"Di balik kesulitan ada kemudahan" kalimat yang juga selalu membuatku merasa bersyukur pada setiap peristiwa yang kulalui. Aku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada semua pihak yang dengan ketulusan hati turut andil dalam perjalananku melepas ayah.
Kuucapkan pada ibuku, satu-satunya alasan untukku tetap kuat menjalankan kehidupan hingga akhir. Terima kasih sudah menjadi kawanku untuk melalui ini. Meskipun tubuh kami masih begitu ringkih pasca sakit yang juga belum sembuh benar, tetapi atas izin Allah aku dan wanita hebatku bisa melalui ini semua. Atas izin Allah juga aku yakin kami bisa bangkit, kuat, dan melalui sisa-sisa hidup kami dengan baik🤗
Untuk kedua kakak laki-lakiku yang begitu hebat. Jarak yang memisahkan tak menghalangi kami untuk saling menguatkan dari jauh. Terima kasih 🤗
Selama hayatnya ayah selalu memberikan nasehat2 baik pada anak-anak dan istrinya. Pesan ayah, kami harus selalu saling me-support, kompak, saling menyayangi dan menjaga.
Ayah juga sering berkata, "Kalau nanti kamu jadi orang yang berlebih kamu harus membantu saudaramu yang kekurangan, tetapi kalau kamu berkekurangan jangan pernah mengharapkan apapun dari saudaramu yang berlebih," pesannya. InsyaAllah akan selalu kami ingat dan kami jalani.
Kedua tanteku yang menunjukkan kasih sayangnya pada kami. Meskipun kami hanya mengharapkan mereka hadir ke pemakaman untuk mengetahui lokasi, tetapi tanteku memberikan lebih. Mereka tabur makam ayah dengan air mawar dan bunga-bunga. Ia dokumentasikan prosesi pemakaman ayah agar kami yang jauh dapat melihatnya juga. "Alhamdulillah kemarin kita dimudahkan banget deh. Lokasi makam ayah juga deket banget dari jalan besar jd mudah ingetnya," katanya mengabarkan.
Tanpa diminta mereka juga mengirim berbagai macam barang untuk meningkatkan kesehatan aku dan ibu. Aah tante, terima kasih. Sunggu tak ada hal terbaik yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan kalian selain doa pada sang pencipta. Semoga kalian dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Berkah selalu kehidupan kalian di dunia dan bahagia selalu di dunia dan akhirat-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal Allamiin.
Teman masa kecil ibu dan tante juga sangat berperan dalam prosesi ini. Semoga bantuan berupa benda dan tenaga yg kalian berikan menjadi berkah untukmu dan keluarga. Dan semoga Allah membalas lebih dari kebaikan yg kalian beri kepada keluarga kami.
Kudengar satu bulan setelah kembalinya ayah, Pemilik Semesta memanggil kawan ibu yang ikut mengantar ayah. Innalillahi wainnailaihi rojiun.. Semoga kebaikan yang selalu ia tunjukkan pada kawan2nya bisa membawanya ke tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin ya rabbal allamiin.
Aku juga mengucapkan terima kasih pada keluarga besar ayah. Adik, kakak, ibu, dan ponakan2 ayah. Menurutku mereka juga sosok-sosok yang sangat hebat. Allah SWT sedang menaikkan derajat keluarga besar kami dengan mengambil sosok ayah yg kami kasihi. Dia juga menguji dengan sakit yang datang ke tubuh kami. Meski begitu, melalui panggilan telpon kami semua masih saling menguatkan. Terima kasih sudah kuat bersama. Terima kasih juga karena mau saling memahami. InsyaAllah ayah sudah bahagia bertemu Kakung di sana. Ikhlas, kita harus ikhlas🤗
Terima kasih tak terhingga juga kusampaikan untuk semua pihak yang membantu hingga proses pemakaman ayah. Para tetangga yang selalu menguatkan dan membantu mengadakan tahlil hari ke 1-7 hingga 14, meskipun aku dan ibu tak bisa membantu secara langsung. Kawan-kawan dekatku dan semua yang mengucapkan bela sungkawa serta memberikan doa terbaik untuk ayah, yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Serta para tetangga dan sanak saudara yang setiap hari menawarkan bantuan untuk aku dan ibu. Bukan kami menolak, tapi kami sudah terlalu merepotkan dan alhamdulillah meski saling berjauhan kami bisa menghandle kebutuhan rumah dll. Terima kasih tak terhingga untuk kepedulian tulus kalian.
