![]() |
| Photo by : Google.com |
Ramadan adalah bulan yang sangat
ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Meskipun harus menahan lapar
dan dahaga dikala fajar mulai terbit hingga matahari terbenam, selama satu
bulan, semua orang menyambutnya dengan antusias. Begitu pula dengan keluargaku,
kami sangat gembira dengan datangnya bulan suci ini. Di balik antusias dan
kegembiraan yang dirasakan, ada satu sosok yang bagiku sangat berperan penting
selama kami melaksanakan bulan yang penuh berkah ini. Mungkin sosok ini juga
sangat berperan di setiap keluarga.
Sosok yang menurtku sangat penting ini
adalah wanita yang memiliki kasih dan cinta tulus. Biasanya orang mengatakan
wanita ini memiliki kasih sepanjang masa, ia rela berkorban demi pasangan dan
anak-anaknya. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Ibu”. Ibuku memiliki peran
penting dalam setiap detik di hari yang kami lalui, terlebih ketika
ramadan.
Ramadan tahun ini kami lewati tanpa kedua
kakakku karena mereka harus bekerja di luar kota. Saat langit masih terlihat
pekat dan pengeras suara masjid belum terdengar, ketika aku dan ayah masih asik
menikmati mimpi sisa malam hari, ibuku sudah mulai membuka matanya dan sibuk di
dapur seorang diri.
Sungguh tulus pengorbanan ibu, disaat
raganya sesungguhnya lelah ia masih sempat memikirkan anaknya. Ibu tidak pernah
membangunkanku untuk membantunya mempersiapkan sahur. Ibuku melakukan hal
tersebut karena merasa iba melihat aku sering tidur larut malam untuk mengerjakan
tugas. Di tengah rasa kantuk karena tidak memiliki tidur yang berkualitas, ibu
mempersiapkan makanan sahur untuk kami.
Ibuku adalah alarm pembangun tidur
keluargaku. Semua makanan sudah tersaji dengan rapih di atas meja makan setiap
kubangun. Aku dan kedua kakakku memiliki jarak umur yang tidak terlalu jauh.
Aku ingat ketika aku dan kedua kakakku masih kecil, kami sangat sulit untuk
dibangunkan saat sahur. Akan ada berbagai drama yang terjadi, biasanya kami
akan menangis saat ibu membangunkan. Saat itu menurutku ibu benar-benar sabar
dalam menghadapi anak-anaknya.
Saat azan subuh berkumandang dari
masjid-masjid dekat rumah, ibu mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan
kegiatannya selama satu hari. Setelah salat subuh, saat langit masih berwarna
biru pekat, ibu pergi ke toko sayur dekat rumah untuk membeli kebutuhan berbuka
puasa keluarga kami.
Selain berjuang mengurus keluarga, ibuku
adalah seorang wanita karier. Saat jadwal masuk kerja pagi hari, biasanya ibu
berangkat menuju kantor setelah urusan rumah selesai dan baru kembali ke rumah
pukul tiga sore. Ibuku memiliki sedikit waktu istirahat setelah pulang dari
kamtor untuk selanjutnya melaksanakan kegiatan di rumah.
Berbuka puasa adalah saat yang
ditunggu-tunggu semua umat muslim yang menjalankan puasa. Waktu tersebut adalah
saat kami bisa melepas dahaga dan menikmati berbagai sajian setelah lelah
berpuasa. Biasanya jauh sebelum waktu berbuka puasa tiba, ibu kembali sibuk di
dapur. Ia akan memasak berbagai macam makanan kesukaan kami.
Ibu lebih suka melakukan semua kegiatan
rumah seorang diri. Ketika aku datang untuk menawarkan bantuan, ibu selalu
menolaknya. Sambil bercanda ibu mengatakan kalau aku bukan akan membantunya
tetapi akan mengganggunya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakan kegiatan
yang lain.
Bulan ramadan adalah bulan penuh berkah. Pada
bulan tersebutlah umat Islam berlomba-lomba mendapatkan pahala yang banyak.
Kegiatan ibu tidak hanya bekerja dan mengurus keluarga. Ibu juga melakukan
banyak kegiatan untuk mencari keberkahan bulan suci ini. Selama ramadan ibu
selalu memiliki rencana untuk khatam alquran. Di sela-sela kesibukannya, ibuku
masih menyempatkan waktu untuk membaca berlembar-lembar kitab suci umat islam
tersebut. Ibu juga masih menyempatkan waktu untuk mengikuti salat tarawih
berjamaah di masjid. Biasanya ibu berangkat menuju masjid bersamaku.
Sepulang tarawih dan setelah selesai
membaca alquran adalah waktu untuk ibuku beristirahat. Biasanya ibu
menyempatkan diri untuk menonton televisi dan bercengkerama dengan aku dan
ayah. Jika sudah selesai bercengkerama biasanya ibu akan pergi ke kamar untuk
melepas lelah sebelum kembali melakukan aktivitas di pagi hari.
Betapa besar pengorbanan seorang ibu,
mulai dari membuka mata hingga menutupnya kembali banyak waktu yang dia gunakan
untuk keluarga. Aku merasa ibuku tidak memiliki rasa lelah. Perjuangan ibu
untuk keluarga sangatlah besar, ia sangat berperan dalam kelancaran berjalannya
ramadan di keluargaku. Ia bisa membagi waktu untuk mengerjakan semua pekerjaan
rumah maupun kantor. Ibu juga masih menyempatkan waktu untuk mencari keberkahan
ramadan. Ibuku adalah contoh yang baik untuk masa depanku dalam menggurus
keluarga. Aku berharap bisa memiliki kepedulian dan sikap perjuangan seperti
ibu suatu saat nanti.



1 komentar:
ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
terimakasih ya waktunya ^.^
Posting Komentar