Sabtu, 23 Januari 2021

Ayah (Meninggalkan Istana kami)

Sangat sulit bagiku menceritakan kembali kejadian ini, apalagi ini belum genap 40 hari. Bahkan aku merasa ingatanku tentang hari-hari terakhir mulai memudar. Seperti otakku mengerti perasaanku dan secara otomatis ingin menghilangkan ingatan saat itu. 

Sedih juga kembali melanda, tetapi aku ingin menceritakan semuanya di sini. Maka segera kutulis kisah yang sudah lewat itu sebelum ingatanku semakin berantakan. Agar abadi dan bisa kukenang suatu hari nanti. Berharap juga siapapun yang membacanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang kutulis tentang ayah. Mengambil pelajaran juga tentang sikap ayah terhadap anak-anak dan istrinya. Bagaimana ia yang terlihat galak, karena backgroundnya sebagai Marinir, tetapi tetap dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

Sore itu, setelah selesai melaksanakan sholat, akhirnya kami berangkat. Kami menggunakan kendaraan bermotor karena selain ayah, di antara kami bertiga tidak ada lagi yang bisa mengemudikan mobil. Kami memutuskan tidak menggunakan ojek online karena saat itu kupikir akan sulit menemukan driver yang mau mengantar kami ke rumah sakit di masa pandemi. Pemikiranku beracuan dengan pengalaman sulitnya mendapatkan driver saat ingin ke klinik kemarin. 

Pertama aku berangkat mengantar ibu ke IGD. Aku kembali pulang untuk menjemput ayah. Sesampainya di rumah aku pergi ke depan rumah untuk mengambil sendal ayah. Lalu kupakaikan ayah sebuah jaket hitam, "Harus pake jaket,De?" Tanya ayah. "Iya biar ga dingin," kataku. Tubuh ayah sangat lemah bahkan sekadar menggunakan jaket saja ia sudah terlihat tak bertenaga. Saat itu aku ingat ayah menggunakan kaos garis berwarna merah hitam dengan celana blackhawk berwarna cokelat susu. Tak lupa ia gunakan peci hitam di kepalanya.

Sebelum berangkat ayah berkata padaku, "Pelan-pelan aja ya,De," katanya dengan suara pelan. Ketika ia naik ke atas motor sudah tak ada berat yang kurasa. Sepanjang jalan, di bawah cuaca yang kuingat saat itu sedikit mendung, aku mengendarai motor dengan sangat pelan. Namun, kurasa seperti tidak ada penumpang di belakangku. Ayah terasa sangat ringan. Saat di jalan kulihat ayah dari kaca hitam sebuah toko. Ia tertunduk lesu😔

Sesampainya di rumah sakit ibu menyambut kami. Kuturunkan ayah persis di depan pintu IGD. Kulihat ayah merangkul ibu di pundak. Begitu juga sebaliknya, ibu merangkul ayah dipingganya. Aah ternyata itulah pertemuan terakhir si cinta sejati. Raga yang hampir 27 tahun berjuang bersama membangun sebuah keluarga ternyata bertemu untuk terakhir kalinya. Ketika ingat momen itu, aku yang memandanginya dari belakang seperti membayangkan, raga mereka yang saling mendekap seperti sudah mengerti. Mereka seperti sedang saling berpamitan dan berkata, "Terima kasih sudah berjuang bersama. Semua akan baik-baik saja. Akan kutunggu kau dan anak2 di sana, jangan takut," kata raga ayah dalam bayanganku😔

Aku kembali ke rumah menunggu berita dari ibu. Saat langit sudah gelap, setelah adzan magrib berkumandang ibu menghubungiku untuk membawa baju ayah. Kubawa semua perlengkapan-perlengkapan ayah yang sudah disiapkan ibu.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung menemui ayah dan ibu. Mereka berada di depan pintu IGD. Kulihat ayah sedang berbaring ditangani oleh seseorang, ntah ia dokter atau perawat aku tidak bisa mengenalinya karena ia menggunakan APD. Yang kutau dari suaranya ia adalah seorang perempuan. Ayah sudah menggunakan alat bantu napas di hidungnya. Dalam hati aku merasa lega berharap ayah bisa merasa lebih baik.

Mengetahui kedatanganku ayah langsung berkata, "Eeh ada anak cantik," dengan suara yang sangat gembira. Masih tidak tergambar rasa lemas dari suara ayah saat itu. Yaa, panggilan itu lah yang selalu ayah ucapkan ketika baru berjumpa lagi denganku saat bangun tidur, selepas ia kembali dari kantor atau dari bepergian, ketika menghiburku yang datang dari kampus dengan wajah lelah, menghiburku yang sedang  pusing mengerjakan tugas hingga pagi hari, menghiburku ketika semangat mulai memudar, menghiburku untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali 😭

Sejatinya wanita selalu gembira dengan segala pujian , tak terkecuali aku. Aah ayah sungguh putri kecilmu sangat rindu pujianmu. Pujian yang selalu membuatku gembira dan kembali semangat, yang selalu aku rasa tulus, mungkin yang kudengar paling tulus. Sekarang tak ada lagi sosok yang akan memujiku dari hati terbaik. Saat itu lah pujian tulusmu kudengar terakhir kalinya, di saat-saat terakhir aku melihatmu secara langsung. 

Saat baru tiba aku juga bertanya pada ayah, "Udah enakan,Yah?" Namun, ia mendengar aku berkata, "Udah makan,Yah?" Lalu dia membalas, "Ya belum lah,Neng," katanya.

Aku dan ibu sibuk dengan barang ayah. Merapikannya agar ayah mudah mencari sesuatu. Akhirnya ia didorong lebih dulu ke kamar. Beberapa saat kemudian aku dan ibu menyusul. Saat tiba di kamar ternyata kami sudah tidak boleh bertemu ayah. Kemudian kami pulang menuju rumah.

Ibu bercerita padaku saat registrasi ada sebuah kesepakatan antara rumah sakit dan pihak keluarga. Jika pasien pergi dalam keadaan positif atau saat hasil belum keluar maka akan dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Ibu yang gusar mengatakan pada ayah, "Atau pulang aja yuk,Yah." "Gapaapa ayo,Bu tanda tangan aja gapaapa," kata ayah menguatkan ibu. 

Sempat ada pasien yang saat itu sama sama registrasi. Mendengar kesepakatan itu mereka memutuskan kembali ke rumah. Membuat ibu kembali ragu. Namun, lagi lagi ayah meyakinkan ibu untuk menandatanganinya.

Setelah ayah kubawa ke rumah sakit sempat pada malam pertama di rumah sakit telpon genggam ayah tidak dapat kami hubungi. Sepertinya lupa ia nyalakan setelah sebelum berangkat diisi dayanya. 

Keesokan harinya ia menghubungi ibu. Ntah apa yang mereka bicarakan aku lupa. Namun, yang kuingat ia mencariku yang saat itu tak tau sedang mengerjakan apa, aku juga lupa. Kemudian ia memanggil video lagi. Kembali ia mencariku. Saat itu aku bicara padanya. Hanya sebentar. Yaa tidak sampai 5 menit. Dari suaranya aku mulai mendengar kelemahan pada diri ayah. Napasnya sangat pendek. Terdengar sangat lelah. "Lagi apa,De? Udah enakan?" Tanyanya padaku singkat. "Udah, ayah gimana?" Tanyaku. "Lumayan," katanya. "Yaudah yaa, assalamualaikum wr.wb," tutupnya.

Selama di rumah sakit ayah sering bekomunikasi dengan anak-anaknya. Ia lakukan panggilan video juga dengan kedua kakakku yang berada di luar kota. Menurut kakakku, sama seperti ketika berbicara padaku, hanya sebentar. Yaa ayah sudah tidak bisa banyak bicara saat itu.

Setelah telpon genggam ayah kupegang. Saat hatiku sudah mulai kuat, kubuka pesan pesan terakhir yang ayah lakukan. Terdapat beberapa pesan dari tetangga yang cukup dekat dengan ayah. Mereka menanyakan keberadaan ayah karena sudah lama tak mendengar suara azannya. Setelah itu mereka mendokan kesembuhan untuknya, mengataan juga rasanya ingin menjenguk. Mereka rindu dengan suara adzan ayah. Dan kulihat, "Waalaikumsallam wr.wb. Terimakasih doanya pak Haji. Semoga yg saya kerjakan selama ini semata karena Allah," balas ayah pada salah satu pesan. Hatiku bergetar. Aamiin ya rabbal allamiin, semoga semua hal baik yg ayahku kerjakan Kau terima ya Rabb😭

Ternyata bukan hanya kami yang memiliki kenangan tak terlupakan tentang ayah. Orang-orang yang pernah mengenalnya ternyata memiliki kenangan tersendiri tentang ayah. Semoga kenanganmu yang tertinggal di dunia ini bisa membawamu ke tempat tertinggi di sana,Yah.🤗


To be continue...


Share:

0 komentar: