Sabtu, 12 Oktober 2019

Datang dan Pergi Tanpa Permisi (Part 1)

Photo by : Pinterest


Seorang wanita berbaju hitam terlihat duduk di dalam mobil mewah yang membawanya menuju suatu tempat. Badannya yang kurus dan terurus terlihat letih setelah melakukan perjalanan udara selama belasan jam. Ia baru saja tiba dari negara yang sudah lima tahun menjadi saksi suka duka dirinya dalam mengurus keluarga dan rumah tangganya. Sebenarnya itu bukan kali pertama ia mengunjungi kota yang selalu memiliki tempat terbaik di hatinya. Kota padat penduduk yang selama 22 tahun menjadi saksi bisu masa kecil dan persahabatannya selama kuliah. Hanya saja, setelah menikah dan mengikuti sang suami yang tinggal di negara empat musim itu, ia hanya mengunjungi kota kelahirannya untuk singgah beberapa waktu.

Wajah cantik kuning langsatnya terlihat lebih cerah ketika terkena pantulan sinar matahari pagi yang hangat dari balik kaca mobil. Mata indah bulat miliknya yang terlihat tak bersemangat sibuk menelusuri keadaan di luar mobil, “Tidak ada yang berubah,” ucapnya dalam hati. Sibuk dan berisik mengkin bisa menjelaskan kondisi keramaian jalanan kota itu. Ketika sedang sibuk mengamati, mata itu tiba-tiba tertuju pada keramaian di dalam sebuah bus berisi penumpang yang sedang berdesakan, mereka harus rela berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. “Huft,” wanita itu menarik napas panjangnya. Keadaan itu mengingatkannya pada kejadian sembila tahun silam. Lambat laun ingatan itu kembali berputar bagaikan sebuah film.

“Tolong munduran masih bisa muat ga ya?” ucap seorang wanita kurus berbaju putih hitam dengan wajah pucat pasih. Namun, ucapannya diacuhkan para penumpang di dalam kendaraan berbentuk persegi panjang, berwarna kuning, dan terlihat modern. Meskipun berpenampilan modern, bus tersebut terlihat tidak indah karena dihiasi oleh penumpang yang tidak tertib. Kegarangan saat menaiki dan bertahan di dalam bus membuat mereka sudah tidak terlihat seperti orang yang bersahabat. Namun, mereka tidak bisa disalahkan oleh keadaan ini. Sikap seperti itu mereka lakukan demi bisa sampai ke gedung jurusan masing-masing untuk menerima ilmu. Jika saja pihak kampus memperbanyak armada bus, mungkin mereka akan bersikap lebih bersahabat. 

Para penumpang terlihat seperti tidak peduli atau mungkin tidak mendengar perkataan wanita ini. Mereka sibuk mempertahankan diri di antara sekumpulan manusia yang memiliki tujuan sama, yaitu sampai di halte pemberhentian jurusan mereka masing-masing tepat waktu. Namanya Dahayu, saat itu merupakan hari pertama baginya menjadi seorang mahasiswa. Dahayu adalah salah satu mahasiswa baru Jurusan Teknik, Program Studi Desain Fashion. Ia diterima di Politeknik Negeri Jakarta yang memiliki lebih dari dua puluh jurusan. Jurusan teknik terletak di ujung kampus dan jauh dari tempat pemberhentian kereta.  Dari stasiun perjalanan menuju jurusan hanya bisa ditempuh menggunakan bus gratis yang sudah disediakan. Lokasi kampus yang berdekatan dengan kempus lain membuat mahasiswa harus saling berbagi tempat di dalam bus. Mereka tidak hanya harus berbagi dengan mahasiswa satu kampusnya, melainkan mahasiswa kampus lain yang berdekatan tersebut. Kendaraan lain dilarang melintas di wilayah kampus. Selain dengan transportasi itu, cara lain untuk bisa tiba di gedung jurusan hanya dengan berjalan kaki, tetapi itu akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Dahayu harus tiba tepat waktu sebelum OSPEK dimulai atau ia akan mendapatkan hukuman. Hukumannya tak tanggung-tanggung, berjalan jongkok dari tempat pemberhentian bus hingga lapangan upacara jurusan yang jaraknya lumayan jika ditempuh dengan cara tersebut. Sebenarnya ia sudah berusaha berangkat dari rumah menuju kampus sepagi mungkin. Ia sadar bahwa jarak yang harus ia tempuh tidaklah mudah dan cepat. Namun, ketika akan menaiki bus, badan kurus dan suara lembutnya tidak mampu membantu dirinya agar dapat bergabung di dalam kerumunan mahasiswa. Padahal itu sudah bus keempat yang berhenti di depannya. Tiga bus lain sudah meninggalkannya dan mungkin sudah melewati halte pemberhentian tempat ia turun. Bus-bus itu sudah dipenuhi oleh para mahasiswa dari berbagai jurusan yang ternyata lebih mampu dalam berjuang memperebutkan tempatnya di dalam bus daripada dirinya.

Dahayu hanya bisa terdiam, jantungnya berdetak begitu cepat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin ia menuju lapangan upacara jurusan dengan berjalan kaki karena itu akan memakan waktu lebih lama. Ia membayangkan berjalan jongkok menuju lapangan upacara jurusan bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya yang mungkin juga telat. Itu baru kemungkinan, bisa jadi hari pertama kuliah ini tidak ada mahasiswa baru yang terlambat karena mereka sudah mengantisipasinya. Sikap pemalu membuat ia membayangkan hal-hal buruk yang terjadi. Menurutnya itu pasti menjadi hal yang sangat memalukan. Berjalan jongkok seorang diri menuju lapangan dan ditertawakan para mahasiswa baru yang sudah rapih berbaris di lapangan. Rasa malu itu bisa jadi bertambah jika setelah berjalan jongkok ia harus berdiri di depan barisan mahasiswa baru. Ia akan dijadikan contoh agar esok hari tidak ada lagi mahasiswa yang berani terlambat seperti dirinya. “Matilah aku,” ucapnya dalam hati sambil memejamkan matanya sesaat dengan rasa menyerah.

Bersambung...
Share:

0 komentar: