tak ada siapapun saat itu. 

Ketika kuumumkan kepergianmu di sosial mediamu banyak kawan lama, mantan anak buah, bahkan seseorang yang satu kali pernah berhubungan denganmu hanya sebatas pembeli dan penjual mengucapkan bela sungkawa. Mereka juga mendoakanmu.

Setelah kau pergi banyak juga yang menghubungi ibu. Mereka menangis. Banyak yang mengatakan rindu dengan suara adzanmu, suara langkah kakimu di pagi hari yang menandakannya untuk segera mengambil air wudhu, candaanmu, nasehatmu, dan semua yang ada pada dirimu. 

Ternyata anggapanmu selama ini salah ayah. Bukan tidak ada teman, tetapi terlalu banyak teman. Hingga banyak orang yang merasa kehilangan sosokmu. 

Sekitar pukul 13.00 aku dan ibu melepasmu. Ambulan yang membawa ragamu berjalan ke luar pelataran kamar jenazah, melewati beliau-beliau yang tadi datang mengucapkan belasungkawa dan juga ikut melepasmu. 

Ayah, kereta kami belum tiba. Tunggu kami di sana yaa. InsyaAllah kita , (Ayah, Ibu, Mas Io, Adek Idhar, Dd Hanna) bersatu dan menjadi keluarga yg utuh lg di syurganya Allah. Alhamdulillah ayah sudah membawa bekal utk di kereta. Kami di sini InsyaAllah akan mengikuti semua kebaikan-kebaikan yg ayah lakukan utk bekal kami di kereta nanti.

Terima kasih ayahku sayang utk semua petuah2 yg selalu kau berikan utk kami anak2 dan istrimu❤️❤️❤️

Ayah pahlawan ibu

Ayah pahlawan Mas Satrio

Ayah pahlawan Adek Idhar

Ayah pahlawan Dd Hanna..

Selamat jalan pahlawan kami🤗🤗🤗

InsyaAllah kita berkumpul lagi di syurganya Allah ya,Yah..Aamiin Ya Rabbal Allamiin🤗

Sampai jumpa kembali,Yah😊

Al-Fatihah🤲🤲🤲

Share:

0 komentar: