Kamis, 03 Oktober 2019

Ubin Rusak Belajar pun Tak Nyaman

Politeknik Negeri Jakarta

Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh
JAKARTA - Kumuh, itulah kata yang dapat menggambarkan ruang kelas 310 yang terletak di lantai tiga, Gedung Z, Teknik Grafika Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Jawa Barat. Kata kumuh melekat pada ruang kelas berbentuk persegi panjang ini karena banyaknya keramik yang retak. Hal tersebut memberi efek ketidaknyamanan pada kegiatan belajar mengajar yang berlangsung setiap harinya.

Ruangan dengan tembok berwarna biru muda dan putih ini berisikan 23 mahasiswa, terdiri dari empat mahasiswa laki-laki dan sembilan belas mahasiswa perempuan. Terdapat beberapa fasilitas di dalam ruangan yaitu 23 kursi belajar dengan meja berwarna cokelat dan alas duduk berwarna hitam, satu buah meja dosen berwarna cokelat, satu buah kursi dosen berwarna biru, dua belas buah lampu yang terdapat dilangit-langit kelas, satu buah papan tulis berbentuk persegi panjang dan berwarna putih, dua buah pendingin ruangan yang menyala dengan baik, dan satu buah jam dinding yang terletak di bagian belakang ruangan.

Aldha, salah satu mahasiswa yang menempati ruangan 310, ditemui pada Rabu (02/01) di ruang sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan TGP, mulai bercerita, “Fasilitas di ruang kelas 310 kursinya enak, ruangannya juga besar, AC (Pendingin Udara) nya ada dua awal-awal super dingin.  Kekurangannya ubin di ruangan ini rusak sejak kita UTS (Ujian Tengah Semester) sekitar bulan Oktober.” Menurut mahasiswa semester tiga ini, Ia dan kawan-kawannya sudah menempati ruang kelas 310 selama hampir lima sampai enam bulan.

” Awalnya waktu lagi UTS hari ke dua tiba-tiba gembung di tengah-tengah dari depan sampai belakang dua baris ubin, abis itu keinjek (terinjak), ada juga beberapa yang ambles (hancur/retak) duluan. Besoknya saya liat sudah dicopot ubin yang retak dari depan sampai belakang itu. ” jelasnya. Ia menambahkan bahwa beberapa ubin yang hancur juga masih ada yang berserakan di tempatnya.

Menurut wanita berambut sebahu ini, hal tersebut mengganggu pemandangan di dalam kelas tersebut, ” Saya merasa ngga nyaman, kadang kalo ngeliat ngerasa jijik aja jadi kumuh karena kan kelasnya jadi kotor ya jadi fokusnya terganggu waktu belajar,” jelasnya.

Selain itu, Renna Yavin, salah satu mahasiswa yang juga menempati ruangan tersebut, ditemui pada Rabu (26/12) memberi tanggapannya, “Aku sendiri juga ngga nyaman dengan keadaan ubin seperti ini, karena temen-temen kan kalau mau salat lepas sepatunya dari kelas biar ga nyempit-nyempitin di mushala. Jadi kalau keadaan ubin seperti ini kan agak bahaya,” katanya.

Tanggapan Dosen
Selain mahasiswa, ditemui pada Rabu (09/01) di ruang 202, lantai dua, Gedung Z Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta, Drs. Djony Herfan, M.Ikom., salah satu dosen  yang mengajar di ruang 310 memberikan tanggapannya, “Ubin yang rusak sebaiknya ada perbaikan segera, “ jelasnya. Ia mengatakan bahwa perbaikan paling lama seharusnya dilakukan dua minggu dan tidak sampai berbulan-bulan. “Itu menunjukan kualitas pekerjaannya, kalau dia itu sejak awal dikerjakannya dengan hati-hati kemungkinan retaknya itu kecil. Kalau toh ada, cuman retak yang ngga terganggu,” tambahnya.

Sama seperti yang dirasakan mahasiswa, dosen pengajar mata kuliah Pengadaan Bahan Berita ini merasa tidak nyaman dengan adanya ubin yang hancur dan retak. Ia merasa hal tersebut dapat berbahaya dan mengganggu kegiatan belajar, ” Keadaan itu membuat tidak nyaman dan tidak aman,” katanya. 

Menurutnya untuk hal ketidakamanan risikonya tidak terlalu tinggi  karena setiap orang yang menggunakan ruangan tersebut beralas kaki, hanya saja membuat tidak nyaman dipandang. “Sangat mengganggu belajar-mengajar karena ketidaknyamanan itu bisa mempengaruhi konsentrasi baik mahasiswa maupun dosennya. Apalagi kalau saya, cenderung kalo ngajar suka jalan, dengan keadaan ubin seperti itu kan langkahnya agak tersendat, itu biasanya mengganggu konsentrasi kan,” tambahnya.

