Kamis, 03 Oktober 2019

Belajar dari Jalanan

Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh

JAKARTA –  “ Jalanan sebagai media bisnis, jalanan sebagai media ekspresi,” kata Anto Baret, seniman yang mengabdikan hidupnya membimbing anak-anak jalanan. ”Jalanan mengajarkan pada kita, kamu punya hak untuk menjadi besar di negara ini,’ ” tambahnya.

Ditemui dalam acara Malam Indonesia Digdaya, di wilayah Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (20/02). Anto Baret, pendiri Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ),  membagikan alasan mendirikan komunitas untuk para seniman jalanan tersebut.

“KPJ berdiri 2 Mei 1982, gelanggang ini fungsinya sebagai pembinaan di bidang olahraga dan kesenian. Tidak adil kalau hanya yang jelas-jelas identitasnya saja yang dibina, ini diskriminatif,” katanya.

Anto mengatakan jika anak-anak jalanan sangat perlu dibina,“ Justru anak-anak jalanan perlu sekali pembinaan. Di sinilah ada tatanan, di sinilah yang akan berantem kita sediakan sasana tinju,” jelasnya.

Warung Apresiasi
Wapress merupakan lokasi yang digunakan sebagai tempat para seniman mengembangkan kreativitas. Selain itu tempat ini juga digunkan sebagai tempat penyelenggaraan acara Malam Indonesia Digdaya. Anto juga memberikan penjelasannya mengenai warung yang didirikannya, “Ini kita bangun sendiri, beli sound system sendiri, sasana tinju juga. Untuk mendirikannya kita keluar uang, tapi ngga boleh berpikir uang itu balik karena kita mau apresiasinya,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan warung ini dibangun untuk menjadi tempat menyampaikan apresiasi kreativitas, “Apresiasi itu kalau saya datang, saya duduk, saya melihat, mendengar, pulang ada yang saya dapatkan. Makanya harus karya-karyanya sendiri ngga boleh karya orang lain. Jadi, di warung ini harus menampilkan karyanya sendiri,” kata Anto.

Sementara itu, Yoyik Lembayung yang merupakan pengggagas Malam Indonesia Digdaya juga mengatakan jika warung ini dibangun untuk memberi ruang bagi para pekerja seni, “Warung Apresiasi didirikan untuk memberi ruang para pekerja seni baik di bidang sastra, film, musik, tari, dan semua bidang kesenian. Sebagai ruang alternatif sehingga dapat melahirkan karya-karya yang bisa menjadi sumber berita,” katanya.

Yoyik mengatakan jika banyak pekerja seni yang sudah terkenal di dunia hiburan pernah tampil di warung ini, “Sampai saat ini banyak teman-teman yang tampil di sini macam ST’12, Nidji, Reza, segala macam,” jelasnya.

Malam Indonesia Digdaya
Saat acara berlangsung banyak seniman-seniman jalanan yang menampilkan berbagai kreativitas yang mereka miliki, seperti puisi dan musik.

Yoyik menjelaskan, arti dari nama Digdaya  pada acara malam itu. Ia mengatakan, jika arti dari Digdaya adalah kuat, ”Menurut tafsiran saya arti dari Digdaya adalah kuat, jadi Indonesia itu kuat,” katanya.

Totok Prawoto juga memberikan penjelasannya mengenai Indonesia Digdaya. Menurutnya Digdaya ditunjukkan untuk para wakil rakyat yang memiliki kesaktian, “Digdaya itu berarti wakil rakyat yang wangi, memiliki ajudan, memiliki jet pribadi, dan mereka itu digdaya atau sakti,” katanya.
Share:

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Sangat inspiratif dan memiliki hati yang tulus

Hanna mengatakan...

betul bangett hehe