Politeknik
Negeri Jakarta
![]() |
| Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh |
JAKARTA - Kumuh,
itulah kata yang dapat menggambarkan ruang kelas 310 yang terletak di lantai
tiga, Gedung Z, Teknik Grafika Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta, Depok,
Jawa Barat. Kata kumuh melekat pada ruang kelas berbentuk persegi panjang ini
karena banyaknya keramik yang retak. Hal tersebut memberi efek ketidaknyamanan
pada kegiatan belajar mengajar yang berlangsung setiap harinya.
Ruangan dengan tembok berwarna biru muda
dan putih ini berisikan 23 mahasiswa, terdiri dari empat mahasiswa laki-laki
dan sembilan belas mahasiswa perempuan. Terdapat beberapa fasilitas di dalam
ruangan yaitu 23 kursi belajar dengan meja berwarna cokelat dan alas duduk
berwarna hitam, satu buah meja dosen berwarna cokelat, satu buah kursi dosen
berwarna biru, dua belas buah lampu yang terdapat dilangit-langit kelas, satu
buah papan tulis berbentuk persegi panjang dan berwarna putih, dua buah
pendingin ruangan yang menyala dengan baik, dan satu buah jam dinding yang
terletak di bagian belakang ruangan.
Aldha, salah satu mahasiswa yang menempati
ruangan 310, ditemui pada Rabu (02/01) di ruang sekretariat Himpunan Mahasiswa
Jurusan TGP, mulai bercerita, “Fasilitas di ruang kelas 310 kursinya enak,
ruangannya juga besar, AC (Pendingin Udara) nya ada dua awal-awal super
dingin. Kekurangannya ubin di ruangan
ini rusak sejak kita UTS (Ujian Tengah Semester) sekitar bulan Oktober.”
Menurut mahasiswa semester tiga ini, Ia dan kawan-kawannya sudah menempati
ruang kelas 310 selama hampir lima sampai enam bulan.
” Awalnya waktu lagi UTS hari ke dua
tiba-tiba gembung di tengah-tengah dari depan sampai belakang dua baris ubin,
abis itu keinjek (terinjak), ada juga beberapa yang ambles (hancur/retak)
duluan. Besoknya saya liat sudah dicopot ubin yang retak dari depan sampai
belakang itu. ” jelasnya. Ia menambahkan bahwa beberapa ubin yang hancur juga
masih ada yang berserakan di tempatnya.
Menurut wanita berambut sebahu ini, hal
tersebut mengganggu pemandangan di dalam kelas tersebut, ” Saya merasa ngga
nyaman, kadang kalo ngeliat ngerasa jijik aja jadi kumuh karena kan kelasnya
jadi kotor ya jadi fokusnya terganggu waktu belajar,” jelasnya.
Selain itu, Renna Yavin, salah satu
mahasiswa yang juga menempati ruangan tersebut, ditemui pada Rabu (26/12)
memberi tanggapannya, “Aku sendiri juga ngga nyaman dengan keadaan ubin seperti
ini, karena temen-temen kan kalau mau salat lepas sepatunya dari kelas biar ga
nyempit-nyempitin di mushala. Jadi kalau keadaan ubin seperti ini kan agak
bahaya,” katanya.
Tanggapan
Dosen
Selain mahasiswa, ditemui pada Rabu
(09/01) di ruang 202, lantai dua, Gedung Z Teknik Grafika dan Penerbitan,
Politeknik Negeri Jakarta, Drs. Djony Herfan, M.Ikom., salah satu dosen yang mengajar di ruang 310 memberikan
tanggapannya, “Ubin yang rusak sebaiknya ada perbaikan segera, “ jelasnya. Ia
mengatakan bahwa perbaikan paling lama seharusnya dilakukan dua minggu dan
tidak sampai berbulan-bulan. “Itu menunjukan kualitas pekerjaannya, kalau dia
itu sejak awal dikerjakannya dengan hati-hati kemungkinan retaknya itu kecil.
Kalau toh ada, cuman retak yang ngga terganggu,” tambahnya.
Sama seperti yang dirasakan mahasiswa,
dosen pengajar mata kuliah Pengadaan Bahan Berita ini merasa tidak nyaman
dengan adanya ubin yang hancur dan retak. Ia merasa hal tersebut dapat
berbahaya dan mengganggu kegiatan belajar, ” Keadaan itu membuat tidak nyaman
dan tidak aman,” katanya.
Menurutnya untuk hal ketidakamanan
risikonya tidak terlalu tinggi karena
setiap orang yang menggunakan ruangan tersebut beralas kaki, hanya saja membuat
tidak nyaman dipandang. “Sangat mengganggu belajar-mengajar karena
ketidaknyamanan itu bisa mempengaruhi konsentrasi baik mahasiswa maupun
dosennya. Apalagi kalau saya, cenderung kalo ngajar suka jalan, dengan keadaan
ubin seperti itu kan langkahnya agak tersendat, itu biasanya mengganggu
konsentrasi kan,” tambahnya.