Terakhir kuucapkan terima kasih untuk diriku sendiri. Yaa, untukku. Terima kasih karena diri ini bisa menjalankan tanggung jawab yang diberikan kedua kakakku untuk menjaga & menguatkan ibu dengan baik. Terima kasih karena sudah bisa mengesampingkan kesedihan untuk menguatkan orang-orang yang disayang. Terima kasih karena bisa ikhlas menerima kepergian sosok penting dalam hidupmu. Terima kasih🤗
Kalau kau bertanya bagaimana keadaanku sekarang, jawabannya aku masih bermimpi. Kulalui hari demi hari bagaikan mimpi. Hidupku sangat hampa. Ketika tidur mata ini nggan untuk terpejam, "Sekarang kau sedang apa,Yah?" Pertanyaan yg selalu keluar dalam hati dan selalu dengan air mata. Terputar kenangan-kenanganku bersama ayah ketika mata ini hendak dipenjamkan. Ketika bangun pun tubuh ini rasanya tak juga ingin bangkit. Setiap malam ayah datang ke mimpiku dan aku bangun dengan air mata di wajah. Namun, sayang tak semua mimpi kuingat.
Ayah, ketika aku sedang membaca kitab suci, kuingat saat kau selalu tiba-tiba datang duduk di sebelahku sambil memperbaiki bacaanku. Sekarang setelah kau pergi, di tengah bacaan aku hanya bisa meneteskan air mata. Ketika sedang sibuk membuat masakan di dapur, aku selalu menunggumu datang dan bertanya, "Lagi masak apa,Neng?". Namun, sekarang hanya ada suaramu dalam ingatan. Ketika tengah malam datang selalu kutunggu kau membangunkanku untuk melaksanakan sholat malam, tapi sekarang hanya ada suara alarm yang memanggilku. Saat sedang olahraga di kamar, dari balik cermin selalu kutunggu kau datang dan berkomentar sambil bergurau, "Waduh anak ayah mau jadi atlet nih," katamu sambil tertawa. Sekarang ketika kulihat cermin tak ada dirimu, hanya ada kau di bayanganku,Ayah. Ketika aku sedang memainkan ponselku di kamar selalu kutunggu kau datang mengintip sambil menunjukkan wajah konyolmu, sekarang itu hanya sebuah angan-angan. Ah ayah setiap apa yang kukerjakan selalu hadir wajahmu dalam ingatan.
Aku masih merasa kau ada di sini, Yah. Saat aku baru mengetahui tentang suatu informasi selalu terbesit dalam hati, "Ah nanti mau cerita ke ayah." Namun, buru-buru aku sadarkan diri bahwa sekarang kau sudah tak ada di sampingku lagi😔 Ayah, rasanya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan padamu. Tentang pengalamanku saat karantina, tentang berapa banyak juz Al-Quran yang berhasilku baca hari ini, tentang bagaimana kondisi badanku saat ini, dan banyak lagi.
Mungkin orang melihatku kuat, tapi sebenarnya aku merasa sangat lemah. Aku ikhlas menerima kepergian ayah, hanya tubuhku butuh pembiasaan. Awal kepergian ayah kesedihan selalu kupendam, tak pernah kutunjukkan meski saat sendiri. Itu karena kupikir kesedihanku tak ada artinya. "Yang harus kulakukan adalah menguatkan ibu," kataku dalam hati. Bahkan saat medengar berita kepergian ayah air mataku seperti nggan menetes. Hanya sesekali pipiku basah karenanya.
Hanya saja saat itu tubuhku tak menerima. Ketika kulihat kembali wajah ayah dalam album foto, perutku mual, seperti asam lambungku naik tak tertahankan, kepalaku pusing, badanku lemas. Mungkin itu lah arti kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang tak pernah kukeluarkan.
