![]() |
| Photo by : Pinterest |
Seorang
wanita berbaju hitam terlihat duduk di dalam mobil mewah yang membawanya menuju
suatu tempat. Badannya yang kurus dan terurus terlihat letih setelah melakukan
perjalanan udara selama belasan jam. Ia baru saja tiba dari negara yang sudah lima
tahun menjadi saksi suka duka dirinya dalam mengurus keluarga dan rumah
tangganya. Sebenarnya itu bukan kali pertama ia mengunjungi kota yang selalu
memiliki tempat terbaik di hatinya. Kota padat penduduk yang selama 22 tahun
menjadi saksi bisu masa kecil dan persahabatannya selama kuliah. Hanya saja,
setelah menikah dan mengikuti sang suami yang tinggal di negara empat musim itu,
ia hanya mengunjungi kota kelahirannya untuk singgah beberapa waktu.
Wajah cantik kuning
langsatnya terlihat lebih cerah ketika terkena pantulan sinar matahari pagi
yang hangat dari balik kaca mobil. Mata indah bulat miliknya yang terlihat tak
bersemangat sibuk menelusuri keadaan di luar mobil, “Tidak ada yang berubah,”
ucapnya dalam hati. Sibuk dan berisik mengkin bisa menjelaskan kondisi
keramaian jalanan kota itu. Ketika sedang sibuk mengamati, mata itu tiba-tiba
tertuju pada keramaian di dalam sebuah bus berisi penumpang yang sedang
berdesakan, mereka harus rela berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. “Huft,”
wanita itu menarik napas panjangnya. Keadaan itu mengingatkannya pada kejadian sembila
tahun silam. Lambat laun ingatan itu kembali berputar bagaikan sebuah film.
“Tolong
munduran masih bisa muat ga ya?” ucap seorang wanita kurus berbaju putih hitam
dengan wajah pucat pasih. Namun, ucapannya diacuhkan para penumpang di dalam
kendaraan berbentuk persegi panjang, berwarna kuning, dan terlihat modern. Meskipun
berpenampilan modern, bus tersebut terlihat tidak indah karena dihiasi oleh
penumpang yang tidak tertib. Kegarangan saat menaiki dan bertahan di dalam bus
membuat mereka sudah tidak terlihat seperti orang yang bersahabat. Namun,
mereka tidak bisa disalahkan oleh keadaan ini. Sikap seperti itu mereka lakukan
demi bisa sampai ke gedung jurusan masing-masing untuk menerima ilmu. Jika saja
pihak kampus memperbanyak armada bus, mungkin mereka akan bersikap lebih
bersahabat.
Para
penumpang terlihat seperti tidak peduli atau mungkin tidak mendengar perkataan
wanita ini. Mereka sibuk mempertahankan diri di antara sekumpulan manusia yang
memiliki tujuan sama, yaitu sampai di halte pemberhentian jurusan mereka
masing-masing tepat waktu. Namanya Dahayu, saat itu merupakan hari pertama baginya
menjadi seorang mahasiswa. Dahayu adalah salah satu mahasiswa baru Jurusan Teknik, Program Studi Desain Fashion. Ia diterima di Politeknik Negeri Jakarta yang
memiliki lebih dari dua puluh jurusan. Jurusan teknik terletak di ujung kampus
dan jauh dari tempat pemberhentian kereta.
Dari stasiun perjalanan menuju jurusan hanya bisa ditempuh menggunakan
bus gratis yang sudah disediakan. Lokasi kampus yang berdekatan dengan kempus
lain membuat mahasiswa harus saling berbagi tempat di dalam bus. Mereka tidak
hanya harus berbagi dengan mahasiswa satu kampusnya, melainkan mahasiswa kampus
lain yang berdekatan tersebut. Kendaraan lain dilarang melintas di wilayah
kampus. Selain dengan transportasi itu, cara lain untuk bisa tiba di gedung
jurusan hanya dengan berjalan kaki, tetapi itu akan menghabiskan banyak waktu
dan tenaga.
Dahayu harus
tiba tepat waktu sebelum OSPEK dimulai atau ia akan mendapatkan hukuman.
Hukumannya tak tanggung-tanggung, berjalan jongkok dari tempat pemberhentian
bus hingga lapangan upacara jurusan yang jaraknya lumayan jika ditempuh dengan
cara tersebut. Sebenarnya ia sudah berusaha berangkat dari rumah menuju kampus
sepagi mungkin. Ia sadar bahwa jarak yang harus ia tempuh tidaklah mudah dan
cepat. Namun, ketika akan menaiki bus, badan kurus dan suara lembutnya tidak mampu
membantu dirinya agar dapat bergabung di dalam kerumunan mahasiswa. Padahal itu
sudah bus keempat yang berhenti di depannya. Tiga bus lain sudah
meninggalkannya dan mungkin sudah melewati halte pemberhentian tempat ia turun.
Bus-bus itu sudah dipenuhi oleh para mahasiswa dari berbagai jurusan yang ternyata
lebih mampu dalam berjuang memperebutkan tempatnya di dalam bus daripada
dirinya.
Dahayu hanya
bisa terdiam, jantungnya berdetak begitu cepat. Ia tidak tahu harus berbuat
apa. Tidak mungkin ia menuju lapangan upacara jurusan dengan berjalan kaki
karena itu akan memakan waktu lebih lama. Ia membayangkan berjalan jongkok
menuju lapangan upacara jurusan bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya yang
mungkin juga telat. Itu baru kemungkinan, bisa jadi hari pertama kuliah ini
tidak ada mahasiswa baru yang terlambat karena mereka sudah mengantisipasinya.
Sikap pemalu membuat ia membayangkan hal-hal buruk yang terjadi. Menurutnya itu
pasti menjadi hal yang sangat memalukan. Berjalan jongkok seorang diri menuju
lapangan dan ditertawakan para mahasiswa baru yang sudah rapih berbaris di
lapangan. Rasa malu itu bisa jadi bertambah jika setelah berjalan jongkok ia
harus berdiri di depan barisan mahasiswa baru. Ia akan dijadikan contoh agar esok
hari tidak ada lagi mahasiswa yang berani terlambat seperti dirinya. “Matilah
aku,” ucapnya dalam hati sambil memejamkan matanya sesaat dengan rasa menyerah.
Bersambung...



0 komentar:
Posting Komentar