| Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh |
JAKARTA–
“Sebenarnya ketika di buku Sihir Sindir
Yahya sudah punya sesuatu untuk Jampe Sayur Asem, tapi ngga dia manfaatkan. Kalo
dimanfaatkan dia merupakan satu orang penyair Indonesia yang berbicara tentang
sihir Betawi, ngga ada yang bisa mengalahkan,” kata Maman mengkritik penulis
buku puisi Jampe Sayur Asem di gedung
Ex Kodam 505 Jatinegara, Sabtu (23/12).
Dalam
diskusi dan peluncuran buku puisi Jampe
Sayur Asem dan Jantuk perkembangan
dan Pertumbuhan itu Maman banyak memberikan kritikan untuk Yahya Andi
Saputra, penulis kedua buku tersebut. Ia menambahkan kritikan, “Judul bukunya Jampe Sayur Asem, tapi dia menulis isi
buku masih ke sana-kemari,”
katanya.
Selain itu, Maman mengkritik mengenai tidak adanya kata
“Jampe” di dalam buku puisi tersebut,“Ini buku kan judulnya Jampe Sayur Asem, tapi
dia ,Yahya Andi Saputra, malah menggantinya dengan kata “mantra” di dalam buku
ini,” tambahnya.
Menaggapi
kritikan tersebut, Yahya mengaku tidak menyadari telah menggati kata “Jampe”
menjadi “mantra”, “Oh, kalau itu saya ngga sadar dan kurang memperhatikan
kalimat itu,” jelasnya.
Kritik Sam Muchtar Chaniago
Pembicara
dalam diskusi dan peluncuran buku puisi ini dihadiri pula oleh Sam Muchtar
Chaniago. Dia mengatakan puisi yang terdapat dalam buku Jampe Sayur Asem sangatlah menyenangkan karena puisi ini memiliki
rima, ”Saya baca puisi-puisi
di buku ini menyenangkan karena puisinya berima atau memiliki pembuatan
persajakan yang tidak mudah, Yahya sengaja membuat puisi-puisinya punya rima
yang bagus, seperti misalnya puisi Monas
Sehabis Hujan,” katanya.
Selain itu, Sam juga mengkritik mengenai tema hujan di
dalam puisi Yahya, “Ada banyak puisi yang mengangkat tentang hujan. Hujan itu kan dianggap sebuah berkah, tapi di
dalam puisi Yahya banyak tema hujan yang mengartikan kekelaman, walaupun ada
juga yang membahas mengenai keberkahan,” kritiknya.
Menanggapi
hal itu Yahya berkata, “ Ngga tau lah, pokonya kalo saya merasa ada yang melintas, ada
satu kata yang saya dapet misalnya tentang hujan. Saya
langsung buru-buru mencatat kata kuncinya. Jadi ya memang berdasarkan apa yang
saya rasakan saja,” katanya, menjawab kritikan dari Sam.
Di
akhir acara Yahya mengaku senang dapat meluncurkan buku puisi tersebut
sekaligus dapat dikritik langsung oleh kritikus sastra, “Alhamdullilah ya
kawan-kawan saya percaya kepada saya terutama Pak Sam dan Pak
Maman S. Mahayana yang saat ini merupakan orang yang dianggap paling di atas untuk
urusan kritik sastra, jadi ya saya senang,” tuturnya.


0 komentar:
Posting Komentar