Semakin hari aku mulai bisa mengendalikan diriku, aku mulai bisa menangis. Beberapa kali aku menangis di depan kakak dan ibuku. Namun, ibu dan kedua kakakku juga merasakan kesedihan yang sama, "Mana boleh aku menambah kesedihan mereka," kataku dalam hati. Maka aku lebih sering meluapkan kesedihanku pada zat yang maha tau. Yaa, ketika tak ada siapapun disampingku dan ketika aku sedang mengahadap Tuhanku maka itulah waktu terbaik untukku meluapkan kesedihan.
Mungkin ada orang yang menilai suatu keikhlasan dari seberapa lama ia menunjukkan kesedihan, tetapi menurutku itu tidak tepat. Seikhlas apapun seseorang ketika orang yang ia sayang pergi, tetap akan ada masa ia akan terus menerus menangis. Kesedihan menghilang bukan sampai rasa ikhlas itu tiba karena ikhlas bisa dirasa bahkan ketika peristiwa masih di depan mata. Aku merasakannya. Namun, kurasa tangisan akan menghilang ketika tubuh sudah siap menerima. Yaa, ketika tubuh terbiasa kupikir tangis juga akan mereda.
Dulu aku selalu bertanya dalam hati, "Kenapa orang yang ditinggal sanak saudara bertemu Rabb nya harus merasa sedih? padahal ia tau orang yang ia sayang sudah bahagia karena tak akan merasakan akhir zaman yang kejam." Namun, setelah aku merasakan ternyata seikhlas apapun melepas sosok yang disayang, semua orang pasti akan meneteskan air mata. Bahkan dari buku yang kubaca, Nabi Muhammad SAW saja masih menangis ketika Khadijah ra, istri tercintanya wafat. Namun, yang dilarang adalah menangis hingga meratap.
Hal yang menurutku berat adalah ketika aku melalui fase pembiasaan. Yaa, sepertinya sepanjang hidupku tak ada sela tanpa sosok ayah di dalamnya. Karena hanya ia yang selamanya akan menjadikankku sebagai prioritas, menerimaku tak kenal waktu, membantuku saat sulit, menemaniku saat takut.
Ah ayah, aku sangat rindu. Sekarang kau sudah pergi. Sudah tak ada lagi laki-laki penjagaku sepanjang masa, tak ada lagi ia yang menjadi tempatku mengadu, yang setia mendengarkan cerita tak pentingku. Ia yang selalu siap membantuku ketika dalam kesulitan dan ketakutan. Saat lemah tak ada lagi sandaranku yang kokoh, tak ada lagi ia yang menjadikan hidupku sebagai prioritasnya, yang memahamiku ketika marah, tetap meyayangiku meski aku sering menunjukkan wajah kesal, yang mendengar keluh kesahku tanpa ada perdebatan. Ayahku yang selalu menerima pendapatku, yang menjadi pembelaku saat keadaan apapun. Ia sudah meninggalkanku sendiri. Yaa sendirian😢
Namun, aku tau kau pergi bukan tanpa alasan,Ayah. Kau tinggalkan aku untuk kembali dan bertemu zat yang sangat kau cintai, Allah SWT. Kau meninggalkanku juga untuk bertemu ayahmu. Selesai sudah kerinduan yang selama ini kau simpan. InsyaAllah sekarang kau sudah bahagia bertemu Kakung yang juga sudah lama menunggumu di sana.
Selama di dunia ayah selalu mengatakan pada anak-anak dan istrinya bahwa tujuan hidup kita di dunia hanya satu, yaitu kampung akhirat. Maka itu membuatku kuat kembali untuk menjalankan sisa-sisa hidupku di sini. Sekarang adalah waktu bagiku untuk menunggu.
Aku akan selalu menunggu waktu itu tiba, Ayah. Yaa, saat-saat ketika ayah menyambutku dan berkata, "Assalamualaikum anak cantik," sambil memelukku dengan erat dan tersenyum dengan sangat gembira😊🤗 .
The End.
0 komentar:
Posting Komentar