Hari demi hari terlewati, ternyata kondisi ayah kulihat tidak semakin membaik. Hari-hari terakhir kami habiskan di istana kami. Aku yang kelelahan juga sempat jatuh sakit. Badanku terasa sangat lemas.
Sempat terjadi sebuah peristiwa di suatu pagi. Aku bangun untuk mengisi daya baterai telpon genggamku. Cepat-cepat kulakukan karena badanku terasa sangat lemas. Selesai aku berbalik untuk menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Tiba tiba "bruuk" kepalaku menghantam sesuatu. Aku langsung tidak bisa melihat apa-apa. Aku mendengar suara ibu. Ah ternyata aku menabrak ibu dengan keras. "Aduuh maaf,Bu maaf dd ga bisa liat,Bu," kataku panik. Malam itu memang aku tidur bersama ibu. Ternyata ketika aku berbalik ibu sedang berjalan keluar kamar dan masih berada di dekatku.
Kejadian itu membuat dada ibu sakit. Namun, setelah diperiksa menurut dokter alhamdulillah hanya memar biasa. Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak berhati-hati :( Akibat kejadian itu membuat aku, ayah, dan ibu sempat beberapa waktu sakit bersamaan.
Aku ingat dengan jelas, ayah yang saat itu juga sedang sakit masih membantuku beraktifitas. Aku sempat tidak nafsu makan. Kemudian ayah datang membawa segelas air. Yaa, setiap aku sakit ayah akan selalu memberiku air doa. Rasa airnya sangat sejuk menurutku. Dibantunya aku utk bangun dari kasur, kemudian ia pegang erat-erat lenganku sambil menegukan air untukku hingga tandas.
Terbaring di kasur, hanya itu yang bisa kulakukan saat itu. Ketika aku, putri satu-satunya, sedang sakit ia lah yang pertama kucari. Aku selalu menunggu tangannya yang sejuk ditempelkan di atas keningku. Ayah lah yang akan paling khawatir ketika aku jatuh sakit.
Pernah suatu hari, saat itu kami pergi bersepeda bersama. Malam sebelumnya aku tidur terlalu larut. Akhirnya sampai di rumah badanku terasa sangat gatal. Muncul bentol besar besar di seluruh tubuhku, "Duh biduran ini mah ya,Bu?" Tanya ayah pada ibu. Dengan segera ia minta air dingin pada ibu dan langsung mengompreskannya ke seluruh tubuhku. Ia terlihat sangat khawatir begitu juga dengan ibu, "Gapaapa nanti sembuh," katanya padaku. Kemudian ia mengajak ibu ke apotek untuk membeli obat.
Ayah, terima kasih untuk kasih sayang yang tak terhingga. Maaf karena aku selalu menjadi anak yang mengecewakan😭
Ketika kami sakit bersamaan ayah juga sempat memapahku keluar rumah. Ia cari lokasi yang leluasa disinari matahari. Kemudian ia tempatkan dua buah kursi di depan kontrakan sebelah rumah kami, meskipun sinar matahari kadang terang kadang mendung. Mungkin 10 menitan kami berjemur di bawah sinar matahari yang tak konsisten itu.
Saat kondisiku masih belum pulih, ketika aku sedang beristirahat dengan ibu di kamarku tiba-tiba ayah datang. Ia juga meletakkan badannya di sebelahku. Saat itu kami berbincang sebentar, ntah apa yang kami bicarakan aku tak ingat jelas. Yang ku ingat ayah memelukku walaupun hanya sebentar, aku protes karena merasa sesak saat itu. Bertahun-tahun hidup bertiga di rumah, kami memang sering menghabiskan waktu bertiga. Terkadang kami berbincang di atas kasur, atau di ruang tamu, kadang juga di ruang makan. Kadang kalau aku dan ibu sedang membahas sesuatu ayah pasti akan bertanya-tanya lalu kami akan bilang, "Apa sih ayah kepo banget deeh," kata kami sambil bercanda. Aaah ayaah aku rindu candaan kita :(
Beberapa hari kemudian badanku terasa mulai membaik. Aku sudah mulai bisa makan. Namun, kulihat kondisi ayah saat itu semakin memburuk. Nafsu makannya masih baik. Beberapa hari kubelikan ia bubur dan sesekali ia minta soto dekat rumah. Ia juga masih rajin berangkat ke musholla saat sholat Fardu. Hanya saja sempat suatu waktu saat pulang dari sana ia bercerita, "Tadi ayah rasanya lemes banget sampai adzan aja ga kuat. Yaudah tak suruh aja lah si...azan. Terus abis itu ayah tiduran sebentar. Kenapa ya? Padahal ayah ga pernahh loh sakit sampai segininya," katanya.