Harapan
Keadaan ubin yang retak sangat berdampak bagi kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas 310, “Semoga kedepan cepet diperbaiki soalnya kan khawatir nanti ada yang luka karena ubinnya retak dan ada pecahan-pecahan,”harap Aldha.

Renna Yavin juga memberikan harapannya, “Segera diperbaiki, karena dilihat di depan sekretaris jurusan itu ubinnya juga retak dan langsung diperbaiki, sedangkan di kelas prosesnya lama,” katanya. Menurutnya  walaupun tidak melapor dosen-dosen yang mengajar juga melihat dan tahu keadaan kelas 310, sehingga seharusnya perbaikan sudah dilakukan.

Selain itu, harapan juga datang dari dosen pengajar yaitu Drs. Djony Herfan, M.Ikom.,” Harapannya segera lah diperbaiki dan SDM (Sumber daya Manusia) -nya itu memberi perhatian pada perlengkapan atau pengadaan fasilitas milik kampus, lebih aktif untuk memberikan pemecahan masalah, jangan hanya menerima saja kalau sampai sekarang tidak diperbaiki,” jelasnya.

Klarifikasi Pihak Direktorat
Pada Rabu (09/01) di Gedung Direktorat, Politeknik Negeri Jakarta, Widodo selaku bagian Rumah Tangga di Politeknik Negeri Jakarta ini memberikan tanggapannya mengenai persoalan tersebut, “Saya sudah survey ke sana (Gedung Jurusan TGP) dua minggu yang lewat, malah sudah ada yang dibenerin, kalo toh masih ada yang belum dikeramik lagi nanti diusulkan kembali, kita hitung lagi berapa keramiknya nantikan yang mengerjakan bagian perlengkapan,” jelasnya.

Ia mengatakan jika pihak Gedung Direktorat sudah memperbaiki beberapa bagian kerusakan ubin di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan seperti misalnya di ruang wakil ketua jurusan, ruang staff administrasi, ruang bengkel, dan ruangan  yang berada di lantai dua. Waktu itu kebetulan saya ada keramik jadi langsung dipasang. Kalau toh memang ada yang belum, memang iya, tapi yang di komplain Pak Sekjurnya sebagian besar sudah diperbaiki,” tambahnya.

Selain itu, ditemui di waktu dan gedung yang sama, Thamrin, selaku staff pengadaan, memberikan tanggapannya, “Tahun lalu untuk masalah ubin, TGP sudah melaporkan, tetapi karena dana masih kepake untuk yang urgent, karena di politeknik ini kan banyak bangunan yang sudah tua. Tahun 2018 aja kita masih kewalahan ngatasin gedung yang bocor karena itu mengganggu kegiatan belajar mengajar,”jelasnya.

Ia mengatakan bahwa ubin akan langsung diperbaiki atau tidak itu hanyalah masalah waktu. Mereka perlu melakukan evaluasi dana yang dibutuhkan. Jika anggara tidak tersedia mungkin akan sedikit tertunda, tetapi jika anggaran masih ada akan segera diperbaiki. “Untuk diperbaiki melalui prosedur dulu, dari tim perencananya mengevaluasi biayanya sekian. Nanti kalau ada uangnya maka langsung di perbaiki,” katanya.

Kalau untuk prioritas ngga ada, tapi kalo misalnya bocor itu kan berefek banget jadi harus langsung ditanggulangi, kalo ubin rusak tidak terlalu berefek jadi masih bisa digunakan. Tapi sebenarnya sih saya berupaya lah supaya semua gedung itu layak dipakai semua,” tambahnya.

Selain itu, untuk permasalahan ubin yang retak di jurusan TGP Ia sudah meminta bagian rumah tangga untuk mengambil alih, tetapi ia tidak mengetahui apakah sudah dikerjakan atau belum, “Saya sudah minta handle ke bagian rumah tangga, kalo memang betul ubinnya banyak yang rusak ya tahun ini lah kita perbaiki sekitar Februari/Maret kalian tenang saja," katanya.
Share:

6 komentar:

Nurnafisah mengatakan...

Ih iya di TGP suka rusak:( kenapa yaaa

author mengatakan...

pernah belajar di ruangan ini dan kesandung lantai yang retak-retak :(, semoga segera diperbaiki deh huhu

Unknown mengatakan...

Bahaya banget nih,bisa melukai orang yang lewat

Hanna mengatakan...

kayanya mahasiswanya bar bar deh hehe

Hanna mengatakan...

Aamiin. untung ga sampai luka

Hanna mengatakan...

iyaa, sebenarnya udh sempat dibenerin, tapi retak-retak lagi :(