Rabu, 02 Oktober 2019

Kritik untuk Jampe Sayur Asem

Photo by : Hanna Kalyca Khoeroh
JAKARTA– “Sebenarnya ketika di buku Sihir Sindir Yahya sudah punya sesuatu untuk Jampe Sayur Asem, tapi ngga dia manfaatkan. Kalo dimanfaatkan dia merupakan satu orang penyair Indonesia yang berbicara tentang sihir Betawi, ngga ada yang bisa mengalahkan,” kata Maman mengkritik penulis buku puisi Jampe Sayur Asem di gedung Ex Kodam 505 Jatinegara, Sabtu (23/12).

Dalam diskusi dan peluncuran buku puisi Jampe Sayur Asem dan Jantuk perkembangan dan Pertumbuhan itu Maman banyak memberikan kritikan untuk Yahya Andi Saputra, penulis kedua buku tersebut. Ia menambahkan kritikan, “Judul bukunya Jampe Sayur Asem, tapi dia menulis isi buku masih ke sana-kemari,” katanya.

Selain itu, Maman mengkritik mengenai tidak adanya kata “Jampe” di dalam buku puisi tersebut,“Ini buku kan judulnya Jampe Sayur Asem, tapi dia ,Yahya Andi Saputra, malah menggantinya dengan kata “mantra” di dalam buku ini,” tambahnya.

Menaggapi kritikan tersebut, Yahya mengaku tidak menyadari telah menggati kata “Jampe” menjadi “mantra”, “Oh, kalau itu saya ngga sadar dan kurang memperhatikan kalimat itu,” jelasnya.

Kritik Sam Muchtar Chaniago
Pembicara dalam diskusi dan peluncuran buku puisi ini dihadiri pula oleh Sam Muchtar Chaniago. Dia mengatakan puisi yang terdapat dalam buku Jampe Sayur Asem sangatlah menyenangkan karena puisi ini memiliki rima, ”Saya baca puisi-puisi di buku ini menyenangkan karena puisinya berima atau memiliki pembuatan persajakan yang tidak mudah, Yahya sengaja membuat puisi-puisinya punya rima yang bagus, seperti misalnya puisi Monas Sehabis Hujan,” katanya.

Selain itu, Sam juga mengkritik mengenai tema hujan di dalam puisi Yahya, “Ada banyak puisi yang mengangkat tentang hujan. Hujan itu kan dianggap sebuah berkah, tapi di dalam puisi Yahya banyak tema hujan yang mengartikan kekelaman, walaupun ada juga yang membahas mengenai keberkahan,” kritiknya.

Menanggapi hal itu Yahya berkata, “ Ngga tau lah, pokonya kalo saya merasa ada yang melintas, ada satu kata yang saya dapet misalnya tentang hujan. Saya langsung buru-buru mencatat kata kuncinya. Jadi ya memang berdasarkan apa yang saya rasakan saja,” katanya, menjawab kritikan dari Sam.

Di akhir acara Yahya mengaku senang dapat meluncurkan buku puisi tersebut sekaligus dapat dikritik langsung oleh kritikus sastra, “Alhamdullilah ya kawan-kawan saya percaya kepada saya terutama Pak Sam dan Pak Maman S. Mahayana yang saat ini merupakan orang yang dianggap paling di atas untuk urusan kritik sastra, jadi ya saya senang,” tuturnya.

Share:

0 komentar: