| Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh |
JAKARTA
– “ Jalanan sebagai media bisnis,
jalanan sebagai media ekspresi,” kata
Anto Baret, seniman yang mengabdikan hidupnya membimbing anak-anak jalanan.
”Jalanan mengajarkan pada kita,
‘kamu punya hak untuk menjadi besar di negara
ini,’ ” tambahnya.
Ditemui
dalam acara Malam Indonesia Digdaya, di wilayah Bulungan, Jakarta Selatan,
Selasa (20/02). Anto Baret, pendiri
Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), membagikan alasan mendirikan komunitas untuk
para seniman jalanan tersebut.
“KPJ
berdiri 2 Mei 1982, gelanggang ini fungsinya sebagai pembinaan di bidang olahraga dan kesenian.
Tidak adil kalau hanya yang jelas-jelas identitasnya saja yang dibina, ini
diskriminatif,” katanya.
Anto
mengatakan jika anak-anak jalanan sangat perlu dibina,“ Justru anak-anak jalanan perlu sekali
pembinaan. Di sinilah ada tatanan, di sinilah yang akan berantem kita sediakan
sasana tinju,” jelasnya.
Warung Apresiasi
Wapress
merupakan lokasi yang digunakan sebagai tempat para seniman mengembangkan
kreativitas. Selain itu tempat ini
juga
digunkan sebagai tempat penyelenggaraan acara Malam Indonesia Digdaya. Anto juga
memberikan penjelasannya mengenai warung yang didirikannya, “Ini kita bangun sendiri, beli sound system sendiri, sasana tinju juga.
Untuk mendirikannya kita keluar uang, tapi ngga boleh berpikir uang itu balik karena kita mau apresiasinya,” ungkapnya.
Ia juga
mengatakan warung ini dibangun untuk menjadi tempat menyampaikan apresiasi kreativitas, “Apresiasi itu kalau saya datang, saya duduk,
saya melihat, mendengar, pulang ada yang saya dapatkan. Makanya harus
karya-karyanya sendiri ngga boleh karya orang lain. Jadi, di
warung ini harus menampilkan karyanya sendiri,”
kata Anto.
Sementara itu, Yoyik Lembayung yang merupakan pengggagas
Malam Indonesia Digdaya juga mengatakan jika warung ini dibangun untuk memberi
ruang bagi para pekerja seni,
“Warung Apresiasi didirikan untuk memberi ruang para pekerja seni baik di bidang sastra, film, musik, tari, dan semua
bidang kesenian.
Sebagai ruang alternatif sehingga dapat melahirkan karya-karya yang bisa
menjadi sumber berita,” katanya.
Yoyik
mengatakan jika banyak pekerja seni yang sudah terkenal di dunia hiburan pernah
tampil di warung ini,
“Sampai saat ini banyak teman-teman yang tampil di sini macam ST’12, Nidji,
Reza, segala macam,”
jelasnya.
Malam Indonesia Digdaya
Saat acara berlangsung banyak seniman-seniman jalanan yang menampilkan berbagai
kreativitas yang mereka miliki, seperti puisi dan musik.
Yoyik
menjelaskan, arti dari nama “Digdaya” pada acara
malam itu. Ia mengatakan, jika
arti dari ”Digdaya” adalah kuat, ”Menurut tafsiran saya arti dari Digdaya
adalah kuat, jadi Indonesia itu kuat,” katanya.
Totok Prawoto juga memberikan penjelasannya mengenai Indonesia Digdaya.
Menurutnya “Digdaya” ditunjukkan untuk para wakil rakyat yang memiliki kesaktian, “Digdaya itu berarti wakil rakyat yang wangi,
memiliki ajudan, memiliki jet pribadi, dan mereka itu digdaya atau sakti,” katanya.


2 komentar:
Sangat inspiratif dan memiliki hati yang tulus
betul bangett hehe
Posting Komentar