Ayah sejak dulu memang sering mengumandangkan adzan di mushollah dekat rumah kami. Mungkin itu adalah salah satu kegiatan yg ayah jadikan prioritas. Sempat dahulu saat lebaran akan tiba ayah memutuskan agar kami berangkat ke kampung halaman di malam takbiran. Alasannya ia sangat ingin selama di bulan suci tersebut ia lah yang mengingatkan orang2 untuk melaksanakan sholat. MasyaAllah🤗
Saat hari-hari terakhir kuingat ayah masih menggunakan gamis hadiah ulang tahun dari kami anak-anaknya. Kami memberikannyanya telat satu bulan setelah ulang tahun ayah. Yaa ulang tahun terakhirnya. Ia begitu gembira menerimanya. Sampai ia bilang, "Videoin,De kirim ke mas." Dalam videonya itu ia hanya mengatakan, "Terima kasih ya,Dek terima kasih ya," dengan ekspresi kegirangan khas anak2😁
Gamis itu berlengan panjang dengan warna biru langit. Sangking lemasnya sampai ayah berkata, "Ayah pakai gamis panjang itu rasanya kaya berat banget. Sampe ga kuat gitu," ceritanya padaku dan ibu.
Sempat ayah tidak nafsu makan. Ia juga tidak mau kubawa ke dokter. Aku yang mulai gusar menjadi sedikit tegas pada ayah, "Yaudah kalau ayah ga mau ke dokter gapaapa, tapi ayah harus makan biar cepet sembuh," kataku. Sejujurnya aku sangat ingin menangis saat itu. Aku sedih melihat kondisi pahlawan keluargaku yang biasanya selalu kuat terlihat tak berdaya :(
Kuingat sejak saat itu ayah mulai nafsu makan lagi. Biasanya setiap hari aku akan membeli kelapa hijau dan air rebusan cacing untuk ayah. Kudengar itu bagus untuk kesehatan. Ia juga semangat meminumnya.
Tidak ada tanda-tanda membaik, membuatku bersama ibu kembali bertanya pada ayah untuk pergi ke klinik. Ayahpun setuju akhirnya kami pergi ke klinik terdekat. Yang kuingat saat itu setelah selesai diperiksa karena waktu sudah mendekati Adzan Magrib maka ayah putuskan pulang lebih dulu karena aku dan ibu masih mengurus yang lain. Namun, sesampainya aku dan ibu di rumah ternyata adzan belum berkumandang dan ayah masih berada di rumah. Kuketuk pintu rumah dan kudengar suara ayah menyaut ketukanku, "Waalaikumsalam..sebentaaar," dengan nada bercandanya. Dan ia buka pintu dengan senyum di wajahnya. Aah ayah😭
Dokter memberinya banyak jenis obat. Setiap setelah makan kubuka beberapa obat yang harus dimunim saat itu. Ntah kenapa hatiku terluka melihat ia yang selalu terlihat kuat harus meneguk banyak jenis obat dengan ukuran besar. Hatiku semakin hancur saat ia berkata, "Aduh banyak banget neeeng," dengan nada bercandanya yang seperti orang takut. Namun, untuk menguatkannya dan mungkin tanpa kusadari untuk menguatkan diriku sendiri kubilang, "Gapaapa lah kali ini aja biar cepet sembuh."😞
Di tengah ketidak berdayaannya terkadang ayah masih memaksakan duduk dan berdiskusi dengan kami. Banyak hal kami bicarakan, tentang kehidupan dan lainnya. Terkadang saat sedang berada di kamar atau saat ia sedang berada di ruang makan ayah akan memanggilku. Dimintanya aku memijat tubuh dan kepalanya.