Harapan
Keadaan
ubin yang retak sangat berdampak bagi kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas
310, “Semoga kedepan cepet diperbaiki soalnya kan khawatir nanti ada yang luka
karena ubinnya retak dan ada pecahan-pecahan,”harap Aldha.
Renna
Yavin juga memberikan harapannya, “Segera diperbaiki, karena dilihat di depan
sekretaris jurusan itu ubinnya juga retak dan langsung diperbaiki, sedangkan di
kelas prosesnya lama,” katanya. Menurutnya
walaupun tidak melapor dosen-dosen yang mengajar juga melihat dan tahu
keadaan kelas 310, sehingga seharusnya perbaikan sudah dilakukan.
Selain
itu, harapan juga datang dari dosen pengajar yaitu Drs. Djony Herfan, M.Ikom.,”
Harapannya segera lah diperbaiki dan SDM (Sumber daya Manusia) -nya itu memberi
perhatian pada perlengkapan atau pengadaan fasilitas milik kampus, lebih aktif
untuk memberikan pemecahan masalah, jangan hanya menerima saja kalau sampai
sekarang tidak diperbaiki,” jelasnya.
Klarifikasi Pihak Direktorat
Pada
Rabu (09/01) di Gedung Direktorat, Politeknik Negeri Jakarta, Widodo selaku
bagian Rumah Tangga di Politeknik Negeri Jakarta ini memberikan tanggapannya
mengenai persoalan tersebut, “Saya sudah survey ke sana (Gedung Jurusan TGP) dua minggu yang lewat, malah sudah ada yang
dibenerin, kalo toh masih ada yang belum dikeramik lagi nanti diusulkan
kembali, kita hitung lagi berapa keramiknya nantikan yang mengerjakan bagian
perlengkapan,” jelasnya.
Ia
mengatakan jika pihak Gedung Direktorat sudah memperbaiki beberapa bagian
kerusakan ubin di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan seperti misalnya di ruang wakil ketua jurusan, ruang staff administrasi, ruang bengkel,
dan ruangan yang berada di lantai dua. ” Waktu itu kebetulan saya ada keramik jadi langsung dipasang. Kalau toh memang
ada yang belum, memang
iya, tapi yang di komplain Pak Sekjurnya sebagian besar sudah diperbaiki,”
tambahnya.
Selain
itu, ditemui di waktu dan gedung yang sama, Thamrin, selaku staff pengadaan,
memberikan tanggapannya, “Tahun
lalu untuk masalah ubin, TGP sudah melaporkan, tetapi karena dana masih kepake untuk yang urgent, karena di politeknik ini kan
banyak bangunan yang sudah tua. Tahun 2018 aja kita masih kewalahan ngatasin
gedung yang bocor karena itu mengganggu kegiatan belajar mengajar,”jelasnya.
Ia
mengatakan bahwa ubin akan
langsung diperbaiki atau tidak
itu hanyalah masalah waktu. Mereka perlu melakukan evaluasi
dana yang dibutuhkan. Jika
anggara tidak tersedia mungkin akan sedikit tertunda, tetapi jika anggaran masih ada akan
segera diperbaiki.
“Untuk diperbaiki melalui
prosedur dulu, dari tim perencananya mengevaluasi biayanya sekian. Nanti kalau
ada uangnya maka langsung di perbaiki,” katanya.
“Kalau untuk prioritas ngga ada, tapi kalo misalnya
bocor itu kan berefek banget jadi harus langsung ditanggulangi, kalo ubin rusak
tidak terlalu berefek jadi masih bisa digunakan. Tapi sebenarnya sih saya
berupaya lah supaya semua gedung itu layak dipakai semua,”
tambahnya.
Selain
itu,
untuk permasalahan ubin yang retak di jurusan TGP Ia sudah meminta bagian rumah tangga
untuk mengambil alih, tetapi ia
tidak mengetahui apakah sudah dikerjakan atau belum, “Saya sudah minta handle ke bagian rumah tangga, kalo
memang betul ubinnya banyak yang rusak ya tahun ini lah kita perbaiki sekitar Februari/Maret
kalian tenang saja," katanya.



6 komentar:
Ih iya di TGP suka rusak:( kenapa yaaa
pernah belajar di ruangan ini dan kesandung lantai yang retak-retak :(, semoga segera diperbaiki deh huhu
Bahaya banget nih,bisa melukai orang yang lewat
kayanya mahasiswanya bar bar deh hehe
Aamiin. untung ga sampai luka
iyaa, sebenarnya udh sempat dibenerin, tapi retak-retak lagi :(
Posting Komentar