Sempat juga ayah menyapu teras rumah dan memanaskan mobil. Aku juga ingat saat itu ia datang ke kamarku mengukur berat badan dan iseng menaiki trimmer yang biasa kugunakan untuk berolahraga.
Ah ayah sepertinya semua sudut di dalam istana kita memiliki kenangan tersendiri tentangmu. Melihat ini itu di dalamnya membuatku semakin rindu padamu😔
Semakin hari bukannya semakin baik, ternyata kondisi ayah tidak berubah setelah dari klinik. Suhu tubuhnya mulai tak karuan, meskipun sudah diberi penurun panas oleh dokter sepertinya tidak berpengaruh. Terkadang suhu tubuhnya sangat dingin, tetapi dengan waktu cepat akan kembali naik dengan drastis. Saat suhu tubuhnya turun ia katakan bahwa badanya terasa sangat dingin. Kusentuh kaki nya dan benar saja. Lalu aku dan ibu langsung memasangkan kaos kaki untuk ayah. Kupasang juga bantal penghangat agar dingin yang ayah rasakan sedikit berkurang. Aku tau ini salah satu tandanya, tapi selalu kutanamkan pikiran2 positif pada diriku.
Badan yang semakin lemas membuat ayah memutuskan sholat di rumah. Biasanya ia akan berjamaah dengan ibu karena aku sedang berhalangan. Saat itu kondisi kubelum pulih 100% sering rasanya kantuk melanda dengan tiba2. Ibupun masih perlu banyak istirahat karena nyeri di dadanya belum sembuh. Namun, kami bisa saling bergantian mengurus ayah. Hebat, aku tau ibuku adalah wanita hebat meskipun nyeri di dadanya masih sangat terasa sakit, tapi ia masih sigap mengurus ayah.
Sesak di dada ayah mulai terasa dan semakin memburuk. Kuingat pada satu malam aku tidak bisa tidur mendengar suara nafas ayah. Ia kesulitan bernafas, membuatku binguh dan sedih. Akhirnya kuputuskan tidur di sofa ruang tamu. Maksudku agar lebih terdengar bagaimana keadaan ayah. Aku bolak balik ke kamarnya saat tiba-tiba suara nafasnya tak terdengar lagi. Satu kali saat kusedang perhatikan ayah, ternyata ayah tidak sedang tidur. Ia sedang memperhatikanku dari kegelapan kamarnya. Kutanya, "Ayah udah enakan?" "Masih sesek," jelasnya.
Pernah aku bertanya pada ayah, "Sesaknya sama kaya waktu asma dulu,Yah?"
"Wah dulu mah lebih parah," jawabnya.
Kulihat juga ia mulai batuk berdahak. Badannya yang lemas membuat ia tidak bisa bolak balik kamar mandi untuk membuang dahak. Maka diberilah ayah sebuah baskom kecil untuk membuang dahaknya. Saat ia duduk di atas kasur, yang memang lumayan tinggi, tak jarang dahaknya terbuang tak tepat tempat. Saat itu ia akan memanggilku dan bilang, "Tolong lap in yaa,De."
Aku ingat, satu hari sebelum berangkat ke rumah sakit, aku memanggil ayah untuk berjemur di luar rumah. Di atas kursi biru, ayah letakkan badanya. Saat itu dibalik rasa lemahnya masih juga ayah tunjukkan kekonyolannya untuk menggoda ibu. Saat aku iseng mengambil foto mereka tiba-tiba ia bercanda dengan memasang wajah lemas dan menyandarkan kepalanya ke badan ibu. Setelahnya ia tertawa. Ayah menggoda ibu karena ibu selalu marah kalau kita foto dengan gaya yang tidak bagus hehe. Aah ayah dibalik rasa lemah yang kaurasakan masih saja kau tunjukkan senyummu untuk menguatkan kami.
Selama sakit aku tau badan ayah terasa lemas, tetapi ayah selalu menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Seakan-akan ia ingin mengatakan pada kami bahwa pahlawan kalian tidak akan pernah lemah pada apapun. Apalagi hanya karena sebuah penyakit. Dari sikap yang ayah tunjukkan selama sakit, ia mengajarkan kami arti kata kuat, ikhlas, dan berserah diri😊💝
To be continue...



1 komentar:
❤❤❤
Posting Komentar